Satu-Satunya Sunyi

Zahid Paningrome
Chapter #7

Koper

Ubaya kembali ke Toko Klitikan, membuka koper dan menyadari uang di dalamnya hilang. Tak ada siapapun di sana, ia memasang telinga, mata, dan berusaha mendeteksi siapa orang yang sanggup dan berani mengambil uang itu. Dan yang terpenting siapa yang tahu ia menaruh uang itu di sana. 

Ubaya pikirkan sekali lagi siapa yang ia temui malam itu. Hanya satpam dan seorang lagi yang menunggunya, namun pria itu langsung pergi saat Ubaya datang, dan memang sudah jadi kebiasaan. Satpam ada di ruangan berbeda, dan Ubaya yakin bukan dia. Kemungkinan terakhir, ada yang mengikutinya dari stasiun, jika benar mungkin orang yang mengincar uang itu. Ubaya memastikan diri untuk lebih hati-hati. 

Kribo menyapanya seperti biasa, dan memberinya satu botol kopi susu yang dia ambil dari Indomaret tempatnya bekerja—tentu tak membayar, lalu pergi. Ubaya terpaku pada Kribo, menatapnya lekat dari bilik parkir sampai Kribo terhapus oleh deretan gedung di Kota Lama dengan motor bututnya.

Ubaya sama sekali tak menduga, kejadian semalam dan sekarang uang itu hilang. Ada perasaan takut yang ia pikirkan. Gejolak di kepalanya membuatnya tak fokus, beberapa kali klakson motor terdengar, sebab Ubaya tak kunjung menerima karcis parkir dari deretan motor di depan. Ia meminta maaf, dan berusaha melupakan kejadian yang mengganggu pikirannya sampai jam kerja selesai. 

Ubaya langsung bergegas mengayuh sepeda ontel menuju Pasar Klitikan yang ramai di sabtu sore, ada Alex di sana, sedang makan mie ayam dengan bakso-bakso urat yang lebih mirip kepala botaknya. Ubaya coba dekati dan memancing Alex tentang koper dan isi di dalamnya, tapi ia gagal. Alex justru sibuk membicarakan hasil pertandingan Chelsea semalam, yang kalah telak dan bermain dengan sembilan pemain akibat dua kartu merah. Ubaya langsung melipir—meninggalkannya. Duduk di toko, meladeni beberapa pengunjung yang ia tahu hanya bertanya dan tak berniat membeli.

Lihat selengkapnya