Hari kedua Lebaran selalu terasa berbeda. Tidak seramai hari pertama, tetapi juga belum benar-benar sepi. Rumah Aki masih dipenuhi aroma makanan yang dipanaskan kembali sejak pagi, suara gelas beradu dari dapur, dan sandal-sandal tamu yang berjajar di teras. Beberapa kerabat jauh masih datang bergantian untuk bersilaturahmi, meski suasananya tak lagi seramai kemarin. Namun bagi Maya, rumah itu terasa jauh lebih sunyi. Mungkin karena kini ia mulai sadar bahwa semuanya perlahan akan berakhir. Maya duduk di lantai ruang tengah sambil membantu ibunya menyusun kembali toples kue yang mulai kosong ketika suara seseorang memanggil namanya dari depan rumah.
“Mayaaa!”
Maya menoleh cepat. Senyumnya langsung melebar.
“Anne!”
Seorang gadis berhijab krem berlari kecil ke arahnya sebelum memeluknya erat. Maya tertawa pelan, membalas pelukan itu tanpa ragu.
Anne adalah anak dari kakak ibunya Maya, anak Aki yang pertama. Usia mereka nyaris sama, hanya terpaut empat bulan. Sejak kecil, hampir seluruh kenangan lebaran Maya selalu melibatkan Anne dan rumah Aki. Mereka pernah tidur berjejer di ruang tengah bersama sepupu-sepupu lain, saling berebut kipas angin karena kepanasan, lalu tertawa diam-diam sampai tengah malam. Mereka juga pernah berlari keliling halaman sambil menyalakan petasan saat malam takbiran, sebelum akhirnya dimarahi Aki karena hampir membakar pot bunga kesayangannya. Menjelang Lebaran, mereka akan sibuk membersihkan halaman rumah bersama-sama, menyapu daun kering, hingga mengelap jendela kayu yang sudah mulai kusam. Bukan karena rajin, melainkan karena Aki selalu memberi mereka beberapa lembar rupiah sebagai “upah”. Dan seperti biasa, uang itu akan langsung habis untuk membeli es krim atau petasan lagi.
Rumah itu selalu terasa hidup saat mereka berkumpul. Suara tawa para sepupu memenuhi setiap sudut rumah. Para ayah akan sibuk membakar jagung atau sate ayam di halaman belakang sambil mengobrol sampai larut malam, sementara para ibu tertawa bersama di ruang tengah, bergantian menyanyikan lagu lama dengan suara karaoke yang sumbang namun hangat. Dan di tengah semua keramaian itu, Aki selalu duduk di kursi kesayangannya, di ruang tamu sambil tersenyum kecil dengan Al-Qur’an saku ditangannya. Tidak banyak bicara. Hanya memperhatikan anak, cucu, dan rumahnya yang penuh kehidupan. Saat itu Maya belum pernah berpikir bahwa suatu hari, kenangan-kenangan sederhana seperti itu justru akan menjadi hal yang paling ia rindukan.
“Kenapa baru datang? Aku sedih sendiri dirumah ini,” ujar Maya.
“Iya. Dari tadi muter dulu ke rumah saudara Abah. Besok baru ke Jogja ke rumah Mbah,” jawab Anne sambil duduk di sampingnya. “Pasti berasa banget sepinya, ya?”
Maya tersenyum kecil. “Enggak kuat aku disini lama-lama. Ayah ngajak kerumah Emak lebaran hari keempat. Katanya nunggu yang lagi ‘ditunggu’.”
Anne menghela napas. Dia jelas tahu siapa yang sedang ditunggu oleh keluarganya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk sambil memperhatikan keramaian kecil di sekitar rumah. Anak-anak kecil berlarian di halaman, para orang tua mengobrol di ruang depan, sementara suara televisi terdengar samar dari kamar tengah.
Namun tetap saja, ada sesuatu yang hilang.
“Biasanya Aki udah ribut nyuruh kita makan dari tadi,” gumam Anne tiba-tiba.
Maya tertawa kecil, meski dadanya terasa sesak.
“Atau nyuruh kita ambilin korannya.”
“Atau marahin kita karena main petasan dekat tanaman.”
Keduanya tertawa bersamaan.
Dan untuk sesaat, rumah itu terasa hidup lagi.