Sore itu, rumah Pratama akhirnya tidak lagi terlihat seperti rumah duka. Karangan-karangan bunga yang beberapa waktu lalu memenuhi halaman, sudah diangkut satu per satu. Beberapa bekas potongan pita masih tersangkut di pagar, sementara lantai teras menyisakan noda tanah dari orang-orang yang datang melayat.
Tidak ada lagi suara orang berbisik atau kursi plastik yang berjajar di halaman. Hanya suara burung dari pohon mangga di halaman belakang dan sesekali suara kendaraan dari jalan depan.
Cuaca hari itu cerah. Langit biru, nyaris tanpa awan. Matahari sore jatuh miring melewati jendela ruang tengah, membuat debu-debu kecil terlihat melayang di udara.
Rumah yang sebelumnya dipenuhi tangisan, doa, dan orang-orang yang datang membawa belasungkawa, sekarang kembali seperti rumah biasa. Hanya saja, tuan dan nyonya rumah itu tidak ada yang tersisa.
Pintu terbuka. Siska dan Noula terlihat keluar dari sana. Entah sudah kunjungan ke berapa. Elang mengikuti dari belakang.
"Jadi," Bu Siska menoleh ke arah Elang.
Elang mengangkat wajah.
"Iya bu?"
“Kalau boleh saya usul nih…”
“Boleh silahkan bu ? mau usul apa?”
“Bawa Elaine bermain.”
“Ke mana ya?”
“Ya ke Mall, Nonton, Ahh ada itu taman bermain yang lagi viral tuh yang temanya alam-alam gitu. Little Forest. Ke sana aja Banyak wahana”
Elang langsung menggaruk bagian belakang kepalanya.
“Anak seusianya perlu aktivitas. Tidak baik loh kalo terus di rumah. sekolah. rumah. sekolah lagi”
Elang melirik Elaine yang sedang menggambar di meja.
“Sekarang bu?”
“Besok bisa?”
Elang menarik napas.
"Tapi saya lagi gak punya kendaraan Bu"
"Gampang, saya Pinjemin mobil suami saya." Bu Siska tersenyum.
Keesokan harinya langit tampak mendung, Elang dan Elaine berdiri di depan rumah. Tak lama Noula datang di antar tukang Ojek. Saat ia mebuka helm, Elang bahkan Elaine sampai terperangah menatapnya.
"Kak Noula cantik banget hari ini" Celetuk Elaine
"Ia... Cantik... Kayak dulu" Elang mengiakan.
Entah karena pakaiannya kali ini bukan seragam dinas, tapi yang pasti, dia terlibat lebih cantik. Sampai Elang bahkan Elaine melongo melihatnya.
"Hai... Selamat pagi"
"Pagi kak Noula"
"Pagi La"
"tadi siap-siap dari jam berapa ? Udah lama nunggu ya?
"Enggak kok, belom lama" kata Elang.
"Kirain tadi udah telat, mana lama banget tadi dapet ojolnya"
Noula tersenyum. Ia memang tidak banyak bicara di tiap kunjungan entah karena terlalu sibuk mencatat, atau sekedar canggung tanpa alasan. Tapi di hari itu, dialah yang paling banyak bicara.
"Kita masih nunggu Bu Siska juga kok"
"Eh iya, kita telpon aja kali ya?"
Elang mengangguk. Noula menelpon Bu Siska.
"Mobil yang itu bukan ?" Kata Elaine melihat sebuah mobil berwarna pink mentereng datang.
Mobil suami Bu Siska yang baru saja terparkir di depan rumah Pratama. Mobil itu sebenarnya digunakan untuk melengkapi paket jasa dekorasi pernikahan. Bisnis yang dikelola suami Bu Siska. Di kaca bagian belakang masih tertempel tulisan besar: JUST MARRIED lengkap dengan dekorasi bunga-bunga dan pita.
Mereka bertiga melongo melihatnya. Elaine tersenyum. Noula canggung.
"Mas saya disuruh Bu Siska" Kata pak sopir sambil menyerahkan kunci mobil.
"Pak, Bu Siska kok gak ada ?" Tanya Noula.
