“...Walikota yang diwawancarai di area pendopo Balai Kota akan memastikan seluruh aparat terkait terus bekerja keras untuk mengungkap rentetan kasus penculikan ibu-ibu hamil yang sudah dua bulan masih tidak menemukan titik terang…”
Ubaya mengecilkan volume radio mini di sampingnya, pagi itu di sebuah kotak tiga meter persegi dengan satu peralatan komputer, kipas angin seukuran tak lebih dari lepek dudukan cangkir teh, ia mulai bekerja. Setengah ruangan kecil itu adalah dinding kaca yang mengelilinginya–Ubaya bisa melihat ke segala arah.
Pekerjaannya relatif mudah, menerima karcis parkir–scan–ongkos parkir muncul di layar–ia terima–sesekali memberi kembalian. Meski di standar operasional ia harus memberi senyum dan mengucap salam, Ubaya tidak pernah melakukannya. Hanya mengangguk singkat tiap kali ada pengendara mengucap terima kasih.
Kereta pertama baru saja berangkat pagi itu, azan subuh berkumandang lima menit lalu. Pukul 4.15, pergantian dari shift malam ke shift pagi, temannya menguap lebar–pemandangan yang tiap hari Ubaya lihat, meregangkan otot-otot sebab semalaman duduk dan menahan kantuk. Melki–pria perantauan asal Tegal berambut kribo itu musti bekerja lagi sebagai kasir Indomaret, dua puluh menit dari stasiun.
Meski relatif mudah, pekerjaan sebagai petugas parkir di Stasiun Tawang punya tanggung jawab yang besar. Mulai dari barang hilang, kunci tertinggal, sampai pencurian sepeda motor. Outsourcing tempatnya bekerja memang punya sistem parkir paling baru, tapi manusia tetap saja punya akal untuk mengambil barang yang bukan miliknya–untuk bertahan hidup, dengan mencuri.
Ubaya akan tetap di bilik tempatnya bekerja sampai jam makan siang, hanya sesekali keluar untuk buang air, sedikit berjalan di sekitar–meluruskan kaki-kaki, atau membeli camilan di kios yang tak jauh dari sana. Ternyata terlalu lama duduk pun bisa bikin perut keroncongan, pekerjaannya bisa jadi membosankan kalau Ubaya tak banyak akal. Ubaya sering membeli kacang kulit, kripik dan kuaci yang kulitnya ia kumpulkan dalam satu kresek besar, entah untuk apa. Suatu hari Melki membawa lem yang ia bawa dari Indomaret tempatnya bekerja–Ubaya yakin Melki tak menukar dengan uang untuk lem itu. Melki menempelkan kulit-kulit kuaci itu berjejeran di bagian dalam bilik, estetik, katanya. Ya, meski Ubaya tahu Melki melakukan itu karena gabut.
Ada beberapa bilik parkir di pintu keluar Stasiun Tawang, seringnya hanya dibuka dua jalur, untuk mobil–kendaraan roda empat atau lebih dan kendaraan roda dua. Hari itu Ubaya satu shift dengan Sekar, lima tahun lebih muda darinya dan sedang hamil. Sekar sering tiba-tiba mengeluh bahwa pekerjaan ini tak memberi kesempatan perempuan hamil untuk cuti. Sekar seharusnya mendapatkan cuti hamil, mengingat usia kandungannya yang akan menginjak bulan terakhir. Ubaya yang sering satu shift terbiasa mendengar celotehan Sekar. Bayi diperut tampaknya bisa memberi energi lebih untuk seseorang.
Ubaya sering khawatir sebab keadaan kota sedang tidak kondusif mengingat kasus penculikan ibu hamil belum juga menemukan titik terang, apalagi istrinya di rumah juga sedang mengandung bayi pertamanya, usia kandungan yang menginjak bulan keenam. Sekar justru terlihat santai dan tak peduli dengan kasus itu–para penculik hanya mengincar orang-orang kaya, katanya. Sudah pasti soal tebusan, dan orang miskin sepertinya tak mungkin diincar sebab para penculik itu pintar, kecuali diculik alien, itu urusan lain, ucap Sekar. Menculik ibu hamil yang miskin hanya membuang waktu mereka. Tapi tetap saja, alasan dari para penculik itu masih belum jelas, kebanyakan dari korban tidak pernah kembali.
Ubaya hanya tinggal bersama istrinya, sebulan lalu ia ditinggal mati bapak dan harus menanggung banyak hutang. Bapaknya mewariskan sebuah toko klitikan di Kota lama, menjadi satu dengan klitikan lain di dekat Gereja Blenduk. Toko itu satu-satunya yang menjual kopor-kopor lama, selain barang antik seperti guci, jam tangan, Komik Tintin, atau postcard tua.
Setiap hari selepas bekerja di stasiun, Ubaya mengendarai sepeda tuanya dan mengurus toko itu. Membersihkan setiap barang dari debu, mengeceknya satu-per-satu, handle kopor, membuka-tutup kopor, tak membiarkan postcard menguning lagi, sambil berharap wisatawan yang datang tidak hanya untuk melihat-lihat saja. Sebab sejak kematian bapak, setiap receh menjadi sangat penting. Hutang itu meski sudah dibantu oleh ketiga kakaknya tetap saja kurang, Ubaya harus menuntaskan bagiannya–sayang tabungannya tak cukup. Bahkan uang untuk melahirkan pun tak akan sanggup menutup kekurangan itu.