Satu Takbir Tertunda

Regina Mega P
Chapter #2

Lebaran tanpa Aki

Pagi datang bersama gema takbir yang perlahan memudar. Cahaya matahari masuk melalui sela-sela jendela kayu rumah Aki, jatuh tipis di lantai ruang tengah yang masih dipenuhi toples kue dan gelas-gelas bekas semalam. Aroma opor kembali menyeruak dari dapur, bercampur dengan wangi karbol dan udara pagi setelah hujan ringan dini hari tadi. Semuanya masih sama. Namun entah kenapa, rumah itu terasa jauh lebih kosong.

Maya berdiri di depan cermin kecil di kamarnya sambil merapikan kerudung biru senada dengan baju muslim one set yang dipakainya, sedikit miring. Dari luar, suara keluarganya mulai terdengar sibuk. Ada yang memanggil anaknya, ada yang mencari peci, ada pula yang tertawa kecil karena sandal tertukar.

Suasana Lebaran tetap berjalan seperti biasa.

Hanya saja, ini adalah lebaran pertama tanpa Aki.

Maya menunduk pelan.

Biasanya, pagi seperti ini Aki sudah bersiap menuju masjid sambil dikelilingi para cucunya yang berjalan mengapit di kiri dan kanannya. Ia mengenakan baju koko putih dengan sarung abu-abu tua kesayangannya yang selalu dipakai setiap Lebaran. Tangannya sibuk menggenggam tangan cucu-cucunya, sementara mulutnya tak henti bercerita tentang suasana Lebaran di masa mudanya sepanjang perjalanan menuju masjid.

Sesampainya di sana, mereka akan berpisah menuju saf masing-masing. Setelah salat Id selesai, Aki tak pernah langsung pulang. Ia akan berkeliling lebih dulu, menyalami setiap orang tanpa terkecuali. Rumah demi rumah yang dilewati selalu ia datangi bersama para cucunya yang setia berada di kedua sisinya.

Meski hampir semua orang sudah tahu siapa para cucunya, Aki tetap akan memperkenalkan mereka satu per-satu dengan bangga, seolah mereka adalah pencapaian terbaik dalam hidupnya.

Setelah itu, barulah ia pulang dan duduk di kursi ruang tamu, tempat favoritnya untuk bersantai. Di sana, ia akan menunggu seluruh keluarganya datang bergiliran untuk menyalami tangannya, lengkap dengan senyum hangatnya tak pernah benar-benar lepas sejak pagi.

Namun sekarang kursi itu kosong.

Dan anehnya, tidak ada seorang pun yang duduk di sana sejak pagi tadi.

Seolah seluruh penghuni rumah diam-diam sepakat membiarkannya tetap menjadi milik Aki.

“May, ayo. Mau mulai keliling,” panggil ibunya dari luar kamar.

“Iya, Bu.”

Maya segera keluar dan bergabung dengan keluarga lainnya di ruang depan. Beberapa kerabat sudah datang lebih dulu untuk bersalaman sebelum mulai berkeliling ke rumah warga dan saudara lain.

Lihat selengkapnya