Udara dingin malam merembes masuk lewat celah jeruji besi yang kusam. Elang duduk bersandar di dinding semen ruang tahanan kantor polisi. Tidak ada lagi raut amarah yang berkilat di matanya, tidak ada lagi umpatan kasar yang biasanya ia lontarkan setiap kali mengingat Pratama.
Di balik teralis besi, Rian berdiri sambil memegang map berkas pemeriksaan.
"Mediasi baru saja selesai, Lang," ujar Rian memecah keheningan. "Pihak korban Investar dan penyidik setuju memberi kita waktu buat melunasi seluruh ganti rugi."
"Yang bener om ?"
Rian mengangguk.
"Kamu beruntung, belom lama ini vonis kasus Andra Bekenz. Asetnya dirampas negara dan gak ada pengembalian ke korban. Jadi kayaknya, korban kamu gak mau jadi gitu juga jika kasus ini dilanjukan ke pengadilan."
"Syukurlah, berarti saya sudah bisa bebas ?"
"Belum lang. Mereka minta syarat."
Elang mendongak pelan. Tatapannya tenang. "Syaratnya apa, Om?"
"Kamu harus tetap ditahan di sini sampai seluruh dana ganti rugi itu lunas." jawab Rian tegas.
Elang mengangguk tanpa ragu. "Gak masalah, Om. Gak apa-apa. Tapi gimana sama Elaine? Dia... dia udah ketemu?"
Rian menghela napas panjang. "Pengadilan udah nolak pengajuan kamu untuk hak asuh Elaine, kamu udah bebas buat gak mikirin Elaine lagi. Tapi kamu tenang aja, Saya dan Noula bakal terus cari dia"
Elang cuma mengangguk pasrah.
Sementara itu, di lantai dasar gedung penerbitan Garda Pustaka, suasana lobi mulai lengang. Fia malam itu baru saja menyelesaikan urusan pekerjaan. langkahnya mendadak terhenti di dekat pintu kaca otomatis.
Matanya tertuju pada sosok anak kecil yang baru saja melangkah keluar dari meja resepsionis. Anak itu tampak begitu kecil, hampir tenggelam di dalam sehelai jaket kulit kusam yang sangat familiar di mata Fia.
Itu kan... jaket gue? batin Fia keheranan.
Fia mempercepat langkahnya, keluar menembus udara malam dan memotong jalan anak kecil itu di trotoar.
"Dek! Tunggu !" panggil Fia.
Anak kecil itu terlonjak kaget. Ia mendongak, memperlihatkan wajahnya yang kusam. Matanya yang membulat menatap Fia dengan raut takut.
Fia berlutut di atas trotoar basah, menyesuaikan tingginya dengan anak itu. Ia memperhatikan jaket yang terikat asal di tubuh mungil tersebut. Memang benar, itu jaket miliknya yang tertinggal di apartemen Elang beberapa bulan lalu.
"Loh kamu... anak bonusnya Elang kan? Ngapain di sini malem-malem ?" tanya Fia skeptis, teringat percakapan Elang dan seorang bapak di taman bermain waktu itu.
"Aku habis nganterin naskah ke dalam," jawab Elaine polos dengan suara parau.
Elaine menggeleng cepat, matanya mulai berkaca-kaca.
"Elang mana ? keterlaluan banget kenapa papa kamu biarin kamu sendirian ?"
"Bukan... Elaine bukan anaknya Kak Elang."
"Terus kamu siapanya Elang ? kenapa kamu bisa pake jaket aku? " Fia mencecar pelan, merapikan lengan jaketnya yang terlipat tebal di tangan Elaine.
Elaine tiba-tiba mengingat ucapan teman-temannya, dan ucapan Elang.
"Kata mereka aku...aku anak... pelakor" Elaine mulai berkaca-kaca.
Fia kaget mendengarnya.
"Hah? Kenapa kamu ngomongnya gitu ?"
"Mama aku ambil papanya kak Elang, makannya kak Elang benci sama aku"
"Kamu adeknya Elang ?"
"Iya kak"
Elaine mengangguk.
"Kamu tersesat ? Ayo, aku antar kamu ketemu Kak Elang sekarang, Keterlaluan banget sih tu cowok, anak sekecil ini loh ditelantarin." ujar Fia sambil meraih jemari mungil Elaine yang terasa dingin seperti es.
Namun, Elaine langsung menarik tangannya ke belakang. Ia menggeleng keras-keras, air matanya menetes melewati pipinya yang kotor.
"Gak mau, Elaine udah janji gak bakal ketemu Kak Elang lagi!" tangis Elaine pecah.
"Loh? Kenapa? Kamu gak suka sama Elang ? ato Elang marahin kamu ?" tanya Fia bingung.
Elaine menggeleng.
"Kata orang-orang... Elaine anak pembawa sial!" seru Elaine di antara isaknya. "Gara-gara Elaine, rumah Kak Elang terbakar! Mama dan Papa juga meninggal gara-gara Elaine! Elaine cuma bikin Kak Elang susah dan marah terus! Elaine gak boleh ada di dekat Kak Elang lagi biar Kak Elang gak sedih!"
Mendengar jeritan hati anak sembilan tahun itu, dada Fia terasa seperti dihantam batu tebal. Ia merengkuh bahu Elaine yang gemetar. Fia sadar, di tengah jadwal pemotretan dan pekerjaannya yang padat sebagai publik figur, sangat tidak mungkin baginya untuk menampung anak ini di apartemennya sendiri.
Di saat kebingungan itu memuncak, sebuah nama dan ingatan melintas di kepala Fia: Ira.
Setengah jam kemudian, sebuah mobil berhenti di depan kedai makanan kecil yang tampak tenang di sudut kota. Fia menuntun Elaine masuk ke dalam kedai bercat putih bersahaja itu.
Fia ingat betul tempat ini. Dulu, Elang pernah mengajaknya ke sana.
"Permisi... Tante Ira?" panggil Fia ragu saat melangkah masuk.
Ira keluar dari pintu dapur sambil menyapu tangannya dengan serbet. Ira membelalakkan mata begitu mengenali sosok Fia.
"Eh Fia? pacarnya Elang" Ira terkejut.
"Udah gak tante" Fia tersenyum kaku.
"Ahh kamu... Maafin Elang yaa..."
Ira memegang pundak Dia.
"Ayo masuk dulu. Mau makan apa ? nanti tante siapin."
Mata Ira beralih ke bawah, menatap anak kecil berjaket kebesaran di samping Fia. Fia memperhatikan.
"Ayo salim, ini mamanya kak Elang."
Mendengar itu, Elaine langsung sembunyi di balik tubuh Fia.
"Ini... Anak cantik ini, Anak siapa ini yang kamu bawa malam-malam begini?" Kata ira yang hanya mengusap rambut anak itu.
Fia menghela napas panjang, bingung harus memulai dari mana.
"Tante... Fia minta maaf sebelumnya, udah datang mendadak."
"Ayo sambil masuk dulu" Ajak Ira. Fia masuk mengikuti Ira, tapi Elaine tidak bergerak.