Pagi datang pelan-pelan. Cahaya matahari menyusup dari sela tirai ruang tengah, jatuh sebagai garis-garis pucat di lantai.
Elang mengerang pelan. Lehernya terasa kaku. Ia mencoba mengubah posisi, lalu berhenti ketika sesuatu terasa menutupi tubuhnya. Elang membuka mata.
Selimut.
Ia menatap benda itu beberapa detik. Selimut tipis berwarna abu-abu menutupi tubuhnya sampai dada. Elang mengernyit. Ia yakin semalam tidak ada selimut di sofa. Bahkan ia ingat jelas bagaimana dirinya tidur dengan hanya menggunakan bantal.
Ia mengangkat sedikit selimut itu.
"Kok ada selimut..."
Suara sapu terdengar dari arah dapur.
Srek... Srek... Srek...
Elang menoleh.
Elaine sedang menyapu lantai. Rambutnya masih sedikit berantakan. Ia mengenakan kaus longgar dan celana piyama. Gerakannya pelan, tapi teratur. Sampah-sampah kecil dikumpulkan menjadi satu. Ia bahkan memindahkan kursi agar bagian bawahnya bisa disapu, Pelan-pelan nyaris tanpa suara, Ia tak mau Elang terbangun. Tapi Elang sudah bangun dan memperhatikannya dari sofa.
"Lo bangun jam berapa?"
Elaine terkejut. Ia menoleh.
"Kakak udah bangun? Aku nyapunya berisik ya?"
"Jam berapa?"
"Enggak tahu."
Elang melihat jam di ponselnya. Baru pukul enam lewat sedikit.
"Ngapain pagi-pagi?"
Elaine mengangkat bahu.
"Biasanya memang bangun pagi."
Elang melihat lantai yang sudah hampir bersih.
"Tiap hari lo yang nyapu?"
"Iya."
"Siapa yang nyuruh?"
"Enggak ada."
Elang diam.
Elaine melanjutkan menyapu.
Srek.
Srek.
Kemudian ia berhenti. Matanya turun ke selimut yang masih menutupi tubuh Elang. Elang ikut melihat selimut itu.
"Ini lo yang ngasih?"
Elaine mengangguk.
"Semalam Kakak kayaknya kedinginan."
"Gimana lo tahu?"
"Aku bangun pas mau minum."
Elaine menunjuk sofa.
"Kakak tidur sambil menggigil."
Elang menatapnya.
"Terus?"
"Jadi aku ambilin selimut."
"Kenapa enggak bangunin gue?"
Elaine menggeleng.
"Kakak kelihatannya capek."
Jawaban sederhana itu membuat Elang terdiam. Ia tidak terbiasa diperhatikan tanpa diminta. Tidak dari orang yang baru kemarin bahkan ingin ia kirim ke panti asuhan.
Elang melipat selimut itu. Beberapa menit kemudian suara sapu berhenti. Elaine membawa pengki ke dapur.
Elang naik ke atas mengambil Tas dan amplop di kamar Pratama. Lalu terdengar suara minyak mendesis dari arah dapur.
Cesss.
Elang menoleh. lalu turun. Ia berjalan ke dapur.
"Lo ngapain?"
"Bikin sarapan."
Di atas kompor, sebuah wajan kecil berisi telur sedang digoreng. Elaine berdiri di depannya sambil memegang spatula. Ia menginjak sebuah bata sehingga berdiri lebih tinggi. Menghindari pancaran minyak. Ia terlihat serius. Terlalu serius.
"Lo bisa masak?"
"Bisa sedikit."
"Siapa yang ngajarin?"
"Mbok."
Elaine membalik telur. Sedikit terlalu keras. Kuning telurnya pecah. Ia coba membenahinya dengan spatula.
"Mulai besok kita beli, kali ini aja lo masak"
Elaine berhenti sejenak. Ia cemberut.
"Kenapa ?"
"Ya... enggak perlu."
Elaine memperhatikan kuning telur yang pecah.
"Ini telur yang rusak buat aku, kakak ambil yang bagus aja"
"Bukan itu. Lo gak perlu masakin gue. Kalo mau, lo masak makanan buat lu sendiri aja. Ntar gue yang diomelin Rian lagi. Dikira gue exploitasi anak "
Elaine mematikan kompor. Ia terlihat sedih.
"Tapi kalau tinggal serumah, kan bisa makan bareng."
Elang tidak langsung menjawab. Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa terdengar asing. Rumah tidak pernah benar-benar berarti seperti itu. Apalagi setelah Elana sakit-sakitan dan habisin banyak waktu di Rumah sakit. Rumah jadi tempat orang bisa pergi, sementara meja makan bisa menjadi medan perang atau jadi tempat seseorang duduk sendirian menunggu orang lain pulang.
Elaine tetap mengambil dua piring. Ia meletakkannya di meja makan. Seperti tadi malam. Satu di hadapannya, satu lagi di depan Elang.
"Lo anak gundik apa babu sih? Terserah deh."Kata Elang ketus.
Elang berdiri. Acuh dan melakukan stretching sederhana lalu menatap ponselnya.
Sementara Elaine diam mematung di meja makan. Tapi ia paksa memakan makanan yang ada di depannya. Dia diajari Mbok untuk tidak menyianyiakan makanan. Matanya yang masih sembab, terlihat mulai sedikit berair. Di matanya Elang jadi beda dengan Elang yang menjabat tangannya saat di makam.
Sore itu Rian datang. Di ruang tengah, Elang sibuk memasang tenda yang baru saja ia beli . Rian bingung.