Rencana berkunjung ke rumah orang tua ayah Maya hari itu akhirnya batal. Tidak ada yang benar-benar mengatakan alasannya, tetapi semua orang memahami. Setelah kabar yang disampaikan Aki Bayu kemarin, suasana rumah seperti kehilangan semangat untuk pergi ke mana pun. Tak ada satupun anak-anak Aki yang pulang hari itu. Juna, Ranti, Randi, Lukman, dan Ima, anak-anak aki, memutuskan menginap bersama keluarga masing-masing di rumah itu. Entah mengapa, ada perasaan yang sama menggelayuti hati mereka. Seolah-olah inilah malam-malam terakhir mereka dapat tidur di bawah atap yang telah menaungi begitu banyak kenangan.
Maya dan para sepupunya membentangkan beberapa matras tipis di ruang tengah, persis seperti yang selalu mereka lakukan setiap Lebaran. Bedanya, kali ini tidak ada yang saling berebut tempat paling dekat dengan kipas angin. Tidak ada bisik-bisik yang berubah menjadi tawa hingga dimarahi orang tua. Bahkan anak-anak kecil yang biasanya sulit diajak tidur pun malam itu lebih cepat terlelap, seakan ikut merasakan beratnya suasana rumah.
Sementara itu, orang tua mereka menempati lima kamar yang berjajar di sisi rumah. Pintu-pintu kamar tertutup rapat, tetapi lampunya masih menyala hingga larut. Dari balik dinding sesekali terdengar percakapan lirih yang segera terputus ketika langkah kaki melintas.
Rumah itu masih dipenuhi orang. Namun untuk pertama kalinya, Maya merasa rumah Aki terasa begitu sepi. Sepinya bukan karena tidak ada suara. Melainkan karena setiap orang sedang sibuk menyembunyikan perasaannya masing-masing.
Maya memejamkan mata. Lampu ruang tengah mulai dipadamkan karena sudah hampir tengah malam. Namun, dia sulit terpejam. Setiap kali memandang langit-langit ruang tengah, ingatannya kembali pada percakapan sore tadi. Percakapan yang membuat rumah itu seolah kehilangan kehangatannya.
"Aku masih nggak nyangka rumah ini harus dijual secepat ini," ucap Juna saat itu.
Suaranya pelan, tetapi cukup membuat ruang tengah mendadak sunyi.
Aki Bayu yang duduk di dekat jendela menarik napas panjang. Tatapannya mengarah ke halaman, ke arah papan DIJUAL yang berdiri tegak di depan rumah.
"Mamang juga nggak ingin seperti ini, Jun."
"Tapi, Mang..." Juna menatap pamannya dengan mata yang dipenuhi kekecewaan. "Kalau memang rumah ini harus dijual, kenapa pembagiannya seperti ini?"
Aki Bayu mengangkat wajah perlahan. "Maksud kamu?"
Juna menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Aku nggak ngerti soal hukum waris atau aturan agama, Mang. Tapi sebagai anak kandung bapak, rasanya kami juga berhak tahu kenapa pembagiannya seperti ini."
Ruangan kembali hening. Tak seorang pun berani menyela. Pertanyaan itu sebenarnya bukan hal baru. Sudah bertahun-tahun ia berputar di kepala anak-anak Aki, hanya saja tak pernah benar-benar diucapkan demi menghormati kakak-adik yang masih hidup.
Aki Bayu menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat di atas lutut.
"Mang, kami bukan tidak menghargai Mamang," lanjut Juna dengan nada yang mulai melembut. "Kalau memang dari dulu pembagiannya seperti itu, kenapa kami baru mengetahuinya sekarang? Kenapa baru dibicarakan ketika rumah ini akan dijual?"