Hujan turun perlahan ketika Puteri berdiri di depan rumah yang pernah menjadi seluruh dunianya.
Cat pada beberapa bagian dinding mulai mengelupas. Pilar-pilar putih yang dahulu tampak megah kini diselimuti lumut tipis. Rumput liar tumbuh di sela bebatuan halaman, menelan jejak taman bunga yang pernah dirawat Ayah Adrian dengan tangannya sendiri.
Rumah itu tampak lebih tua.
Lebih sunyi.
Namun ada sesuatu yang membuat Puteri merasa seolah tempat itu tidak pernah benar-benar berubah.
Tatapannya terangkat ke menara kecil di bagian tengah bangunan.
Jam antik yang terpasang di sana tidak bergerak.
Jarumnya berhenti pada pukul 08.17.
Puteri mengernyit.
“Aneh.”
Jesse, yang berdiri di bawah payung bersamanya, mengikuti arah pandangannya.
“Apa?”
“Jamnya.”
Jesse mendongak beberapa saat.
“Mungkin rusak.”
“Mungkin.”
Puteri menjawab tanpa benar-benar meyakininya.
Ayah Adrian membenci jam yang berhenti.
Dahulu, setiap kali menemukan jam yang kehabisan baterai, beliau akan segera memperbaikinya. Seolah keterlambatan beberapa menit saja dapat mengacaukan kehidupan seluruh penghuni rumah.
Rumah yang baik tidak pernah membiarkan waktunya berhenti.
Puteri masih dapat mendengar kalimat itu dalam ingatannya.
Dadanya mendadak terasa sesak.
Ia memalingkan wajah dari menara.
“Mari masuk,” kata Jesse lembut.
Puteri mengangguk.
Ia baru melangkah menuju teras ketika pintu utama terbuka dari dalam.
Lafiz berdiri di ambang pintu.
Waktu seakan benar-benar berhenti.
Laki-laki itu terlihat lebih dewasa daripada yang Puteri ingat. Bahunya lebih lebar, wajahnya lebih tegas, tetapi sorot matanya masih sama—tenang di permukaan, menyimpan terlalu banyak hal di dalamnya.
Mereka saling menatap tanpa suara.
Bertahun-tahun terpisah ternyata tidak cukup untuk membuat Puteri lupa bagaimana rasanya berada di hadapan Lafiz.
“Jadi...” Lafiz membuka suara. “Kamu akhirnya pulang.”
Puteri menggenggam jemari Jesse lebih erat.
“Aku pulang.”
Pandangan Lafiz turun sesaat ke tangan mereka yang bertaut, lalu kembali ke wajah Puteri.
“Dan dia?”
“Jesse.”
Puteri menoleh kepada laki-laki di sampingnya.
“Saya tunangannya,” Jesse memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia yang fasih.
Lafiz mengulurkan tangan.
“Lafiz.”
Jesse menyambutnya.
“Senang bertemu denganmu.”
“Selamat datang di Rumah Kita.”
Nada suara Lafiz sopan, meskipun senyumnya tidak benar-benar sampai ke mata.
Dari dalam rumah, Mbak Rini muncul tergesa-gesa. Kedua tangannya langsung menutup mulut begitu melihat Puteri.
“Ya Allah... Non Puteri?”
Matanya berkaca-kaca.
Puteri tersenyum lemah.
“Halo, Mbak.”
Mbak Rini memeluknya tanpa menunggu izin.
“Kenapa baru pulang sekarang?”
Pertanyaan sederhana itu membuat tubuh Puteri menegang.
Mbak Rini segera melepaskan pelukannya, seolah menyadari bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang tidak semestinya.
“Maaf. Mbak tidak bermaksud—”
“Tidak apa-apa.”
Puteri menatap ke dalam rumah.
Aroma kayu jati dan bunga melati menyambutnya. Jam antik di sudut ruangan masih berdetak pelan. Foto-foto keluarga memenuhi dinding, tertata seperti dahulu.
Ada foto Puteri dan Lafiz mengenakan seragam sekolah.
Foto Bunda Agniyah di taman.
Foto Ayah Adrian dan Bunda Agniyah berdiri di antara anak-anak Rumah Kita dengan senyum yang begitu lebar.
Puteri menahan napas.
Segala sesuatu masih berada di tempatnya.
Hanya Ayah Adrian yang tidak.
“Aku turut berduka,” katanya akhirnya. “Aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.”
Lafiz menundukkan kepala sesaat.
“Ayah menunggumu.”
Puteri menatapnya.
“Beliau memanggil namamu sampai hari terakhir.”
Empat kata itu menghantam lebih keras daripada yang diperkirakannya.
“Aku tidak tahu.”
“Kamu memang tidak—”
Lafiz menghentikan kalimatnya.
Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak melanjutkan.
Puteri mengetahui sisa kalimat itu tanpa perlu mendengarnya.
Kamu memang tidak pernah ingin tahu.
Jesse berdiri sedikit lebih dekat kepadanya.
“Kami datang karena notaris menghubungi Puteri,” katanya hati-hati. “Ada surat wasiat yang harus dibacakan.”
“Aku tahu.”
Lafiz mempersilakan mereka masuk.
Puteri melangkah melewati ambang pintu dengan perasaan seperti memasuki masa lalu yang belum selesai.
Ketika Lafiz hendak menutup pintu, Puteri bertanya, “Mengapa masih banyak orang tinggal di sini?”
Lafiz memandangnya sejenak.
“Karena ini rumah ayahku.”
Ia berhenti sebelum menambahkan,
“Dan rumahmu.”
Puteri mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Lafiz berjalan menuju meja di ruang tamu. Ia membuka salah satu laci, kemudian mengeluarkan map cokelat yang tepinya mulai menguning.
Tulisan tangan di bagian depan map itu membuat Puteri membeku.
Untuk Lafiz dan Puteri.
Ia mengenali bentuk setiap hurufnya.
“Ayah...” bisiknya.
Lafiz meletakkan map itu di atas meja.
“Rumah ini tidak diwariskan hanya kepadaku.”
Tatapan mereka bertemu.