Maya tidak pernah menyangka bahwa hal-hal sederhana bisa terasa begitu berharga. Dulu, ia selalu menganggap malam-malam seperti ini sebagai rutinitas biasa. Terawih bersama keluarga di hari-hari terakhir ramadhan. Lalu mendengar Aki berbicara dengan para tetangga sepanjang perjalanan menuju masjid. Mendengar suara langkah Aki yang khas, membuat dadanya penuh.
Aki masih berjalan dengan langkah yang sama. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Sesekali ia berhenti hanya untuk menyapa orang yang mereka temui. Bersalaman dengan sangat antusias seolah baru pertama kali bertemu setelah sekian lama.
“Alhamdulillah lebaran kali ini bisa kumpul semua, ya Ki.”
“Alhamdulillah. Mudah-mudahan nggak ada lagi pandemi-pandemi yang bikin nggak bisa kumpul sama keluarga. Padahal, kan seusia Aki kumpul sama keluarga itu udah kayak obat yang wajib diminum rutin.” Aki tersenyum lebar.
Maya hanya memperhatikan dari samping. Senyum di wajah itu, cara Aki tertawa. Semuanya adalah hal yang pernah ia miliki, dan sekarang ia mendapatkannya kembali.
“May, dari tadi diam saja. Kenapa?”
“Nggak, kok. Maya perhatiin Aki takut jatuh.” Maya kemudan menggandeng tangan Aki.
“Ada-ada aja.” Aki tersenyum kecil.
“Bukan karena melamun banyak pikiran?”
“Enggaklah, Ki. Lagian Maya mau mikirin apa? Baju lebaran kan udah beli.”
Aki tertawa. “Masih aja minta baju lebaran kamu tuh.”
“Tahun ini kan kita pakai baju kembaran, Ki.”
“O, iya ya. Tante Ima bilang hari pertama pakai baju Abu-abu, hari kedua pakai biru muda. Ada-ada aja kalian ini.”
“Biar kompak pas di foto, Ki.” Masih teringat jelas foto lebaran tahun ini, Aki terlihat sangat bersemangat dengan senyum yang sangat lepas.
“Ya, udah sana ambil tempat sama Anne. Tapi jangan terlalu belakang dan jangan banyak bercanda. Terawih hari ke dua puluh lima banyak pahalanya.”
“SIAP!” Maya mengatakannya penuh semangat. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Maya merasa tidak ingin memikirkan hari esok. Malam itu, ia hanya ingin berjalan bersama Aki. Mendengar suaranya. Menggenggam tangannya. Dan menyimpan setiap detik yang masih diberikan kepadanya. Karena mungkin inilah arti sebenarnya dari kesempatan kedua.
Setelah salat tarawih selesai, rumah kembali ramai. Suasana yang beberapa jam lalu tenang, perlahan berubah menjadi hangat. Suara langkah kaki memenuhi teras. Beberapa anak kecil berlarian sambil membawa makanan ringan. Para orang tua duduk berbincang sambil menikmati teh hangat yang dibuat Ibunya Maya. Sementara di teras depan, Yudis bersama para Om sedang berbincang santai. Maya dan Anne baru saja masuk kerumah sehabis tarawih, ketika Yudis langsung menoleh ke arah mereka.
Senyumnya terlihat mencurigakan. Maya sudah tahu. Kalau Yudis sudah tersenyum seperti itu, pasti ada saja yang ingin ia goda.
“Cieeee… yang terawihnya merhatiin mulu si Farhan sama si Ardi.”
Maya dan Anne saling pandang.
“Ih, apa sih!” Anne malu-malu.
Yudis tertawa. “Pura-pura.” Ia menoleh ke arah Aki yang sedang duduk di kursi teras sambil menikmati teh. “Ki, tadi dua cucu Aki ini kayaknya tarawihnya nggak khusyuk.”
Aki langsung mengangkat alis. “Nggak khusyuk kenapa?”
Anne langsung panik. “Aa, jangan mulai!”
Yudis tertawa semakin lebar. “Soalnya dari tadi matanya sibuk nyari Ardi.”
Maya langsung menahan tawa.
Ardi.
Anak tetangga rumah Aki yang sejak dulu selalu menjadi bahan pembicaraan setiap kali cucu-cucu perempuan Aki datang ke rumah. Bukan tanpa alasan. Ardi memang dikenal pintar, rajin mengaji, dan ramah pada siapa saja. Itu yang membuat Maya dan Anne menyukainya.
“Apaan sih, Aa!” Anne langsung merengek.
Yudis menunjuknya. “Ya kan benar? Terawihnya berapa rakaat tadi, coba?”
Anne mendelik. “Tau lah Aa juga pasti merhatiin teh Dian, ya. The Dian kan sebaris solatnya sama kita.” Teh Dian adalah perempuan yang selalu menjadi incarannya Yudis sejak dulu, tapi dia tidak pernah berani mengungkapkannya.