Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Sandiwara itu masih harus dijalankan. Di depan Bu Siska dan Noula, Elang tetap berusaha menjadi kakak yang perhatian. Ia mengantar Elaine ke sekolah, menjemputnya saat pulang, memastikan anak itu makan, dan sesekali bertanya tentang sekolahnya. Semuanya masih terasa seperti kewajiban. Tapi beberapa hal mulai berbeda. Bahkan tanpa Bu Siska atau Noula motor Elang berhenti di depan gerbang sekolah.
Elaine turun sambil membetulkan tali tasnya.
"Jangan lari,"
"Iya."
Elaine melangkah masuk.
Biasanya Elang akan langsung pergi setelah itu. Namun sejak melihat Elaine di bully, ia selalu menunggu sampai Elaine benar-benar melewati gerbang dan menghilang di antara murid-murid lain. Barulah motornya bergerak.
Begitu pula saat jam pulang. Elang selalu sudah menunggu di tempat yang sama. Kadang Elaine datang dengan wajah lelah. Kadang membawa cerita tentang guru yang memberinya tugas.
Kadang hanya naik ke motor tanpa mengatakan apa-apa.
"Capek?" tanya Elang suatu siang.
"Sedikit."
"Ya udah. Pulang."
Sederhana. Tidak lebih. Namun bagi Elaine, dijemput setiap hari mulai terasa seperti sesuatu yang bisa ia andalkan.
Beberapa kali Elaine juga ikut ketika Elang mencari pekerjaan. Ia duduk diam di ruang tunggu sebuah kantor, sementara Elang masuk untuk wawancara. Dan hampir selalu Elang keluar dengan wajah yang sama. Wajah seseorang yang baru saja ditolak.
"Ditolak?" tanya Elaine suatu kali.
Elang mengangguk.
"Iya."
Elaine tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri dan mengikuti Elang keluar.
Besoknya mereka mencoba lagi. Dan ditolak lagi. Begitu seterusnya. Sampai suatu sore, Elang keluar dari sebuah toserba dengan ekspresi yang berbeda.
Elaine yang menunggu di bangku depan langsung berdiri.
"Gimana kak?"
Expresi Elang tak bisa berdusta. Ia tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke saku.
"Diterima?"
Mata Elaine langsung berbinar. Elang mengangguk. Elaine tersenyum lebar. Dan dedikit berjingkrak.
"Selamat, Kak!"
Elang terkekeh.
"Apaan sih. Udah aah."
Tapi senyumnya tidak hilang sepanjang perjalanan pulang.
Di rumah pun sama. Elang yang awalnya merasa keberadaan Elaine merepotkan. Kini justru menikmati keberadaan anak itu di sekitarnya.
"Elaine."
"Iya?"
"Ambilin minum."
Elaine akan bangkit dari tempatnya.
"Yang dingin?"
"Iya."
Beberapa menit kemudian segelas minuman sudah berada di atas meja.
"Ini kak."
"Taruh sini."
"Ya."
Dulu permintaan kecil seperti itu mungkin akan terasa seperti bentuk eksploitasi. Sekarang justru menjadi kebiasaan. Begitu juga ketika Elang meminta cemilan, charger, atau sekadar menyuruh Elaine mengambil sesuatu yang sebenarnya bisa ia ambil sendiri. Elaine tidak pernah mengeluh. Seolah membantu Elang adalah sesuatu yang membuatnya merasa berguna.
Suatu malam Elaine memasak telur. Elang yang baru pulang kerja mencium aroma masakan dari dapur. Ia masuk dan melihat Elaine berdiri di depan kompor.
"Kamu masak?"
Elaine langsung menoleh.
"Iya."
Elang melihat wajan. Telurnya sedikit gosong di bagian pinggir. Ia teringat beberapa waktu lalu, ketika Elaine hampir membuat dapur berantakan. Tapi kali ini ia tidak marah.
"Sini gue cicipin?"
