“Malam takbir terakhir di rumah Aki.”
Maya berdiri diam, memandang nanar pada papan bertuliskan dijual yang berdiri tegak di halaman rumah penuh kenangan itu.
Suara takbir menggema dari masjid di ujung jalan, bersahut-sahutan dengan suara bedug keliling dan kendaraan yang berlalu lalang. Dulu, suara itu selalu membuat dadanya hangat. Ada tawa, aroma opor dari dapur, dan Aki yang duduk di teras rumah sambil bercerita tentang lebaran dari tahun ke tahun bersama para cucunya.
Tapi malam ini, semuanya terasa berbeda.
Rumah itu masih berdiri seperti biasa, dindingnya mulai sedikit retak, jendela kayu yang berderit saat dibuka, dan lampu kuning yang menggantung di teras. Namun kehangatan yang dulu selalu ada, kini terasa tipis, seolah ikut memudar bersama waktu. Maya berdiri di ambang pintu, memandangi ruang tengah yang perlahan dipenuhi anggota keluarga. Mereka berbicara pelan, terlalu pelan untuk pembicaraan di malam takbiran. Tidak ada tawa lepas. Tidak ada cerita yang saling bertumpuk seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang ada hanya jeda, dan sesuatu yang tidak diucapkan.
Maya menghela napas kasar, tangannya mengepal. Baginya, rumah ini bukan sekadar tempat berkumpul. Di sinilah ia belajar membaca koran sampai tertidur di ruang tengah, menonton berita setiap pulang sekolah sebelum dijemput Ayah, menghafal perkalian dengan setengah mengeluh, dan mendengarkan dongeng para orang tua, terutama cerita Aki tentang masa mudanya yang selalu berakhir dengan tawa.
Kehilangan Aki saja baginya sudah cukup sulit.
Tapi kehilangan rumah ini, terasa seperti kehilangan Aki untuk kedua kalinya.
Suara piring beradu pelan dari dapur membuat Maya tersadar. Ia mengedipkan mata, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk lebih jauh ke dalam rumah. Aroma opor dan rendang masih memenuhi udara, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun anehnya, tidak ada rasa hangat yang biasanya ikut menyelinap bersamanya.
“May, sini bantu ibu,” panggil seseorang dari dapur.
Maya menoleh sekilas, lalu mengangguk kecil. Kakinya melangkah, tapi terasa berat seolah ada yang menahannya untuk tidak benar-benar masuk ke dalam keramaian itu.
Di ruang tengah, beberapa anggota keluarga duduk melingkar. Percakapan mereka terdengar pelan, terpotong-potong, seperti sengaja dijaga agar tidak membesar.
“…ya mau gimana lagi…”
“…utangnya juga bukan sedikit…”
“…daripada makin panjang…”
Maya mempercepat langkahnya, melewati mereka tanpa menoleh. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak.
Tidak malam ini.
Tangannya menyentuh dinding yang terasa dingin saat berjalan menyusuri lorong menuju dapur. Ujung matanya kemudian tertuju pada sebuah pintu itu sedikit terbuka. Kamar Aki.
Maya berhenti sejenak di depannya.
Lalu mendorongnya perlahan.
Aroma khas itu masih ada.
Campuran minyak gandapura, buku-buku lama, dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Aroma yang selalu membuatnya merasa pulang. Kamar itu tidak banyak berubah. Ranjang berukuran besar di tengah kamar, lemari kayu tua, dan meja yang penuh dengan tumpukan kertas serta buku catatan.
Maya melangkah masuk.
Jarinya menyusuri permukaan meja, meninggalkan jejak tipis di atas debu yang mulai menumpuk.
“Kalau rumah ini dijual…” gumamnya pelan, “…apa semua ini juga akan hilang?”
Ia duduk dikasur. Kasur yang selalu dia datangi setiap kali ingin tidur siang.
Matanya mengedar kesekeliling lalu berhenti pada sebuah laci kecil di sisi meja. Entah kenapa, ia merasa tertarik. Perlahan, Maya membuka laci itu. Isinya tidak banyak, beberapa buku catatan, pulpen yang sudah mengering, dan tumpukan kertas yang mulai menguning. Ia menggeser satu per satu, tanpa benar-benar tahu apa yang ia cari.
Hingga tangannya berhenti.
Sebuah map cokelat, sedikit lebih tebal dari yang lain, terselip di bagian paling bawah.
Alis Maya berkerut.
Ia menarik map itu keluar.