Maya terbangun sebelum alarm berbunyi. Waktunya sahur. Suasana kembali hidup. Suara televisi, suara derap langkah cepat berkali-kali terdengar beradu dengan lantai. Juga suara piring yang berdenting. Untuk beberapa detik, Maya menatap langit-langit kamar. Ada rasa asing yang masih tersisa setiap kali ia membuka mata. Dalam hatinya, ia berharap ketika membuka mata, ia akan kembali berada di tempat terakhir dirinya berada. Di rumah yang sudah tidak lagi sama. Di masa ketika Aki hanya tinggal nama dan kenangan. Namun pagi ini, suara orang-orang di luar kamar kembali menyadarkannya.
“Maya, sudah bangun? Ayo sahur dulu.”
Aki.
Maya menutup matanya. Menahan sesuatu yang memenuhi dadanya. Dulu, suara itu begitu biasa. Sekarang, suara itu seperti hadiah Tuhan untuknya.
“Iya, Ki.” Maya keluar kamar.
Di akhir Ramadan seperti ini, sekitar pukul tiga dini hari, rumah Aki sudah benar-benar hidup. Lampu dapur menyala terang. Para Ibu sibuk menyiapkan makanan sahur dan Para Ayah yang sebagian ikut membantu, sebagian sudah duduk di ruang tengah sambil menonton acara sahur.
Anne dan sepupu-sepupu lainnya masih terlihat mengantuk sambil membawa piring masing-masing. Ada yang menguap. Ada yang masih setengah sadar. Ada yang mengeluh karena masih ingin tidur. Semuanya terlihat sederhana. Bahkan mungkin bagi mereka, sedikit melelahkan. Namun bagi Maya pemandangan itu terasa seperti sesuatu yang sangat mahal. Suara-suara kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan. Tawa yang dulu ia anggap biasa. Orang-orang yang dulu ia pikir akan selalu ada kini berdiri di hadapannya. Maya berdiri sebentar di ambang pintu. Merekam semuanya dalam diam karena untuk pertama kalinya ia memahami sesuatu. Ternyata yang paling dirindukan seseorang bukanlah momen besar. Bukan perayaan yang mewah. Bukan sesuatu yang istimewa. Terkadang, yang paling dirindukan hanyalah pagi sederhana. Ketika semua orang masih ada.
“Bentar lagi kita bakal kangen ramadhan terakhir dirumah Aki.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Anne.
Maya yang sedang mengambil gelas langsung berhenti. Tangannya menggantung di udara. Untuk sesaat, suara riuh sahur di sekeliling mereka terasa menjauh. Apa mungkin, Anne juga mengalami hal yang sama seperti dirinya? Apa mungkin dia juga tahu bahwa suatu hari nanti, momen seperti ini akan menjadi sesuatu yang sangat dirindukan? Maya menatap Anne lama. Namun sepupunya itu hanya menatap piring di depannya sambil tersenyum kecil.
“Kenapa ngomong begitu?” tanya Maya pelan.
Anne mengangkat bahu. “Nggak tahu. Cuma kepikiran aja.”