Elaine mengangguk. Elang mengambil sedikit dengan sendok. Mencicipinya. Elaine menunggu dengan wajah tegang.
"Gimana?"
Elang mengunyah sebentar.
"Sama aja, rasa telor goreng. Lumayan lah.Masih bisa dimakan kok."
Mata Elaine langsung berbinar. Elang menatapnya. Elaine tersenyum.
Elang berjalan pergi. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia tersenyum.
Elaine selalu ada disekitar Elang. Tidak banyak bicara. Tidak pernah menuntut. Kadang Elang masih kesal. Kadang ia masih teringat siapa orang tua Elaine. Kadang rasa bencinya kepada Pratama dan Lidya kembali muncul begitu saja. Tetapi anehnya, setiap kali ia melihat Elaine, kebencian itu terasa tidak lagi memiliki tempat yang sama.
Dan tanpa disadari Elang, setiap kali ia meminta Elaine mengambilkan sesuatu, setiap kali ia membiarkan anak itu duduk di sebelahnya, setiap kali ia mencicipi masakan Elaine tanpa marah sebagian kecil kebenciannya kepada Pratama dan Lidya ikut terlepas. Tidak hilang. Belum. Tetapi perlahan... lebih ringan. Dan bagi Elaine, Dia senang melakukannya. apapun yang diminta Elang, seolah setiap apapun pekerjaan yang diminta menghapus kebencian Elang kepadanya. Kepada orang tuanya.
Hingga suatu siang, Sepulang dari menjemput Elaine dari sekolah, Elang bahkan masih mengenakan seragam toserba. Elang melihat sesuatu yang membuat motornya terhenti sebelum benar-benar sampai ke pagar. Ada sebuah mobil berhenti di depan rumah. Bukan mobil Rian. Bukan pula kendaraan petugas Dinas Sosial yang mulai ia kenal.
Di pagar rumah, seseorang sedang memasang sebuah papan putih berukuran cukup besar.
ASET DALAM PENGAWASAN / PENYITAAN
Di bawahnya tercetak nama sebuah bank. Elang mendekat.
“Woi!”
Dua orang yang sedang berdiri di depan pagar menoleh. Elang dan Elaine turun dari motor. Elaine langsung masuk ke dalam rumah. Elang menunjuk papan itu.
“Ini apaan?”
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menghampirinya.
“Bapak pemilik rumah?”
“Ini rumah bokab gue.”
Pria itu melihat dokumen di tangannya.
“Nama Anda?”
“Elang, Eh tapi harusnya saya yang tanya, kalian siapa ?”
Pria itu membuka berkas.
“Sebentar.”
Ia mencari sesuatu. Kemudian mengangguk.
“Betul. Jadi kami dari pihak bank.”
Elang menatap papan itu lagi.
“Mau apa kalian, Itu kenapa ada tulisan penyitaan?”
“Rumah ini masuk dalam daftar aset yang dijaminkan.”
“Dijaminkan?”
“Iya.”
“Buat apa?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
“Bapak belum tahu?”
Elang tertawa pendek.
“Kalau saya tahu, saya gak akan nanya pak.”
“Rumah ini menjadi agunan pinjaman.”
“Pinjaman siapa?”
“Pratama.”
Nama itu membuat senyum Elang hilang.
“Pratama ?”
“Iya.”
“Bukannya dia pengusaha sukses?”
Pria itu hanya mengangkat bahu.
“Kami hanya menjalankan prosedur.”
Elang mengambil dokumen dari tangannya. Membaca cepat. Ada angka-angka. Nominal yang terlalu besar untuk dicerna dalam sekali lihat. Ada tanggal. Ada stempel. Ada keterangan mengenai kredit bermasalah. Elang mengangkat kepala.
“Ini gak mungkin.”
Elang menatap papan itu sekali lagi. Rumah yang selama beberapa hari terakhir ia bayangkan sebagai jalan keluar ternyata bahkan belum tentu menjadi miliknya.
“Cabut itu!”
Pria itu mengernyit.
“Apa?”
“Cabut papan itu!”