Keesokan harinya, Pagi itu terasa berbeda. Udara terasa lebih dingin. Bahkan ketika Langit sedang cerah. Ketika cahaya matahari masih masuk dari sela-sela tirai ruang tengah. Cahaya itu Jatuh membentuk garis panjang di lantai.
Entah Elang bangun lebih pagi dari biasanya, atau semalam ia memang tak bisa memejamkan mata sama sekali.
Ia sibuk mengemasi barang-barangnya. Satu per satu hanger dilepas dari pakaian, dilemparkan begitu saja ke atas sofa. Pakaian-pakaian itu dilipat seadanya lalu dijejalkan ke dalam tas ransel. Tenda yang biasa ia gunakan pun sudah terkemas dan diletakkan di depan rumah bersama tumpukan barang lain.
Pukul enam lewat dua puluh. Biasanya, pada jam seperti ini, ia sudah bersiap mengantar Elaine ke sekolah. Namun pagi itu, tas sekolah Elaine masih tergeletak bisu di dekat pintu. Sepasang sepatu kecil milik anak itu tersusun rapi di rak. Elang menatapnya selama beberapa detik, lalu membuang muka.
Derit pintu kamar terdengar. Elaine keluar setelah mendengar riuh barang-barang yang digeser. Rambutnya masih berantakan. Seragam sekolah sudah terpasang, tetapi kancingnya bahkan belum rapi terkancing.
"Kak?"
Elang tidak menggubris. Ia terus mengikat tali tasnya.
"Hari ini aku mau sekolah..."
"Gak usah. Lo di rumah aja tungguin Rian."
"Kakak mau pergi, ya? Pergi ke mana?"
"Urusan lo apa?" Elang berdiri tegak. Nada suaranya mulai tersulut amarah.
Mata Elaine mulai memerah, berair. "Kakak mau makan dulu gak? Aku gorengin telur, ya?"
Langkah Elang terhenti. Ia menoleh perlahan. "Gak perlu!"
Elaine bungkam. Ia mengenal tatapan ini : Elang yang cuek, dingin, dan penuh kebencian. Sosok kakak yang membencinya telah kembali.
Namun, Elaine tidak mau ditinggalkan. Dengan sisa keberaniannya, ia melangkah maju dan mendadak berlutut di depan Elang.
"Aku dengar semuanya kemarin... Aku boleh ikut Kakak, gak? Jangan tinggalin aku, Kak... Aku gak mau tinggal di panti," tangisnya pecah. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Elaine berusaha meraih jemari Elang. "Aku janji bakalan rajin..."
Pikiran Elang sedang berada di ambang ledakan. Ganti rugi, utang-utang Pratama yang menggunung, hingga bayangan jeruji penjara yang menunggunya. Tekanan itu mengikis habis tenggang rasanya. Ia lupa pada momen-momen hangat yang pernah mereka lalui. Yang tersisa di kepalanya hanyalah fakta bahwa Elaine adalah anak dari Pratama dan Lidya, dua orang yang menghancurkan hidupnya. Dan bagi Elang, rengekan anak itu seperti bensin yang menyiram api di dadanya.
Elang menepis tangan Elaine dengan kasar, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Emang kenapa kalau lo rajin, hah?! Semua itu gak bakalan bisa menutup fakta, kalo lo... anak Pratama sama Lidya!" bentak Elang. Suaranya menggema di seluruh ruangan.
Elaine perlahan mengangkat wajahnya yang basah.
"Bokap lo udah bikin hidup gue berantakan! Dan sekarang lo juga!" Elang menghela napas kasar, dadanya naik-turun memburu.
"Salah aku apa, Kak?" bisik Elaine di antara isak tangisnya.
"Salah lo apa? Lo lahir aja udah salah, tahu gak?!" suaranya menggelagar, memenuhi setiap sudut rumah yang makin terasa menyesakkan.
Lalu, sesuatu yang aneh terjadi.
Elaine perlahan mengulurkan kedua tangan kecilnya ke depan. Telapak tangannya terbuka lebar, menghadap ke atas. Ia menundukkan kepala dalam-dalam.
"Elaine minta maaf, Kak... Elaine udah lahir dan nyusahin semuanya," ucap Elaine tercekik. "Kakak hukum Elaine aja..."
Elang mengernyit, kepalanya berdenyut oleh amarah yang makin menjadi.
"Tangan Elaine udah biasa dipukul kalo bikin salah," Ucap Elaine lagi.
Pandangan Elang otomatis tertuju pada hanger baju yang tergeletak di atas sofa. Tangan Elang bergerak refleks, hendak menyambar benda plastik kaku itu.
"Biasanya Papa gak marah lagi kalau udah hukum Elaine..." Lanjut Elaine.
Namun, sebelum langkahnya terayun, tubuh Elang membeku. Kalimat Elaine berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia menatap Elaine yang masih berlutut pasrah, mengulurkan kedua tangan siap menerima cambukan.
Tanpa sadar, Elang menoleh ke arah cermin di dinding.
Pantulan dirinya ada di sana. Namun selama beberapa detik yang mengerikan, Elang tidak melihat mukanya sendiri. Ia melihat sosok Pratama.
Dan ingatan belasan tahun lalu mendadak menghantam kepalanya. Saat ia masih seusia Elaine.
Ia berlutut di lantai dingin, mengulurkan telapak tangan sambil menangis sesenggukan. Pratama berdiri menjulang di depannya dengan wajah murka.
"Pa, maafin Elang, Pa..."
“Berapa kali Papa bilang jangan ganggu?!” Pratama menarik napas kasar, menyambar hanger baju keras dari meja.
"Maafin Elang, Elang janji gak akan nakal lagi..."
“Kamu memang selalu bikin masalah!” Pratama mengangkat hanger tinggi-tinggi.
"Papa..."
“Diam! Ini hukuman buat kamu!”
Elang kecil memejamkan mata rapat-rapt.
JLESH!
Hantaman kaku itu mendarat telak di telapak tangannya. Rasa panas menyengat instan.
"Ampun, Pa!"
Pratama tak menggubris. Satu hantaman lagi melayang—
CLETUAK!
Suara benturan keras memecah udara. Patahan hanger plastik berserakan di lantai. Namun, rasa sakit itu tak kunjung hinggap di tangan Elang kecil.
Elang membuka mata. "Kak..."
Elana yang masih remaja berdiri pasang badan di depannya, menahan hantaman keras itu dengan punggungnya sendiri. Elana menoleh, tersenyum kecil sambil meringis menahan nyeri yang amat sangat.
“Lari, Lang...”