"Oh... Anu.." Belum sempat pak sopir melanjutkan
"Noula, saya sudah kirim mobilnya, tapi maaf ya hari ini kamu tangani dulu, semalam asam urat saya kambuh, sampe sekarang saya belom bisa jalan bener" Kata Bu Siska yang baru saja tersambung lewat telpon.
"Ah iya Bu, gak apa-apa"
Elang masih menatap mobil milik Bu Siska.
"Pak, ini bisa dicopot gak ?" Kata Elang sambil menunjuk ke arah stiker.
"Gak bisa mas, soalnya dipake kalo ada yang sewa dekor di bapak"
Elang mengerutkan dahi.
“Ini serius? pake mobil pengantin ? Pak gak ada mobil lain gak ?”
Elaine tertawa.
“Maaf mas, Bu Siska suruh saya bawa yang ini?”
“Yudah Lang, kan yang penting jalan.” Kata Noula.
Elaine masuk ke kursi belakang. Elang menutup pintu di kursi pengemudi. Noula tertawa. Elang menatapnya.
“Lucu ya?”
“Enggak.”
“Trus kenapa ketawa dari tadi.”
"Gak apa-apa Ayo jalan, Elain udah siap kan ?" Kata Noula sambil menengok ke belakang
Elaine mengangguk sambil tersengum.
"Siap kak Noula"
Elang menyalakan mobil. Mereka berangkat.
Di Lampu merah, Noula menawarkan camilan. Elaine mengambilnya sedikit. Sementara Elang memperhatikan.
"Lo masih suka camilan itu ?
"Kok kamu tau aku suka camilan ini"
"hmm tau aja, kayaknya sekelas tau semua deh. Kamu kan sering makan itu waktu SMP"
“Iya ya, tapi kok kamu bisa inget sih ?”
“Ingatan gw waktu SMP tajem banget soalnya.”
“Oh...”
Mereka saling pandang. Kemudian sama-sama tersenyum. Untuk beberapa detik, Senyum bukan sandiwara. Hingga lampu menjadi hijau, dan klakson kendaraan di belakang berbunyi. Elang lanjut menyetir. Elaine tersenyum diam-diam, seolah tau apa yang sedang terjadi.
Taman bermain itu ramai. Anak-anak berlarian. Ada suara musik dari wahana. Aroma popcorn dan gula kapas memenuhi udara.
Elaine berdiri di depan bianglala. Matanya berbinar. Elang melihatnya.
“Lo pengen naik itu?”
Elaine mengangguk.
“Boleh?”
Elang hampir menjawab tidak. Kemudian melihat Noula. Noula mengangkat alis. Elang tersenyum.
“Boleh kok.”
Mereka bertiga naik. Elaine menyimpan potongan sobekan karcis dalam tasnya.
Di dalam kabin, Elaine duduk di tengah. Elang di satu sisi. Noula di sisi lain. Ketika bianglala mulai naik, Elaine menempelkan wajah ke kaca.
“Wah…”
Elang melihatnya. Sudut bibirnya naik tanpa sadar.
“Kamu takut?”
Elaine menggeleng.
“Enggak.”
Elang tertawa kecil.
Noula memperhatikan Elang.
“Kamu ternyata bisa juga ya.”
“Apaan?”
“Jadi kakak.”
Elang menatapnya.
“Lah kan gue memang kakaknya.”
Noula tersenyum.
“Maksudnya... kakak beneran.”
Tatapan mereka bertemu sedikit terlalu lama. Elang buru-buru melihat keluar. Jantungnya berdetak aneh. Ia langsung mengingat Fia. Mantan pacarnya. Orang yang ia usir sendiri ketika kasus Investar meledak. Ia bahkan sekilas melihat Fia di kerumunan. Ia tidak boleh memikirkan Noula. Tidak sekarang. Tidak ketika hidupnya bahkan belum beres.
Setelah turun, mulai gerimis.
"Kak, boleh beliin Es krim gak ?
Elang melihat ke atas, sedang gerimis.
"gak ah, lagi gerimis, sakit lo entar."
Elain tertunduk sedih. melihatnya, Elang langsung membelikannya. Noula berdiri di samping sambil tersenyum.
“Lang ? Kamu keringetan tuh?”
Elang menoleh.Noula mengambil Tissue dan memberikannya ke
"Kamu gugup ya ?"