Satu-Satunya Sunyi

Zahid Paningrome
Chapter #2

Mimpi-Mimpi Kimi

Sebelum kiamat, orang-orang terpilih–dengan kemampuan khusus akan terkoneksi satu sama lain melalui mimpi-mimpi. Mereka akan mengalami mimpi buruk berhari-hari; sebuah pecahan peristiwa dari kiamat yang akan terjadi. Di mimpi itu, mereka melihat satu-sama-lain dan saling mengenal–seolah mereka adalah teman lama. Pada akhirnya mereka akan berkumpul dan merencanakan misi penyelamatan.”

Kimi terdiam, ibu jarinya berada di sela-sela buku yang terbuka persis di tengah halaman. Apa yang baru ia baca sedikit mengusiknya. Sudah sepuluh tahun Kimi mencatat mimpinya, dan selama itu pula ia tidak pernah tidur nyenyak. Ia baca sekali lagi paragraf itu, lalu menutup buku. 

Novel itu baru ia beli siang tadi, sudah hampir empat jam nonstop ia membacanya. Paragraf itu menghentikannya untuk membaca lebih jauh. Pandangan Kimi belum lepas dari cover merah marun dengan desain minimalis dengan foto bibir pantai dari penulis yang namanya sulit Kimi ucap. Novel yang ia ambil sembarangan dari salah satu rak buku di toko lawasan dekat kantornya. Kalimat itu seolah menjadi kepingan terakhir dari serangkaian mimpi buruk yang selama sepuluh tahun menghantuinya. Kimi takut mimpi itu akan menuntunnya pada kenyataan yang akan sulit dipercaya.

Mata Kimi belum lepas dari judul yang tercetak tebal, pikirannya melayang-melayang, ramai di kepalanya justru memunculkan perasaan sunyi, seolah udara di sekitarnya berhenti. Novel itu seolah sedang berbicara kepadanya–mengirimkan sebuah pesan, bahwa kesepian yang ia alami akan sampai pada ujungnya, dan akan jadi Satu-Satunya Sunyi yang terakhir ia rasakan, persis seperti judul novel itu.


Lihat selengkapnya