Sudah dua belas jam dua anak itu tak ditemukan. Eyang ingat mereka hilang saat sedang memberi makan kucing-kucing di belakang rumah. Dua anak itu pergi tanpa memakai sandal saat pintu rumah terbuka. Di tengah terik Semarang kedua anak itu melangkah di aspal panas. Eyang membayangkan sepanas apa siang itu di kaki-kaki cucunya yang mungil dan lembut.
Eyang mencari tepat ketika ia menyadari dua cucu kesayangannya itu hilang, ia telusuri gang demi gang, rumah tetangga, hingga belakang rumah, eyang melihat kumpulan anak dan mendatangi mereka, mengira cucunya ada di sana. Anak-anak itu tak melihat cucu eyang, saat eyang menjelaskan ciri-cirinya, anak-anak itu tetap dengan jawaban yang sama. Anak-anak dari belakang rumah itu sempat membantu mencari, namun tak ditemukan cucu eyang di mana-mana.
Eyang menjelaskan pada anaknya–ibu anak-anak itu melalui telepon setelah dua jam pencarian. Seluruh tetangga berkumpul dan anak-anak itu masih tidak ditemukan. Ibu anak itu langsung pulang dari kantor, dan tetap tidak mengerti penjelasan eyang yang terbata-bata di telepon. Ada perasaan membuncah, kekhawatiran tanpa ujung di sepanjang perjalanan.
Ibu bahkan belum mengganti seragam kantor hingga pencarian mencapai dua belas jam. Tengah malam dan para tetangga mulai pulang ke rumah masing-masing. Ibu dan eyang kembali ke rumah, ibu langsung masuk ke kamar mandi, eyang tak mendengar ada pergerakkan apapun di dalam selain suara tangis sebelum setengah jam kemudian dingin air mengguyur tubuh ibu. Eyang membuat teh dan menunggu anaknya selesai. Ia yang paling merasa bersalah. Sebab lupa menutup pintu setelah salat zuhur di masjid.
Hanya keheningan yang terasa di dalam rumah setelah ibu keluar dari kamar mandi, masuk kamar dan memakai kembali seragam kantornya. Ibu tak berniat menginap, namun eyang menahannya untuk tetap tinggal. Teh dalam dua cangkir putih bermotif mawar mulai dingin, keduanya duduk di meja makan—tak ada yang berani memulai percakapan. Bahkan eyang.
Ibu bisa saja menyalahkan eyang atas apa yang baru terjadi, di dalam lubuk hatinya perasaan amarah itu meronta dan meminta dibebaskan, namun ia tahu amarah hanya akan melahirkan rasa malu.