Satu Rumah Dua Luka

Vebrian D. Langkai
Chapter #4

1 House 2 Coffins

Mobil berhenti di depan sebuah pagar hitam yang tinggi. Elang tidak langsung turun.

Ia hanya duduk diam di kursi belakang, memandang rumah di balik pagar itu melalui kaca jendela. Rumah yang sama. Catnya memang sudah berubah. Taman di depan terlihat lebih rapi. Pohon-pohon yang dulu masih pendek kini sudah tumbuh tinggi, sebagian dahannya menjulur melewati pagar. Tapi bentuk rumahnya masih sama. Pintu utama. Jendela besar di ruang tengah. Balkon lantai dua. Bahkan lampu taman di sisi jalan setapak masih berada di tempat yang sama. 

Elang mengenal semuanya. Ia pernah tinggal di rumah itu sejak berusia dua tahun. Sampai akhirnya, ketika usianya 15 Tahum, ia dan Ira berdiri di depan pagar yang sama dengan beberapa tas di tangan. Pratama berdiri di balik pagar. Wajahnya dingin.

“Mau apalagi kalian datang kemari?”

Elang masih remaja waktu itu tidak mengerti harus menjawab apa. Ira hanya menggenggam tangannya.

“Kita udah cerai.”

Suara Pratama terdengar semakin keras.

“Pergi.”

Pagar kemudian ditutup. Elang masih ingat bagaimana ia berdiri di sana. Menunggu. Berharap ayahnya memanggil mereka kembali. Tapi tidak. Tidak pernah.

“Jangan pernah datang lagi !”

Itu kalimat terakhir yang Elang dengar dari ayahnya sebelum mereka pergi. Dan selama bertahun-tahun setelahnya, rumah itu menjadi satu-satunya tempat yang paling ingin ia lihat sekaligus paling ingin ia hancurkan dari ingatannya. Dan kini ia kembali. 

“Semuanya 30 ribu pak!” ujar sopir yang membawa Elang kembali, setelah termenung melihat masalalu.

Elang membayar lalu membuka pintu mobil.

"Makasih ya pak !"

Udara pagi terasa lembap. Ia turun perlahan. Kakinya menyentuh aspal. Ia tidak langsung berjalan. Matanya tetap tertuju pada rumah itu.

Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

“…akhirnya.” Ia menarik napas.

Kemudian melangkah menuju pagar. Seorang petugas membukakan jalan. Begitu masuk, suara orang-orang mulai terdengar. Rumah itu penuh. Orang-orang datang untuk melayat. Sebagian duduk di ruang tamu. Sebagian berdiri di teras. Beberapa berbicara pelan sambil sesekali melirik ke arahnya.

Elang berjalan masuk. Hampir tidak ada wajah yang ia kenal. Dulu rumah ini selalu ramai oleh orang-orang yang bekerja untuk ayahnya. Sekarang orang-orang itu datang untuk mengantar Pratama pergi.

Seorang pria tua berbisik kepada orang di sebelahnya.

“Itu Elang, kan?”

“Iya.”

“Itu Anaknya Pratama?”

"Yang dulu viral”

"Yang kirim karangan bunga"

Elang mendengar. Ia tidak menoleh. Ia sudah terlalu sering mendengar bisikan semacam itu. Langkahnya terus bergerak menuju ruang tengah. Di sana dua peti mati diletakkan berdampingan. Bunga-bunga putih memenuhi sisi ruangan. Foto Pratama dan Lidya diletakkan di atas meja kecil di depan di antaranya ada salib ukuran sedang dan lilin yang menyalah. 27 tahun perbedaan usia cukup kentara. Mereka tampak seperti ayah dan anak daripada pasangan.

Elang berhenti beberapa meter dari sana. Ia menatap foto ayahnya. Tapi tidak ada rasa kehilangan. Yang muncul justru sebuah perasaan aneh.

Rumah itu terasa jauh lebih sempit sekarang. Mungkin karena dulu ia masih kecil.

Elang berdiri di sudut. Jas hitam. Kemeja putih. Wajah tenang. Terlalu tenang.

Ibadah kemudian dimulai. Pendeta berdiri di depan kedua peti. Suara lembutnya memenuhi ruangan.

“Dalam setiap kehilangan, kita sering kali merasa Tuhan begitu jauh…”

Elang menundukkan kepala.

“Namun justru dalam kehilangan, kita diingatkan bahwa kehidupan manusia ada batasnya…”

Suara itu perlahan menjadi samar. Elang memejamkan mata. Dan tiba-tiba ia kembali ke rumah yang sama. Sembilan tahun lalu. Ruangan yang sama.

Dekorasi bunga yang terlihat sama. doa yang hampir sama. hanya saja, waktu itu cuma ada satu peti.

Elana. Kakak Elang.

Elang berusia lima belas tahun. kala itu. Ia masih ingat bagaimana tubuhnya bergetar ketika menangis. Ia berdiri di dekat peti sambil menggenggam tangan Elana yang sudah kaku.

“Kak…”

Suaranya pecah.

“Kak Elana…”

Tidak ada jawaban.

Ira duduk di kursi. Tubuhnya terlihat begitu lemas. Wajahnya pucat. Matanya merah. Tapi tidak ada air mata.

Elang saat itu tidak mengerti. Kenapa Mama tidak menangis? Bukankah Mama kehilangan anaknya?

Lihat selengkapnya