Fajar baru saja menyentuh langit ketika Puteri membuka pintu kamarnya.
Rumah masih terlelap.
Tak terdengar suara anak-anak Rumah Kita berlarian di lorong. Tak ada suara gelak tawa dari halaman. Hanya desir angin yang menyelinap melalui jendela-jendela tua, membawa aroma tanah dan daun flamboyan yang semalam diguyur hujan.
Puteri berdiri beberapa saat di ambang pintu.
Lalu, tanpa benar-benar menyadarinya, ia melangkah.
Satu langkah.
Kemudian langkah berikutnya.
Seolah kedua kakinya telah hafal ke mana harus pergi.
Pintu utama.
Ruang tamu.
Perpustakaan.
Ruang makan.
Halaman belakang.
Ia berhenti sejenak di setiap tempat. Bukan untuk mencari sesuatu. Melainkan untuk merasakan sesuatu.
Begitulah Ayah Adrian melakukannya setiap pagi.
Kini Puteri mulai mengerti. Beliau tidak sedang memeriksa rumah. Beliau sedang memastikan rumah itu telah menyapa setiap orang yang tinggal di dalamnya, sebelum hari benar-benar dimulai.
"Ayah..." bisiknya pelan.
"Sekarang aku mengerti."
Ketika kembali memasuki rumah, langkahnya membawanya ke lantai atas.
Tangga kayu berderit lirih.
Di ruang tengah, cermin besar itu masih berdiri di tempatnya.
Tak pernah berpindah.
Tak pernah berubah.
Puteri berhenti tepat di depan cermin itu.
Ia tahu.
Di sinilah Ayah Adrian selalu mengakhiri perjalanan paginya.
Ia mengambil satu langkah kecil.
Lalu satu langkah lagi.
Hingga tanpa sadar... ia berdiri tepat di tempat yang dahulu menjadi kebiasaan Ayah Adrian.
Puteri menatap dirinya sendiri.
Lama.
Sangat lama.
Lalu, nyaris seperti sedang berbicara kepada orang lain, ia berbisik, "'Selamat pagi, Puteri.'"
Kalimat itu terasa asing di telinganya sendiri.
Sudah lama sekali... ia tidak menyapa dirinya.
Perlahan bibirnya bergetar.
Di dalam pantulan cermin itu... waktu seperti bergerak mundur.
Seorang anak perempuan kecil berlari menghampiri Ayah Adrian.
Tanpa ragu memeluk lengan beliau.
Ayah Adrian tertawa kecil.
Kemudian membungkuk merapikan rambut anak itu yang berantakan.
Sesudah itu... mereka berdiri berdampingan.
Menghadap cermin yang sama.
Puteri menahan napas.
Air matanya mulai mengaburkan pantulan.
"Puteri?"
Suara lembut itu datang dari belakang.
Ia tidak langsung menoleh.
"Puteri..."
Barulah ia mengusap matanya.
Jesse berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Aku memanggilmu dua kali."
"Maaf."
"Kamu melihat apa?"
Puteri kembali memandang cermin itu.
Pantulan Ayah Adrian telah menghilang.
Yang tersisa hanya dirinya sendiri.
Ia tersenyum kecil.
"Bukan melihat." Ia menarik napas panjang, "...aku ingat."
Jesse mengangguk pelan.
Ia tidak bertanya lagi.
Karena ada kenangan yang memang lebih baik dibiarkan selesai sendiri.
Puteri mengusap perlahan bingkai kayu jati yang mulai kusam dimakan usia. Jemarinya mengikuti ukiran flamboyan di sudut cermin.
Ayah Adrian pasti sudah menyentuh bagian ini ribuan kali.
Saat itulah matanya menangkap sesuatu.
Bukan pada cermin.
Melainkan pada pantulan jendela di belakangnya.
Dari tempat ia berdiri... halaman samping rumah tampak membentuk satu bingkai yang utuh.
Ia bergeser setengah langkah.
Pemandangan itu berubah.
Ia kembali ke posisi semula.
Bingkai itu kembali sempurna.
"Aneh..." gumamnya.
"Apa?" tanya Jesse.
"Sepertinya Ayah memang memilih tempat berdiri ini."
"Bukan sekadar kebiasaan."
Jesse ikut memperhatikan pantulan itu.
Tak lama kemudian ia ikut mendekati jendela.
Di luar, embun masih menggantung di ujung dedaunan.
Pandangan mereka sama-sama jatuh ke halaman samping.
"Bunga matahari..." gumam Puteri.
"Memangnya kenapa?" tanya Jesse.
"Rasanya... Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan mereka ditanam dengan bentuk melingkar."
Mereka berdiri beberapa saat dalam diam.
Kemudian Jesse tersenyum tipis.
"Coba hitung."
Puteri mengernyit.
"Menghitung apa?"
"Jumlahnya."
Puteri menurut.
"Satu..."