Pagi itu, suara dua mobil yang berhenti di depan pagar rumah memecah keheningan. Maya spontan mengangkat kepalanya. Dari teras, ia melihat dua mobil berwarna hitam terparkir berdampingan. Pintu mobil pertama terbuka lebih dulu, memperlihatkan Aki Bayu turun dengan langkah pelan. Di belakangnya menyusul seorang pria berjas rapi yang menjinjing tas kulit berwarna hitam.
Beberapa detik kemudian, pintu mobil kedua ikut terbuka. Dua pria lain keluar dengan pakaian yang tak kalah rapi. Salah seorang di antaranya bertubuh besar dengan kemeja putih berlengan panjang yang disetrika licin. Sebuah jam tangan berwarna perak melingkar di pergelangan kirinya, sementara sorot matanya menyapu seluruh halaman rumah dengan tatapan datar yang membuat Maya merasa tidak nyaman. Tatapan itu bukan tatapan seseorang yang datang untuk bersilaturahmi, melainkan tatapan seseorang yang sedang menilai sesuatu yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
Saat itu Maya, Anne, dan tiga sepupu lainnya sedang duduk melingkar di teras, bermain gim di atas selembar tikar. Tawa mereka yang sejak tadi memenuhi halaman mendadak terhenti. Kelimanya saling berpandangan, lalu perlahan berdiri. Tak seorang pun mengucapkan sepatah kata.
Begitu Aki Bayu melangkah mendekat, mereka tetap menyalaminya satu per satu.
"Assalamu'alaikum, Ki."
"Wa'alaikumsalam."
Aki Bayu membalas sambil mengusap kepala cucu-cucunya bergantian. Senyum tipis terbit di wajahnya. Senyum yang berusaha tampak hangat, tetapi tak mampu menyembunyikan letih di balik kedua matanya.
Ketika sampai di hadapan Maya, langkahnya sempat terhenti.
"Neng, Maya…”
Maya mengangguk pelan. Ada jeda disana, namun Aki Bayu memilih untuk tidak melanjutkan.
"Sehat, Ki." Maya berusaha ramah.
“Alhamdulillah.”
Hanya itu. Tak ada percakapan lain. Namun dalam anggukan singkat itu, Maya menangkap sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Rasa bersalah.
Entah mengapa, untuk sesaat ia merasa Aki Bayu tidak sedang datang sebagai orang yang ingin mengambil rumah ini. Ia datang sebagai seseorang yang terpaksa melakukan sesuatu yang bahkan ia sendiri berharap tidak pernah terjadi.
Perasaan itu hanya berlangsung sekejap karena beberapa langkah di belakang Aki Bayu, pria bertubuh besar itu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Matanya berhenti pada dinding depan, lalu bergeser ke jendela kayu, atap, ke halaman belakang yang terlihat dari samping rumah dan tak ada sedikit pun kekaguman di wajahnya. Yang ada hanyalah tatapan seorang pembeli yang sedang menghitung nilai sebuah aset.
Bagi Maya, rumah itu adalah tempat lahirnya kenangan. Namun bagi mereka, rumah itu hanyalah bangunan yang memiliki harga.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Juna, Lukman dan Ayah Maya menyambut mereka di teras. Tak ada pelukan, yang ada senyum hangat seperti biasanya ketika keluarga datang dan jabat tangan singkat yang terasa canggung.
"Silakan masuk," ucap Juna.
Notaris itu mengangguk sopan.
"Terima kasih."
Mereka mulai melangkah memasuki rumah, diawali dengan obrolan ringan bersama Juna, Randi, Lukman, dan ayah Maya yang berusaha menyambut mereka sebaik mungkin meski senyum yang terukir terasa begitu dipaksakan.
"Silakan, Pak. Mari masuk.”
"Terima kasih."
Langkah kaki mereka bergema pelan di lantai keramik yang mulai kusam dimakan usia.
Dari kejauhan, Maya mengikuti bersama Anne dan beberapa sepupunya. Mereka berjalan tanpa suara, hanya saling bertukar pandang seolah takut kehilangan satu detik pun dari apa yang sedang terjadi.
Orang-orang asing itu mulai membuka setiap pintu. Mereka memasuki kamar demi kamar, memperhatikan langit-langit, mengetuk dinding dengan buku-buku jari, lalu mengamati bunyi yang dihasilkan. Sesekali salah seorang dari mereka mengusap kusen jendela dengan telapak tangan, memastikan kayunya masih kokoh. Di teras belakang, pria bertubuh besar itu bahkan meminta sebuah tangga untuk memeriksa bagian atap. Beberapa genteng diangkat perlahan, lalu dipasang kembali setelah selesai diperiksa.
Sementara pria berjas yang membawa tas kulit sibuk menuliskan sesuatu di buku catatannya. Sesekali ia mengangguk kecil sambil melirik denah rumah yang berada di dalam map.
"Struktur bangunannya masih cukup bagus," katanya.
"Renovasi terakhir kapan, Pak?"
Aki Bayu menoleh kepada Juna sejenak sebelum menjawab pelan.
"Kurang lebih delapan tahun yang lalu. Setelah bapak saya sakit, beberapa bagian rumah memang sempat diperbaiki."
"Kalau bagian atap?"
"Sebagian sudah diganti sekitar tiga tahun lalu." Lukman menjawab, karena dulu yang mengganti atapnya adalah dirinya.
Percakapan mereka terdengar datar, tenang, profesional. Namun setiap kalimat yang keluar terasa seperti mengikis sedikit demi sedikit kenangan yang tersimpan di dalam rumah itu. Bagi mereka, yang sedang dinilai adalah kualitas dinding, kekuatan kusen, dan usia genteng. Sementara bagi Maya, di balik dinding yang mereka ketuk, tersimpan suara tawa para sepupu yang saling berkejaran saat Lebaran. Di kamar yang mereka ukur luasnya, Aki pernah mengajarinya membaca koran setiap pagi, dan di teras belakang yang kini diperiksa kondisi atapnya, Aki selalu duduk setiap sore sambil menyeruput kopi dan menunggu azan Magrib berkumandang.
Rumah itu bukan sekadar bangunan. Rumah itu adalah tempat di mana kenangan-kenangan mereka tumbuh. Namun hari itu, kenangan-kenangan itu sedang dihitung nilainya, seolah semuanya bisa diukur dengan angka dan tanda tangan di atas selembar kertas.
Hampir satu jam mereka berkeliling. Sebelum pulang, notaris menyalami seluruh keluarga.
"Kami akan menghubungi kembali setelah semua berkas selesai."