Satu Tahun Lagi

Vitri Dwi Mantik
Chapter #2

Satu Tahun

Pukul delapan lewat lima puluh lima menit.

Ruang keluarga Rumah Kita tidak pernah setenang pagi itu.

Semua orang telah berkumpul. Kursi-kursi yang biasanya dipenuhi percakapan kini ditempati wajah-wajah tegang. Bahkan dua anak kecil yang sejak tadi berlarian akhirnya duduk diam di samping ibu mereka.

Puteri memilih sofa dekat jendela.

Jesse duduk di sebelahnya. Jemarinya sesekali menyentuh punggung tangan Puteri, cukup ringan untuk tidak menarik perhatian, tetapi cukup nyata untuk mengingatkannya bahwa ia tidak menghadapi pagi itu sendirian.

Di seberang mereka, Lafiz duduk dengan punggung tegak. Wajahnya terlihat tenang, meskipun pandangannya beberapa kali jatuh pada map cokelat di atas meja.

Map yang semalam dibuka Puteri.

Map dengan tulisan tangan Ayah Adrian.

Daisy duduk bersama putrinya, Mona, dan suami Mona, Rangga. Ia mengenakan blus berwarna gading dan kalung mutiara yang sama seperti kemarin. Kedua tangannya terlipat rapi di pangkuan.

Sulit menebak apakah ia sedang berduka, cemas, atau sekadar menunggu.

Tepat pukul sembilan, bel pintu berbunyi.

Mbak Rini segera membukanya.

“Silakan masuk, Pak.”

Seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun melangkah masuk dengan tas kerja kulit berwarna hitam. Rambutnya telah dipenuhi uban, tetapi langkahnya masih tegap.

“Selamat pagi,” sapanya. “Saya Bima Prasetyo, notaris keluarga almarhum Bapak Adrian Wikarya.”

Semua orang berdiri dan membalas salamnya.

Pak Bima menyalami Lafiz, kemudian Puteri.

“Terima kasih sudah bersedia hadir.”

Puteri mengangguk kecil.

Pak Bima mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan sebelum berkata, “Saya memahami bahwa pertemuan ini tidak mudah, terlebih setelah keluarga kehilangan Ibu Agniyah, Oma Mina, dan sekarang Bapak Adrian dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh.”

Puteri menunduk.

Nama Bunda Agniyah membawa kembali rasa kehilangan yang selama ini berusaha ia simpan jauh-jauh. Kepergian perempuan itu menjadi salah satu alasan Puteri meninggalkan Rumah Kita. Saat itu, bertahan terasa jauh lebih menyakitkan daripada pergi.

Namun kini ia kembali duduk di ruangan yang sama, dikelilingi semua kenangan yang pernah dihindarinya.

“Sesuai amanat almarhum,” lanjut Pak Bima, “surat wasiat ini harus dibacakan di hadapan keluarga.”

Ia duduk di kursi yang telah disediakan.

Tas kerjanya dibuka perlahan. Beberapa berkas dikeluarkan dan ditata di atas meja. Di antara dokumen-dokumen itu terdapat sebuah amplop putih yang telah dilindungi plastik bening.

Suasana ruangan semakin tegang.

Pak Bima mengenakan kacamata.

“Sebelum masuk ke ketentuan hukum, almarhum meminta agar pesan pribadinya dibacakan lebih dahulu.”

Puteri menahan napas.

Pak Bima membuka surat itu.

“Untuk keluargaku.”

Suaranya terdengar mantap, tetapi tidak kaku.

“Jika kalian berkumpul hari ini, berarti aku sudah lebih dahulu pulang kepada Tuhan.”

Beberapa orang mulai menunduk.

Pak Darto mengusap matanya dengan punggung tangan. Mbak Rini berdiri di dekat pintu sambil menggenggam ujung celemeknya.

“Jangan menangisi kepergianku terlalu lama. Rumah ini dibangun bukan untuk menjadi tempat berkabung, melainkan tempat orang-orang saling menguatkan.”

Puteri memejamkan mata sejenak.

Kalimat itu terdengar seperti Ayah Adrian sedang berdiri di tengah ruangan dan berbicara kepada mereka.

Sederhana.

Tenang.

Namun mampu membuat siapa pun merasa sedang dipeluk.

Pak Bima melanjutkan.

