Maya masih berdiri mematung. Gelas yang tadi berada di tangannya sudah pecah berserakan di lantai. Namun ia tidak lagi mendengar suara pecahan kaca itu. Suara Anne yang memanggil ibunya karena panik juga tak terdengar di telinganya, bahkan ia juga tidak mendengar langkah kaki orang-orang yang mulai mendekat. Telinganya hanya fokus pada satu suara yang selama ini hanya ada dalam ingatannya.
Suara yang hampir satu tahun tidak lagi memanggil namanya.
“Kamu kenapa, May?” Suara itu terdengar begitu dekat.
Maya menatap lelaki tua di depannya dengan mata yang tidak berkedip. Aki masih sama. Rambut putihnya. Kerutan di sudut matanya. Kaus putih lusuh dan sarung kotak-kotak yang selalu dipakainya di rumah.
Semuanya sama. Benar-benar sama.
“Aki…” Suara Maya bergetar. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, pandangannya mulai berkunang-kunang. Kakinya kehilangan tenaga.
“Loh! Maya…” Seseorang berteriak.
Tubuh Maya perlahan jatuh, tetapi tidak sampai menyentuh lantai. Seseorang menangkap tubuhnya yang limbung.
“Woy! May, bangun.” Suara laki-laki muda terdengar panik.
Maya membuka matanya sedikit. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah seseorang yang tidak asing. Namun ada sesuatu yang membuatnya semakin bingung.
“Yudis.”
Laki-laki itu mengerutkan kening.
“Kenapa lo? Aneh gitu lihat gue!”
Maya menatapnya lama.
Yudis, kakak Anne. Tetapi yang membuatnya terpaku bukan hanya wajah itu. Melainkan pakaian yang dikenakannya. Seragam Akpol. Padahal dalam ingatannya, Yudis sudah menjadi polisi.
Maya mencoba memahami apa yang terjadi. Tidak masuk akal. Semua terasa seperti potongan kenangan yang bercampur.
Rumah ini.
Aki.
Yudis.
Semuanya terasa benar, tetapi juga terasa salah.
“Maya, kamu tadi ikut sahur kan?” tanya Aki khawatir.
Maya tidak menjawab. Matanya kembali mencari sosok yang paling membuat pikirannya kacau. Aki berjalan mendekat dengan wajah penuh khawatir sambil membawa pengki dan sapu.
“Kenapa sampai jatuh begini?”
Maya menatapnya. Air mata perlahan memenuhi matanya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat wajah dan mendengar suara yang dirindukannya.
“Aki…”
Aki tersenyum kecil, bingung dengan sikap cucunya. “Iya, Nak. Kamu kenapa? Mau buka dulu aja puasanya?”