Sudah beberapa hari berlalu sejak malam mengerikan saat rumah Pratama hangus dilalap api.
Elang baru saja melangkah masuk ke dalam apartemennya setelah seharian memeras tenaga di tempat kerja. Ia melepas jaketnya, lalu melangkah ke area meja makan.
Langkahnya mendadak terhenti.
Di atas meja kayu yang bersih, tergeletak selembar kertas lusuh yang agak berkerut. Kertas itu pernah Elang remas dan lempar ke tong sampah beberapa bulan lalu. Sebuah lembaran dari masa tergelap dalam hidupnya ketika ia berniat mengakhiri semuanya, yang ternyata lemparannya meleset dan waktu itu ditemukan oleh Elaine, saat anak itu membereskan apartemen Usai mereka dari taman bermaim.
Dengan tangan gemetar, Elang memegang kertas itu. Tulisan tangannya sendiri yang berantakan terpampang di sana. Dada Elang bergemuruh hebat. Suratnya ternyata sudah dibaca oleh Elaine. Anak sembilan tahun itu telah melihat kepingan jiwa kakaknya yang paling rapuh dan hancur. Elaine tahu bahwa sosok yang selama ini terlihat keras dan pemarah di depannya hanyalah seorang pria muda yang hampa, berdarah-darah oleh masa lalu, dan berada di ambang putus asa.
Elang meremas pelan pinggiran kertas itu, menunduk dalam-dalam. Rasa bersalah yang terlanjur mengkristal kini berbaur dengan kepedihan yang menyiksa.
Sementara itu di ruang perawatan rumah sakit, kelopak mata Elaine perlahan terbuka. Bau karbol yang menyengat dan desis halus dari tabung oksigen menjadi hal pertama yang menyapa indranya. Tenggorokannya terasa kering, seperti ada lapisan abu yang mengendap di sana.
"Elaine? Kamu sudah sadar"
Suara lembut Noula terdengar di samping tempat tidur rumah sakit. Perempuan itu langsung mengusap dahi Elaine yang hangat dengan raut wajah lega. Elaine mengerpalkan jemarinya yang masih lemas. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang serba putih.
"Kak... Elang?" bisik Elaine parau di balik masker oksigennya.
Noula tersenyum tipis, meski ada kesedihan di matanya. "Elang? baru saja pergi, Katanya ada urusan sebentar. kamu istirahat dulu biar nanti ketemu sama kak Elang. ya? Dokter bilang kalo kondisi kamu sudah membaik, besok sudah boleh pulang."
Elaine tidak menjawab. Anak itu tahu Noula sedang berbohong halus untuk menenangkannya. Ia ingat betul bagaimana mata Elang menatapnya pagi itu. Tatapan yang penuh kemarahan dan ketakutan. Kakaknya tidak ada di sini bukan karena ada urusan, melainkan karena kakaknya memang sudah tidak menginginkannya lagi.
Esok harinya, setelah proses administrasi selesai, Rian dan Noula membawa Elaine keluar dari rumah sakit. Namun, mobil tidak mengarah ke apartemen Elang. Mobil itu meluncur menuju sebuah bangunan berpagar besi tinggi dengan papan nama bercat putih yang tampak kusam: Panti Asuhan Kasih Murni.
Elaine duduk di kursi belakang, memeluk erat tas ransel hitamnya. Di dalam tas itu, tersimpan rapi barang-barang yang berhasil ia selamatkan dari kobaran api: jaket Fia, naskah tulisan tangan Elana dan Elang, sobekan tiket taman bermain yang sudah agak terlipat, serta dua stik es krim bekas. Hanya barang-barang itu yang tersisa dari hidupnya.
"Elaine, untuk sementara waktu, kamu tinggal di sini dulu, ya?" kata Rian lembut saat mereka berdiri di lorong panti asuhan. "Om Rian sama Kak Noula bakal sering jenguk kamu kok."
