Satu Takbir Tertunda

Regina Mega P
Chapter #1

Kehilangan

“Malam takbir terakhir di rumah Aki.”

Maya berdiri diam, memandang nanar pada papan bertuliskan dijual yang berdiri tegak di halaman rumah penuh kenangan itu. 

Suara takbir menggema dari masjid di ujung jalan, bersahut-sahutan dengan suara bedug keliling dan kendaraan yang berlalu lalang. Dulu, suara itu selalu membuat dadanya hangat. Ada tawa, aroma opor dari dapur, dan Aki yang duduk di teras rumah sambil bercerita tentang lebaran dari tahun ke tahun bersama para cucunya. 

Tapi malam ini, semuanya terasa berbeda.

Rumah itu masih berdiri seperti biasa. Dindingnya mulai sedikit retak, jendela kayu yang berderit saat dibuka, dan lampu kuning yang menggantung di teras. Namun kehangatan yang dulu selalu ada, kini terasa tipis, seolah ikut memudar bersama waktu. Maya berdiri di ambang pintu, memandangi ruang tengah yang perlahan dipenuhi anggota keluarga. Mereka berbicara pelan, terlalu pelan untuk pembicaraan di malam takbiran. Tidak ada tawa lepas. Tidak ada cerita yang saling bertumpuk seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang ada hanya jeda, dan sesuatu yang tidak diucapkan.

Maya menghela napas kasar, tangannya mengepal. Baginya, rumah ini bukan sekadar tempat berkumpul. Di sinilah ia belajar membaca koran sampai tertidur di ruang tengah, menonton berita setiap pulang sekolah sebelum dijemput Ayah, menghafal perkalian dengan setengah mengeluh, dan mendengarkan dongeng para orang tua ketika Aki tengah berkumpul bersama kawan-kawannya, terutama cerita Aki tentang masa mudanya yang selalu berakhir dengan tawa. 

Kehilangan Aki saja sudah cukup sulit, tapi kehilangan rumah ini terasa seperti kehilangan Aki untuk kedua kalinya. Maya memejamkan mata sejenak. Ia masih bisa mengingat suara Aki ketika memanggilnya dari halaman, aroma nasi goreng kerak yang memenuhi dapur, atau suara batuk kecilnya setiap kali terlalu lama membaca koran. Hal-hal kecil yang dulu tidak pernah Maya pikir akan ia rindukan, kini justru menjadi bagian yang paling sulit ia lepaskan. Di luar, suara takbir semakin ramai. Beberapa anak berlarian membawa obor, sementara suara bedug terdengar dari ujung jalan. Lebaran tinggal beberapa jam lagi. Namun bagi Maya, malam ini terasa seperti akhir dari sesuatu.

Ia menatap kembali papan DIJUAL yang berdiri di halaman.

Benarkah setelah malam ini semuanya selesai? Tidak ada lagi pagi-pagi di rumah ini. Tidak ada lagi Aki yang duduk di teras. Tidak ada lagi suara sepupu-sepupunya berlarian. Tidak ada lagi alasan untuk datang dan berkumpul di tempat yang sama.

Maya menelan ludah. Mungkin itulah yang paling menakutkan dari kehilangan. Bukan ketika sesuatu benar-benar pergi, tetapi ketika kita sadar bahwa setelahnya, kita tidak akan pernah bisa mendapatkannya kembali dalam bentuk yang sama.

Suara piring beradu pelan dari dapur membuat Maya tersadar. Ia mengedipkan mata, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk lebih jauh ke dalam rumah. Aroma opor dan rendang yang dibuat Ibu juga Tantenya masih memenuhi udara, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun anehnya, tidak ada rasa hangat yang biasanya ikut menyelinap bersamanya.

“May, sini bantu ibu,” panggil seseorang dari dapur. 

Maya menoleh sekilas, lalu mengangguk kecil. Kakinya melangkah, tapi terasa berat seolah ada yang menahannya untuk tidak benar-benar masuk ke dalam keramaian itu. Di ruang tengah, beberapa anggota keluarga duduk melingkar. Percakapan mereka terdengar pelan, terpotong-potong, seperti sengaja dijaga agar tidak membesar.

“…ya mau gimana lagi…”

“…utangnya juga bukan sedikit…”

“…daripada makin panjang…”

“…dia nggak bisa ngandelin anak-anaknya, kerjanya juga kuli serabutan…”

Maya mempercepat langkahnya, melewati mereka tanpa menoleh. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak.

Lihat selengkapnya