Keesokan paginya, Rumah Kita kembali hidup.
Suara sapu lidi menyapu halaman bercampur dengan kicau burung yang bersarang di pohon flamboyan tua. Dari dapur terdengar denting piring dan tawa Mbak Rini bersama para pegawai yang telah bekerja di rumah itu selama bertahun-tahun.
Puteri berdiri di balkon kamarnya.
Udara pagi masih sejuk. Embun menggantung di ujung daun anggrek yang berjajar di sepanjang taman.
Dulu, setiap kali membuka jendela, Ayah Adrian sudah lebih dahulu berada di halaman.
Menyiram tanaman.
Memeriksa pot-pot bunga.
Sesekali beliau mendongak ke arah kamar Puteri.
"Bangun! Matahari tidak menunggu orang malas!"
Puteri tersenyum kecil.
Refleks ia hampir mengangkat tangan untuk membalas lambaian yang tak lagi ada.
Senyumnya perlahan memudar.
Halaman itu kini kosong.
"Masih suka melamun di balkon yang sama?"
Suara Lafiz terdengar dari balkon sebelah.
Rumah itu memang dirancang dengan dua balkon yang berdampingan, hanya dipisahkan pagar besi tempa setinggi dada.
Puteri menoleh.
Lafiz sedang menyiram tanaman.
Pot-pot anggrek, melati, dan suplir memenuhi sisi balkonnya.
"Kamu yang merawat semuanya?"
Lafiz mengangguk.
"Sejak Ayah sakit."
Puteri memandang bunga-bunga itu cukup lama.
"Masih hidup semua."
"Ayah mengajari cara merawatnya."
Lafiz tersenyum tipis.
"Katanya, tanaman itu seperti manusia. Kalau hanya disiram saat kita ingat, lama-lama mereka berhenti percaya kita akan kembali."
Puteri tertawa pelan.
"Itu benar-benar kalimat Ayah."
"Iya."
Keheningan kembali hadir.
Namun kali ini tidak terasa canggung.
Diam itu terasa seperti dua orang yang sedang belajar mengingat tanpa saling menyalahkan.
Ketukan pelan terdengar dari pintu kamar.
"Neng?"
Suara Mbak Rini.
"Sarapan sudah siap."
"Iya, Mbak."
"Semuanya sudah di bawah. Pak Jesse juga."
Puteri mengangguk.
"Terima kasih."
Ruang makan kembali ramai.
Beberapa anak Rumah Kita sudah lebih dulu duduk di meja.
Jesse berada di tengah mereka.
"Lontong..."
Ia berhenti sejenak.
"...sayurrr."
Anak-anak langsung tertawa.
"Bukan begitu, Om!"
"Kalau begitu, ajari saya."
Seorang anak perempuan maju sambil mengucapkan pelan.
"Lon-tong sa-yur."
Jesse mengulanginya dengan lebih baik.
"Begitu?"
"Ya!"
Anak-anak bertepuk tangan.
Puteri memperhatikan dari pintu.
Senyum tanpa sadar muncul di wajahnya.
Jesse memang memiliki kemampuan yang jarang dimiliki banyak orang.
Ia membuat siapa pun merasa diterima.
"Lihat."
Daisy berdiri di samping Puteri.
"Kamu memilih laki-laki yang baik."
"Iya."
Puteri tidak membantah.
"Dia memang baik."
Daisy mengangguk pelan.
"Laki-laki baik biasanya disukai anak-anak."
Tatapannya mengikuti Jesse yang kini membantu seorang anak menuangkan susu.
"Tapi hidup di rumah sebesar ini tidak hanya membutuhkan hati yang baik."
"Maksud Mpok?"
Daisy tersenyum samar.