"Kalo kak Elang ? Kak Elang bakal jenguk aku juga enggak ?"
Noula dan Rian tertunduk.
"Nanti Kak Noula bakal bilangin Kak Elang supaya dateng jengukin Elaine ya"
Elaine hanya menunduk, mengangguk pelan tanpa mengluarkan sepatah kata pun. Ia membiarkan seorang pengasuh memimpin langkahnya menuju kamar berasrama di lantai dua.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di ruang tengah panti, beberapa anak sedang berkumpul. Salah satu dari mereka adalah anak perempuan berseragam sekolah yang pernah mengejek Elaine beberapa minggu lalu. Ia mendongak dan membelalakkan mata begitu melihat kehadiran Elaine.
"Loh? Kok dia ada di sini?" seru anak itu dengan nada menyindir yang cukup keras. Elaine mempercepat langkahnya, menunduk dalam-dalam sambil memperketat pelukannya pada tas ransel.
"Kalian tahu gak?" anak perempuan itu melangkah maju, memotong jalan Elaine di tengah lorong. "Dia itu anak pelakor."
"Udah gitu pembawa sial lagi. Mama Papanya meninggal kecelakaan, sekarang rumah dia ikutan hangus gara-gara dia!"
Anak-anak panti lain mulai berbisik-bisik, memandang Elaine dengan tatapan aneh dan penuh curiga.
Kata 'pembawa sial' menusuk dada Elaine begitu dalam. Napasnya mendadak sesak, persis seperti saat asap memenuhi kamarnya kemarin. Kata-kata itu seolah mengonfirmasi ketakutan terbesarnya selama ini: dia memang hanya membawa petaka bagi Elang.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, tak menggubris dan langsung menuju kamarnya. Di sana dia diam-diam merencanakan sesuatu.
Malam ke dua di Panti Elaine berjalan mengendap-endap. Ia lalu lari sekencang-kencangnya menuju pintu samping panti asuhan yang terbuka sedikit. Pengasuh yang sempat melihatnya berteriak, tetapi Elaine tidak menoleh. Ia terus berlari menerobos deretan gang sempit, membiarkan tangisnya pecah di sepanjang jalan.
Di malam yang sama, di sebuah ruangan bercat hijau kusam di kantor polisi sektor kota, Elang duduk di hadapan seorang penyidik. Udara di dalam ruangan terasa pengap, didominasi suara ketukan keyboard dan riuh kendaraan dari luar jendela.
Elang datang dengan iktikad baik, berharap ada celah kelonggaran atau penundaan eksekusi ganti rugi atas kasus Investar yang menjeratnya..
"Pak, saya minta waktu sedikit lagi," ujar Elang, suaranya tenang namun ada nada putus asa yang tertahan. "Rumah kami baru saja kebakaran kemarin malam. Aset yang tersisa hancur. Tapi saya janji, saya akan cari jalan untuk lunasi ganti ruginya. Tolong jangan langsung diajukan ke pengadilan."
Penyidik di depannya menatap Elang dengan pandangan dingin, membalik-balik berkas tebal di atas meja. "Saudara Elang, dari dokumen yang kami terima, batas waktu kesepakatan ganti rugi sudah lewat tiga hari lalu. Pihak pelapor menduga Anda sengaja mengulur waktu. Bahkan ada indikasi Anda berniat melarikan diri dari kewajiban."
"Saya tidak lari, Pak! Kalau saya mau lari, saya tidak mungkin datang ke kantor polisi hari ini!" potong Elang, dadanya mulai naik turun.
"Bisa saja ini cuma taktik Anda untuk mengulur waktu," tanggap penyidik itu datar. Ia lalu memberi isyarat kepada dua petugas piket yang berdiri di dekat pintu. "Sesuai prosedur atas laporan dugaan wanprestasi berunsur penipuan dan iktikad buruk, kami harus menahan Anda untuk pemeriksaan lebih lanjut mulai hari ini."