Beberapa hari setelah kebebasannya dari sel tahanan, Elang melangkah masuk ke ruangan kantor hukum Rian. Ruangan beraroma kayu dan tumpukan berkas itu tampak tenang. Rian sedang duduk di balik mejanya, memeriksa beberapa dokumen.
"Om Rian," sapa Elang pelan.
Rian mendongak, lalu mengisyaratkan Elang untuk duduk. "Gimana keadaan kamu sama Elaine, Lang?"
"Sehat, Om. Elaine makin membaik sejak tinggal sama Ibu," Elang menarik napas panjang, menatap pria setengah baya di depannya dengan ketulusan yang mendalam. "Saya ke sini mau bilang terima kasih banyak. Untuk semuanya. Kalau gak ada Om Rian, saya gak tahu nasib saya dan Elaine bakalan gimana."
Elang tersenyum tipis, lalu bergumam pelan, seolah menyuarakan angan-angan yang sempat terlintas di benaknya. "Kadang saya mikir... seandainya Papa dulu kayak Om Rian. Mungkin keluarga kami gak bakal hancur."
Rian menghentikan gerakan penanya sejenak. Ia menatap Elang, lalu merapikan kertas di mejanya dengan raut wajah yang tetap datar namun tenang.
"Saya cuma bekerja secara profesional, Elang," jawab Rian singkat dan lugas. "Setiap orang punya jalan hidup dan pilihannya masing-masing. Yang penting, kamu sudah memilih jalan yang benar sekarang."
Elang tersenyum maklum, lalu mengangguk hormat. "Sekali lagi, terima kasih, Om."
Beberapa minggu kemudian.
Pagi yang cerah menyapa kedai makanan milik Ibu Ira. Elang baru saja selesai merapikan kursi dan membantu ibunya menyiapkan bahan masakan di dapur.
"Elaine! Ayo, nanti terlambat sekolahnya!" panggil Elang dari teras kedai.
Seorang anak kecil berlari keluar dari dalam kedai dengan seragam sekolah barunya yang rapi. Tidak ada lagi raut kusam, ketakutan, atau bayang-bayang muram di wajahnya. Elaine kini tersenyum lebar, memanggul ranselnya dengan penuh semangat.
"Ayo, Kak!" seru Elaine riang.
Di gerbang sekolah baru Elaine, setelah memastikan adiknya masuk ke dalam kelas, Elang berbalik dan melihat Noula sedang berdiri menyandarkan tubuhnya di dekat mobil.
"Gimana hari pertama Elaine di sekolah baru?" tanya Noula sambil tersenyum.
"Lancar, La. Dia seneng banget," jawab Elang sambil berjalan menghampiri Noula.
Mereka berjalan santai menyusuri trotoar di samping sekolah. Tiba-tiba Noula menghentikan langkahnya, menatap Elang dengan raut wajah agak canggung namun jahil.
"Lang... lihat deh" Kata Noula sambil memamerkan jemarinya. Ada cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Wah, Congrats la" Elang tersenyum.
"Nanti nikahan aku, dateng ya, baerng Tante, sama Elaine juga"
"Pasti dong"
"Hmmm Sebelum Nikah, keknya baiknya aku jujur deh," kata Noula tiba-tiba.
"Jujur soal apa?"
"Waktu kita SMP dulu... aku tuh pernah naksir banget tau sama kamu," aku Noula sambil tertawa kecil untuk mencairkan suasana.
Elang terkekeh, lalu menggelengkan kepala. "Sama, La. Gue juga sebenarnya dulu pernah suka sama lo."
Noula membelalakkan mata, berpura-pura kaget. "Loh? Seriussan?!"
"Serius," Elang tersenyum matang.
Noula mengangguk paham, menepuk bahu Elang dengan hangat.
"Namanya gak jodoh ya Lang."
"Apa gue bikin lo jadi runnaway bride aja kali ya ?" Elang tertawa
"Bisa aja kamu Lang, Fia tuh, kamu udah ketemu dia ? Dia loh yang temuin Elaine waktu itu. Kamu jahat sih biarin cewek salah paham"
Tawa Elang tiba-tiba berhenti.
Siang itu, Elang melihat Jaket Fia di tumpukan pakaian yang sudah di lipat di lemari. Elang mengengemasnya dengan rapih. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Fia. Hi Fia, Sore ini bisa ketemu gak?
Sore harinya Elang duduk di sudut sebuah kafe pinggir pantai dengan gelisah.
Di atas meja sudah tersaji segelas kopi Latte yang sudah hampir setengah dan milkshake Strawberry yang belum di sentuh.
Tak lama kemudian, sosok Fia melangkah mendekat. Ia tampak anggun dengan kacamata hitam dan pakaian kasual yang modis.