Satu Rumah Dua Luka

Vebrian D. Langkai
Chapter #7

1 Home 2 Wounds

Sesampainya di rumah Pratama, semua kembali hening. Orang-orang yang tadi memenuhi ruang tamu sudah pergi satu per satu. Kursi-kursi plastik di halaman mulai diangkat. Gelas air mineral bekas tamu ditumpuk di sudut meja. Beberapa bunga ucapan duka masih berdiri di teras, warnanya mencolok di tengah suasana yang muram.

Rumah itu terasa jauh lebih besar ketika tidak ada siapa-siapa.

Elaine langsung duduk di sofa ruang tengah dan melamun. Ia masih mengenakan pakaian hitam yang sama. Lengan kirinya dibalut perban. Memar tipis di pelipisnya belum menghilang. Tangannya terlipat di pangkuan, sementara matanya menatap kosong ke lantai.

Elang tidak memperhatikannya. Ia berdiri di depan sebuah foto keluarga yang tergantung di dinding. Pratama, Lidya dan Elaine. Ketiganya tersenyum ke arah kamera. Elang menatap foto itu cukup lama. Kemudian matanya bergerak ke sisi lain dinding. Tidak ada foto dirinya, Ira atau Elana.

Seolah mereka memang tidak pernah tinggal di rumah itu. Elang mendengus kecil.

"Bagus."

Rian yang sedang membuka beberapa map menoleh.

"Apa?"

"Enggak ada."

Elang masih menatap foto itu.

"Kayaknya gue memang udah dihapus dari sejarah keluarga ini deh."

Rian tidak menjawab. Ia tahu tidak ada gunanya menanggapi kalimat seperti itu.

Rian kemudian mengambil sebuah amplop cokelat tebal dari dalam tasnya. dan beberapa lembar berkas.

"Ini kamu tanda tangan beberapa dokumen. Termasuk surat kuasa dan tanda terima"

Elang menoleh. Ia mengikuti saja apa kata Rian. Ia menandatanganinya satu-persatu.

"Ini uang duka dan uang asuransi. Totalnya dua ratus juta. Tapi saya sudah potong untuk biaya pemakaman dan pembayaran orang-orang yang tadi membantu membereskan rumah. Kwitansinya lengkap terlampir."

Amplop itu disodorkan. Elang menerimanya. Berat.

Ia membuka sedikit bagian atasnya. Uang tunai tersusun rapi di dalam. Untuk pertama kalinya sejak datang, matanya terlihat benar-benar hidup.

Rian kemudian menyerahkan sebuah buku tabungan.

"Ini juga rekening utama milik Pratama."

Elang menerima buku itu.

"Isinya berapa?"

"Terakhir tercatat satu koma tujuh miliar."

Elang langsung mengangkat kepala.

"Satu koma tujuh ya?"

Rian mengangguk.

"Masih ada beberapa rekening lain, tapi saya belum bisa pastikan semuanya. Yang ini yang paling aktif."

Elang menatap buku tabungan itu. Kemudian menatap rumah. Tatapannya berubah. Baru beberapa menit lalu rumah ini hanya tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan buruk. Sekarang rumah itu terlihat seperti angka. Harga. Kesempatan dan jalan keluar.

"Berarti rumah ini nggak perlu dijual."

Rian langsung memotong.

"Uangnya dibekukan."

Senyum Elang sedikit menghilang.

"Apaan?"

"Rekening itu dibekukan.Jadi kamu nggak bisa pakai sesuka hati."

"Loh, kenapa?"

"Karena ada aset anak di dalamnya dan saya juga baru tahu Pratama punya utang. Saya masih mencari dokumen kontrak pinjamannya. Jadi sebelum semuanya jelas, uang itu tidak bisa dicairkan sembarangan."

Elang menghela napas.

"Emang berapa utangnya?"

"Saya belum tahu."

"Om kan pengacaranya."

"Saya pengacaranya, tapi bukan orang yang mengelola semua keuangannya."

"Ya terus selama ini siapa yang ngurus?"

"Lidya."

Elang tertawa pendek.

"halaahh"

Rian mengabaikan sindirannya.

"Kamu mungkin bisa menggunakan sebagian aset setelah status perwalianmu ditetapkan dan setelah semua kewajiban hukum Pratama dihitung."

Elang mengusap wajah.

"Tapi rumahnya bisa gue jual, kan?"

Rian diam sebentar.

"Bisa. Setelah pengadilan menyatakan kamu sah sebagai wali Elaine sesuai wasiat."

Pandangan Elang bergerak ke arah sofa. Elaine masih duduk di sana. Anak itu tidak bergerak sejak mereka tiba. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya sembap. Ia tampak seperti sedang berusaha memahami kenapa rumah yang selama ini ia kenal tiba-tiba menjadi tempat yang asing.

Elang kembali memalingkan wajah.

"Untuk sekarang, yang bisa kamu pakai buat kebutuhan sehari-hari kalian cuma uang duka dan asuransi," kata Rian. "Dan saya rasa itu cukup untuk beberapa waktu."

Elang mengangguk pelan. Kemudian ia melirik Rian.

"Terus Om nggak ambil bagian?"

Rian terlihat bingung.

"Bagian apa?"

"Ya. Komisi, atau apa kek. kali aja dapat warisan juga itu"

"Saya sudah menerima bayaran."

"Oh." Elang mengangguk.

"Yaudah."

Ia menepuk-nepuk amplop uang di tangannya.

"Kalau begitu gue room tour dulu."

Rian mengerutkan kening.

Lihat selengkapnya