“Aku tahu akan ada yang kecewa dengan keputusanku. Mungkin ada pula yang marah. Namun percayalah, aku tidak mengambil keputusan ini dengan tergesa-gesa.”

Daisy mengubah posisi duduknya.

Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Puteri.

“Rumah ini bukan hadiah.”

Pak Bima berhenti sebentar.

“Rumah ini adalah titipan.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Puteri menatap sekelilingnya.

Dinding-dinding yang menyimpan foto keluarga. Tangga tempat ia dan Lafiz dahulu berlomba. Ruang makan yang selalu terlalu ramai. Halaman belakang yang dipenuhi suara anak-anak.

Ayah Adrian memang tidak pernah memperlakukan Rumah Kita sebagai miliknya sendiri.

Beliau hanya menjaganya agar orang lain selalu memiliki tempat untuk pulang.

“Karena itu,” lanjut Pak Bima, “rumah ini tidak boleh dijual, tidak boleh diagunkan, dan tidak boleh dibagi selama salah satu ahli waris masih menghendakinya tetap menjadi rumah keluarga.”

Bisikan pelan langsung terdengar dari beberapa sudut ruangan.

Mona mencondongkan tubuh kepada ibunya.

“Berarti rumah ini tidak bisa dijual?”

Daisy tidak menjawab.

Pak Bima mengangkat tangan, meminta semua kembali tenang.

“Pesannya belum selesai.”

Ruangan kembali sunyi.

“Hak kepemilikan Rumah Kita kuberikan kepada dua anakku, Lafiz Adrian Wikarya dan Puteri Adriani, dalam porsi yang sama.”

Puteri menoleh kepada Lafiz.

Laki-laki itu tetap diam.

Namun dari caranya menatap surat di tangan Pak Bima, Puteri menduga Lafiz belum mengetahui seluruh isi wasiat tersebut.

“Kalian berdua bebas menentukan masa depan masing-masing. Aku tidak ingin rumah ini menjadi belenggu, apalagi alasan untuk memaksakan perasaan yang sudah berubah.”

Jesse mengembuskan napas pelan.

Puteri merasakan ketegangan pada bahunya sedikit mereda.

Ayah Adrian tidak sedang memaksanya kembali kepada Lafiz.

Beliau tidak sedang mengatur siapa yang harus ia cintai.

Namun kalimat berikutnya membuat Pak Bima menghentikan bacaannya sejenak.

“Tetapi aku memiliki satu permintaan terakhir.”

Puteri kembali menahan napas.

“Aku meminta Puteri dan Lafiz tinggal di Rumah Kita selama satu tahun, terhitung sejak surat wasiat ini dibacakan.”

Udara di ruangan seperti menghilang.

Jesse menoleh cepat kepada Puteri.

Puteri membeku.

Di seberang mereka, Lafiz untuk pertama kalinya tampak kehilangan ketenangannya.

“Apa?” bisik Mona.

Daisy tidak mengatakan apa-apa, tetapi pandangannya menjadi lebih tajam.

Pak Bima kembali melihat surat.

“Jika setelah satu tahun kalian tetap memilih jalan hidup masing-masing, Ayah akan menghormati keputusan itu. Namun apabila masih ada kesempatan untuk menyelamatkan keluarga ini, jangan biarkan luka dan kesalahpahaman merampasnya sebelum kalian benar-benar mencoba.”

Pak Bima menurunkan surat tersebut.

“Itulah seluruh pesan pribadi almarhum.”

Tak seorang pun langsung berbicara.

Detak jam tua di sudut ruangan terdengar lebih jelas daripada sebelumnya.

Tik.

Tok.

Tik.

Tok.

Puteri memandangi Pak Bima, berharap ada penjelasan lain yang akan membuat permintaan itu terdengar lebih mudah.

Tidak ada.

Jesse menjadi orang pertama yang membuka suara.

“Maaf, Pak.”

Bahasa Indonesianya tetap fasih, meskipun aksen Belanda memberi irama berbeda pada beberapa kata.

“Apakah maksud Ayah Adrian, Puteri dan Lafiz harus tinggal di rumah ini bersama-sama?”

“Benar.”

“Selama satu tahun penuh?”

“Ya.”

Jesse mengangguk perlahan.

“Apakah itu merupakan syarat hukum?”

Beberapa orang ikut mengangkat kepala.

Lihat selengkapnya