Satu-Satunya Sunyi

Zahid Paningrome
Chapter #6

Tuhan Mati Hari Ini

Aku mulai merasa tuhan terlalu ikut campur pada banyak urusanku. Misalnya saat aku sedang menginginkan sesuatu dan mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mengeksekusi. Pada akhirnya hancur lebur, orang bilang “tuhan menyiapkan yang terbaik.” Aku bertanya “kapan?” Kenapa tuhan tidak memberinya sesegera mungkin? Kenapa ditunda-tunda? Bisakah dia berhenti sok tahu tentang apa yang terbaik untukku?

Bagaimana mungkin sesuatu di luar kita justru yang paling tahu apa yang terbaik? Mereka tak tahu rasanya bertahun-tahun hidup sebagai seorang anak laki-laki yang lahir dari rahim ibu yang selamat dari penculikan. Hidupku sudah kacau sedari dulu, dan tuhan adalah satu-satunya yang harus disalahkan. Bukan satupun manusia, apalagi ibuku. Dimana tuhan saat aku lahir? Atau dimana dia saat penculikan itu terjadi? Tidur? Atau sedang berlibur?

Kamu akan berteman dengan siapa kalau tuhan dan manusia sama-sama mengutuk keberadaanmu di dunia. Seolah selamat dari peristiwa traumatis itu adalah kesalahan, dan mereka menghendakimu untuk mati saja. Bayangkan selama dua puluh sembilan tahun setiap kali berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain, mereka selalu ingat bagian dari cerita itu, seolah secara kolektif pikiran mereka diatur untuk membenci keberadaanmu. Dan tuhan? oh tentu tak ada dia di mana-mana. 

Selama itu pula aku dihantui mimpi-mimpi buruk, di mana selalu ada sosok perempuan dalam mimpi itu, aku tak pernah tahu pasti, tapi tebakanku selalu mengerucut ke ibuku. Seolah aku jadi saksi dari dalam rahim bagaimana ibuku diculik dan disiksa. Pada awal kemunculan mimpi-mimpi aneh itu, aku hanya bisa mendengar suara-suara, seiring bertambahnya usia, mimpi itu pelan-pelan menampilkan gambaran yang jelas, seolah kabut yang dulu menutupi kini hilang dan tersingkirkan.

Suatu malam aku terbangun dengan keringat di sekujur tubuh yang membasahi hampir seluruh bagian kasurku. Mimpi itu membawaku pada sebuah lokasi dimana aku mencium aroma anyir, namun aku tak benar-benar tahu itu ada di mana, ada suara seperti ombak pada batu-batu pemecah. Sekejap kemudian aku terbangun, sepuluh menit kemudian tertidur lagi setelah meminum segelas air, dan mimpi itu berlanjut.

Di atas laut ada kereta uap dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku, kereta makin mendekat dan rangkaian itu menjelma jadi asap hitam dan suara riak-riak air yang menggema mengalun keras setelahnya. Aku terbangun. Membuka ponsel, pukul tiga pagi. Kuputuskan lari pagi hingga kilometer ke dua puluh satu, hampir pukul setengah enam saat aku memutuskan berhenti, makan bubur ayam lalu tidur lagi satu jam kemudian. Dan mimpi itu berlanjut. 

Lihat selengkapnya