Satu Takbir Tertunda

Regina Mega P
Chapter #5

Kenangan

Pagi itu, rumah Aki akhirnya benar-benar sepi. Lebaran seolah telah usai lebih cepat dari biasanya.Tidak ada lagi tamu yang datang membawa kotak kue. Tidak ada lagi anak-anak kecil yang berlarian sambil memamerkan uang Lebaran. Bahkan suara takbir yang masih sesekali terdengar dari televisi kini telah berganti menjadi acara berita pagi. Rumah yang sejak beberapa hari lalu dipenuhi tawa perlahan kembali menjadi rumah tua yang sunyi. 

Maya membuka pintu depan. Udara pagi masih terasa sejuk. Embun belum sepenuhnya mengering dari rerumputan di halaman. Pohon mangga di samping rumah bergoyang pelan diterpa angin. Matanya berhenti pada sebuah papan yang berdiri tak jauh dari pagar.

DIJUAL.

Besok.

Pembeli akan datang besok.

Maya memandangi papan itu cukup lama, sampai embun yang menempel di rerumputan mulai menguap diterpa matahari pagi. Rasanya baru kemarin ia berdiri di tempat yang sama, berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan hilang begitu ia terbangun. Namun pagi itu, kenyataan justru terasa semakin dekat. 

Satu hari lagi.

Hanya tinggal satu hari sebelum orang asing datang melihat rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat mereka pulang. Rumah yang menyimpan suara tawa para sepupu, aroma masakan nenek yang kini hanya tinggal kenangan, juga suara Aki yang selalu memanggil satu per satu nama cucunya menjelang waktu makan.

Maya menarik napas panjang. Ia merasa waktu berjalan terlalu cepat. Seolah setiap detik sengaja berlari meninggalkannya, sementara ia masih berdiri di tempat yang sama, belum menemukan cara untuk menyelamatkan apa pun. Perlahan ia berbalik menuju dapur, tangannya bergerak otomatis mengambil piring-piring kotor yang menumpuk di dekat bak cuci. Air keran mengalir membasahi jemarinya, tetapi pikirannya entah berada di mana. Ia mencuci satu piring, lalu piring berikutnya tanpa benar-benar menyadari apa yang sedang dikerjakannya.

Sementara itu di dapur, aroma bawang goreng mulai memenuhi ruangan. Ibunya sedang menghangatkan sisa opor semalam. Anne sibuk memotong ketupat menjadi potongan-potongan kecil, sementara Ima mengelap piring yang sudah bersih dan menatanya ke dalam lemari. Biasanya, dapur adalah sudut rumah yang paling ramai. Di sinilah para ibu saling bertukar cerita, para anak mencuri kerupuk sebelum makan siang, dan Aki akan datang dengan secangkir kopi di tangannya hanya untuk mengintip isi panci.

"Masaknya banyak amat. Mau ngundang satu kampung?"

Kalimat itu hampir selalu disambut tawa.

Namun pagi itu, yang terdengar hanya bunyi air mengalir, denting sendok yang beradu dengan panci, dan sesekali suara pisau mengenai talenan. Tak seorang pun benar-benar diam. Tetapi tak ada juga yang memulai percakapan. Keheningan itu baru pecah ketika Anne membuka penanak nasi.

"Eh, Tan..."

Semua menoleh.

"Nasinya masih banyak." Anne memperlihatkan isi penanak nasi yang masih menyisakan cukup banyak nasi semalam.

Ranti tersenyum kecil. "Kalau bapak masih ada, nasi segitu mah nggak bakal bersisa."

Maya menghentikan aktivitasnya mencuci piring. Ia menoleh pelan. Sementara, Anne ikut tertawa kecil.

"Iya! Aki pasti langsung bilang, 'Sayang kalau dibuang. Sini, Aki bikin nasi goreng kerak.'"

Mendengar itu, sudut bibir semua orang perlahan terangkat. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, mereka mengenang Aki tanpa langsung menangis.

"Aku paling suka bagian keraknya," sela Maya sambil terkekeh pelan.

Anne langsung mengangguk cepat.

"Apalagi kalau Aki sengaja nempelinnya agak lama di wajan."

"Terus ditambah irisan cabai rawit," sahut Ima.

"Eh, bukan," potong Ranti sambil tertawa kecil. "Aki selalu masukin bawang merah gorengnya terakhir."

"Bukan, Tante…” Anne menggeleng. "Aki masukin kecap dulu."

"Telur dulu tau!” Maya menimpali.

"Kecap dulu."

"Telur!"

Lihat selengkapnya