Satu Rumah Dua Luka

Vebrian D. Langkai
Chapter #5

Paper Wills

Sudah cukup lama sejak ibadah selesai, tapi Rian belum juga datang kepadanya untuk membicarakan wasiat. Padahal sejak turun dari mobil pagi tadi, hanya satu hal yang terus berputar di kepalanya.

Rumah itu. Rumah tempat ia dibesarkan. Rumah yang setelah bertahun-tahun, mungkin kembali ke tangannya. Rumah yang mungkin akan menyelamatkannya dari jeruji besi.

Elang melihat Rian akhirnya muncul dari sisi samping rumah.

“Om!”

Rian tidak menoleh.

"Om Rian !" Suara Elang agak keras, tapi tidak berteriak.

Rian menoleh. Elang langsung menghampirinya.

“Om Rian. Bisa bacain sekarang?”

Rian melihat sekeliling.

“Wasiat.”

Rian menghela napas.

“Elang, pemakaman masih berlangsung.”

“Ya tinggal dibaca aja, kan? Apa susahnya sih ?”

“Semua gak sesederhana itu Elang !”

“Kenapa?”

“Karena masih banyak keluarga dan kerabat di sini.”

Elang menahan napas.

“Om, gue cuma mau tahu rumahnya.”

Rian menatapnya beberapa detik.

“Kamu bahkan belum selesai menerima ucapan belasungkawa. Masih ada orang-orang yang cari kamu buat jabat tangan”

“Ya kan gue udah bilang terima kasih dari tadi.”

“Bukan itu maksud saya.”

“Gue cuma… ”

Ia berhenti.

"Terserah om aja deh"

Terlihat mobil patroli berhenti di depan. Seorang Polwan turun. Elang Sempat melihatnya. Ia mengira dialah yang dicari polisi itu. Elang semakin terdesak. Dan Rian memahami maksudnya. Bukan hanya soal rasa penasaran. Elang sedang berada di ujung.

Asetnya hampir habis. Kasus hukumnya belum selesai. Ia tidak punya pekerjaan, tidak punya tempat untuk kembali setelah apartemennya mulai kosong, Ia bahkan hanya bisa tinggal di saba sampai bulan depan. dan sekarang tiba-tiba muncul sebuah rumah yang nilainya mungkin cukup untuk menyelamatkan hidupnya.

Namun sebelum Rian sempat menjawab, seorang pria tua datang menghampiri Elang.

“Lang.”

Elang langsung memasang wajah senyum yang sopan.

“Iya, Om.”

Pria itu memeluknya singkat

“Yang tabah ya nak. Turut berduka.”

“Iya. Terima kasih.”

“Kamu yang kuat.”

“Iya, Om.”

Pria itu masih berbicara beberapa menit tentang Pratama, tentang betapa tidak menyangkanya kecelakaan itu, tentang bagaimana seseorang bisa pergi begitu cepat.

Elang Sesekali mengangguk tapi sebenarnya tak pernah benar-benar mendengarkan.

Begitu pria itu pergi, Elang langsung menoleh lagi ke Rian.

“Sekarang?”

Rian hampir tersenyum.

“Kamu sabar sedikit.”

“Om…” Elang mengembuskan napas. Wajahnya memelas.

“Nanti.”

Elang mengernyit.

“Gue belum ngomong.”

“Saya tahu kamu mau ngomong apa.”

Elang mendengus.

“Ya udah.”

Ia pergi lagi. Rian menggeleng pelan.

Baru beberapa langkah, seorang wanita datang menghampiri Elang.

“Nak Elang !"

“Iya, Bu.”

“Saya sempat lihat kamu di hp”

“Oh.”

“Saya ikut prihatin sama masalah kamu yang kemarin.”

Elang tersenyum tipis.

"Tetap semangat ya, kamu anak baik, pasti ketemu jalan keluarnya."

“Terima kasih.”

“Semoga cepat selesai.”

“Amin.”

"Turut berduka juga"

Elang tersenyum.

Wanita itu pergi. Elang kembali menatap Rian. Rian hanya mengangkat alis.

Hampir satu jam kemudian, akhirnya Rian menyerah. Ia menemukan Elang berdiri sendirian di dekat lorong samping rumah.

“Lang.”

Elang langsung menoleh.

"Sudah waktunya"

Rian menghela napas.

“Lima belas menit.”

Elang langsung mengikuti.

“Apapun yang kamu dengar, jangan potong-potong pembicaraan saya.”

“Siap.”

Rian membawa Elang ke sebuah ruangan kecil di bagian belakang rumah.

Dulu ruangan itu mungkin digunakan sebagai ruang kerja. Sekarang hanya ada sebuah meja kayu, dua kursi, dan lemari tua.

Lihat selengkapnya