Malam itu, setelah semua orang beristirahat, Puteri berdiri sendirian di ruang kerja Papa Adrian.
Ruangan itu masih menyimpan aroma kayu tua dan kopi yang dulu selalu dibuatkan Papa untuknya.
Lafiz berdiri di ambang pintu.
"Aku tahu kenapa kamu kembali," katanya.
Puteri tidak menoleh.
"Karena rumah ini."
"Bukan hanya rumah."
Suara Lafiz membuat Puteri terdiam.
"Karena janji."
Jemari Puteri mengepal.
"Jangan."
"Aku tidak menyalahkanmu, Puteri."
"Lalu kenapa kamu terus mengingatkanku?"
Lafiz menarik napas panjang.
"Karena aku juga masih mengingat malam terakhir Ayah."
Puteri akhirnya menoleh.
Lafiz melangkah masuk perlahan.
"Ayah memegang tanganku dan bertanya apakah aku masih mencintaimu."
Mata Puteri mulai berkaca.
"Dan kamu menjawab apa?"
"Aku bilang iya."
Keheningan memenuhi ruangan.
"Lalu Ayah berkata satu hal."
Lafiz menatapnya.
"'Jangan minta Puteri memilihmu karena rasa bersalah. Berikan dia waktu. Satu tahun lagi.'"
Air mata Puteri jatuh.
"Papa tidak pernah memintaku menikah denganmu."
"Tidak."
Lafiz menggeleng.
"Dia hanya meminta kita tidak menyerah sebelum benar-benar tahu apakah yang kita punya sudah berakhir."
Puteri memalingkan wajah.
"Tapi selama satu tahun itu, aku bertemu Jesse."
"Aku tahu."