Hujan turun perlahan ketika Puteri berdiri di depan rumah yang pernah menjadi seluruh dunianya. Cat dindingnya mulai mengelupas, halaman yang dulu dipenuhi bunga kini dipenuhi rumput liar. Setahun. Hanya itu waktu yang tersisa sebelum rumah ini benar-benar hilang dari hidupnya.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah masuk. Sepasang langkah kaki mengikuti di belakangnya. Jesse, pria lima tahun lebih muda darinya, menggenggam erat tangan Puteri, seolah ingin menguatkan keputusan yang telah lama ia perjuangkan—pulang bersama pilihan hatinya.
"Selamat datang di rumah," bisiknya.
Namun, untuk pertama kalinya, kata rumah terdengar begitu asing.
Pintu kayu itu berderit saat Puteri mendorongnya. Aroma lembap dan debu yang mengendap selama bertahun-tahun menyambutnya. Jesse melangkah lebih dulu, menyalakan lampu yang berkedip sebelum akhirnya memancarkan cahaya redup.
"Sepertinya memang sudah lama tidak dihuni," gumam Jesse.
Puteri mengangguk pelan. Tatapannya menyapu setiap sudut ruang tamu yang masih sama seperti dalam ingatannya.
Lalu...
Suara langkah kaki.
Bukan langkah mereka.
Pelan. Berat. Berasal dari lantai dua.
Puteri dan Jesse saling berpandangan.
"Masih ada orang?" bisik Jesse.
Belum sempat Puteri menjawab, sosok seorang pria muncul di ujung tangga. Tubuhnya tegap, wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit diterjemahkan.
Pria itu berhenti di anak tangga terakhir.
"Aku pikir..." suaranya rendah.
"...kamu tidak akan pernah kembali."
Suara itu membuat waktu seolah berhenti.
Puteri menatap pria yang berdiri di ujung tangga. Wajahnya masih sama—lebih dewasa, lebih tenang, namun sorot matanya tetap menyimpan luka yang tak pernah benar-benar hilang.
"Lafiz..."
Nama itu meluncur lirih dari bibirnya.
Lafiz menuruni anak tangga tanpa tergesa. Pandangannya berhenti pada tangan Puteri yang masih digenggam Jesse. Rahangnya mengeras sesaat, tetapi ia segera menyembunyikan gejolak itu di balik senyum tipis yang sulit diartikan.
"Sudah lama," ucapnya datar.
Jesse melangkah sedikit ke depan, berdiri di samping Puteri. "Maaf, kami pikir rumah ini kosong."
Lafiz menghela napas pelan.
"Rumah ini memang sepi," katanya. "Tapi tidak pernah kosong."
Keheningan kembali memenuhi ruang tamu.
Tatapan Puteri menyapu sekeliling rumah. Tak banyak yang berubah. Foto-foto keluarga masih tergantung di dinding. Jam antik di sudut ruangan masih berdetak pelan. Bahkan aroma kayu jati yang selalu memenuhi rumah itu masih sama seperti terakhir kali ia melangkahkan kaki ke sana.
Hanya satu yang berbeda.
Papa Adrian sudah tidak ada.
"Aku turut berduka..." suara Puteri bergetar. "Aku... tidak sempat mengucapkan selamat tinggal."
Lafiz menundukkan kepala sejenak.
"Ayah menunggumu."
Empat kata itu menghantam Puteri jauh lebih keras daripada hujan yang masih mengguyur di luar.
"Beliau memanggil namamu sampai hari terakhir."
Puteri menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.
"Aku tidak tahu..."
"Kamu memang tidak pernah ingin tahu."
Jesse memandang keduanya bergantian. Ia bisa merasakan percakapan itu menyimpan sejarah yang jauh lebih panjang daripada yang ia pahami.
"Lafiz," katanya hati-hati, "kami datang karena notaris menghubungi Puteri. Katanya ada surat wasiat yang harus dibacakan."
Lafiz mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Lalu... kenapa rumah ini masih dihuni?"
Lafiz mengalihkan pandangannya ke jendela, tempat hujan membasahi halaman yang dulu mereka rawat bersama.
"Karena ini rumah ayahku."
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Puteri.
"Dan juga rumahmu."
Puteri mengernyit.
"Apa maksudmu?"
Lafiz berjalan ke meja ruang tamu. Dari laci yang sudah mulai usang, ia mengambil sebuah map cokelat yang tepinya mulai menguning. Di bagian depan tertulis dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.