Satu Rumah Dua Luka

Vebrian D. Langkai
Chapter #6

A Little Girl Named Elaine

Elang masih berdiri di ambang pintu ketika suara Rian kembali terdengar di kepalanya.

“Kalau tidak ada wali, asetnya akan dibekukan sampai Elaine cukup umur.”

Elaine.

Nama itu terasa asing. Terlalu asing untuk seseorang yang baru saja menjadi alasan seluruh rencana Elang berantakan.

Ia menatap Rian dengan wajah tidak percaya.

“Jadi gue harus ngurus anak sembilan tahun itu?”

“Kalau kamu ingin rumahnya”

“Gue gak mau.”

Ia membuka pintu. Namun sebelum keluar, terdengar suara kecil dari sisi ruangan.

“Mama…”

Elang berhenti. Suara itu tidak keras. Bahkan hampir tenggelam di antara suara orang-orang yang masih berdoa.

Di sudut ruangan, seorang anak perempuan duduk didampingi polwan yang tadi.

Usianya mungkin sembilan tahun.

Tubuhnya kecil tinginya sekitar 130cm. Rambut hitamnya sedikit berantakan, sebagian menutupi wajah. Lengan kirinya dibalut perban putih yang cukup tebal. Ada memar samar di dekat pelipisnya.

Elaine.

Elang belum pernah melihatnya.

Tapi entah kenapa, saat mata mereka hampir bertemu, Elang langsung tahu. Itu dia.Anak yang baru saja disebut Rian.

Anak Pratama dan Anak Lidya.

Elaine tidak memperhatikan percakapan mereka.

Sejak tadi matanya hanya tertuju pada dua peti di ruang tengah.

Ia duduk dengan kedua tangan di pangkuan.

Menangis layaknya anak kecil yang kehilangan orang tua, dua-duanya sekaligus.. Elang memandanginya beberapa detik. Kemudian membuang muka. Bukan urusannya. Ia berbalik lagi. Namun beberapa saat kemudian, suara pendeta terdengar lebih jelas.

“Kiranya keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan penghiburan …”

Elaine mengangkat wajah. Tatapannya berpindah dari satu peti ke peti yang lain. Bibirnya bergerak sedikit.

“Mama…”

Kali ini lebih jelas.

Elang tanpa sadar menoleh.

Elaine berdiri Pelan.

Tidak ada yang menghentikannya. Ia berjalan dengan langkah kecil menuju peti ibu dan ayahnya. Tangannya gemetar. Orang-orang di sekeliling mulai menyadari kehadirannya, dan siapa dia. Beberapa percakapan berhenti.

Elaine berdiri di depan peti. Menatap foto Lidya yang diletakkan di sampingnya.

Suaranya pecah.

“Mama, bangun…” ia menangis sesenggukan.

Tidak ada jawaban. Tentu saja. Elaine menelan ludah .

Ia mengangkat tangannya, lalu menyentuh sisi peti dengan ujung jarinya.

“Ma…” Suaranya semakin kecil.

“Aku di sini.” Ruangan perlahan sunyi.

Pendeta berhenti bicara.

Semua mata tertuju kepadanya. Elaine kemudian menoleh ke peti sebelah.

“Papa…” Ia berjalan satu langkah. “Papa bangun…”

Dan lagi, tidak ada jawaban.

"Kenapa kalian tinggalin aku ?" Tangannya menempel pada peti.

Air matanya jatuh semakin banyak.

“Papa…”

Elaine terisak.

“Jangan tinggalin aku… Elaine janji bakal nurut, Elaine janji gak bakal minta macem-macem”

Kalimat itu membuat beberapa orang menundukkan kepala. Seorang wanita menutup mulutnya. Seorang pria di belakang menghela napas panjang. yang lain terlihat menyeka air mata. Tapi tidak ada yang langsung bergerak. Mungkin karena tidak ada yang tahu harus mengatakan apa kepada seorang anak yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya.

Elang melihat semuanya dari kejauhan. Wajahnya yang tadi penuh keyakinan mendadak kaku. Ia kembali mengingat ucapan Rian. Anak saya dan Lidya. Elang menatap anak itu lebih lama. Kemudian matanya menyipit.

“Jangan bilang…”

Ia menoleh kepada Rian.

"Benar, Itu Elaine, anak Pratama dan Lidya"

Rian tidak menjawab.

Elang kembali menatap Elaine. Tangannya mengepal. Rahangnya menegang. sesuatu yang selama ini terkubur jauh di dalam dirinya tiba-tiba muncul ke permukaan.

Wajah Elana ketika meninggal. Kemudian tangisan bayi yang terdengar dari rumah sakit pada hari yang sama. Anak yang lebih dipilih Pratama.

Elaine.

Meski itu, adalah kali pertama Elang melihat Elaine. Elang tidak pernah benar-benar memisahkan dua peristiwa itu. Dalam pikirannya, semuanya selalu menjadi satu. Kematian Elana dan kelahiran Elaine. Di antara keduanya ada keputusan ayahnya.

Elaine menangis semakin keras.

“Ma… Pa...” Ia memeluk sisi peti. Suaranya nyaris tidak terdengar.

“Aku takut…”

Dua kata itu membuat ruangan terasa semakin berat.

Elang tidak mengenal anak itu. Ia tidak punya hubungan dengannya. Setidaknya itu yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.

Beberapa orang mulai melihat ke arah Elang. Satu per satu. Ada yang menatap dengan iba. Ada yang seperti sedang menunggu. Mereka tahu siapa Elang. Mereka tahu hubungan darahnya dengan anak itu. Dan mereka tahu sekarang hanya ada satu orang dewasa dari keluarga Pratama yang berdiri di ruangan itu.

Elang merasakan tatapan mereka. Seolah semua orang sedang menunggu satu hal yang sama. Apa yang akan dilakukan kakaknya?

Elang menarik napas panjang. Lalu melangkah. Perlahan tetapi pasti. Ia mendekati Elaine yang masih menangis.

Elang berhenti beberapa meter di belakangnya. Tidak mengatakan apa-apa. Tidak memeluk. Tidak menyentuh. Ia hanya berdiri di sana. Ia sama seperti orang lainnya :

Lihat selengkapnya