Maya masih memandangi kucing oranye yang sejak tadi berada dipangkuannya. Sudah hampir sepuluh menit ia duduk di bale belakang tanpa melakukan apa-apa. Hanya mengusap bulu lembutnya. Merasakan hangat tubuh kecil yang terasa begitu familiar.
“Aku masih merasa kamu aneh. Apa mungkin kamu benar-benar ikut aku dari masa itu?” Maya berbisik. Semenara kucing itu hanya membuka mata sebentar, lalu kembali menutupnya, seolah berkata ‘jangan khawatir.’ Meski begitu, Maya tetap tak habis pikir. Bagaimana bisa dia juga terjebak? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang tak pernah dia ketahui tentang kucing ini.
Maya tersenyum kecil. “Apapun tujuan kamu, makasih ya selama ini selalu ada untukku.”
Angin pagi berembus pelan. Maya menatap halaman rumah Aki. Pemandangan belakang rumah yang sama. Teduh, sejuk, nyaman, meski dalam rentang waktu yang berbeda.
Maya menarik napas panjang. Selama ini ia hanya memikirkan satu hal, bagaimana cara dia menyelamatkan rumah. Bagaimana caranya agar Aki Bayu mengurungkan niatnya untuk menjual rumah. Tapi semakin lama ia berada di sini, semakin ia sadar. Sepertinya, rumah ini bukan satu-satunya hal yang harus ia selamatkan.
“Maya.” Suara itu membuat Maya menoleh.
Aki berdiri tidak jauh dari bale dengan kaus putih dan sarung kesayangannya. “Kamu dari tadi di sini?”
Maya buru-buru berdiri. “Iya, Ki.”
Aki melihat kucing yang masih berada di pangkuannya. “Lho, akhirnya dia mau juga sama kamu.”
Maya mengernyit. “Maksudnya?”
Aki duduk di sebelahnya. “Biasanya dia nggak gampang dekat sama orang.”
Maya menatap kucing itu. “Ini kucing Aki?”
“Iya. Waktu itu Aki nemu dia pas mau ke warung, ngikutin terus jadi Aki bawa aja ke rumah.” Aki tersenyum.
“Dulu waktu pertama kali datang, dia juga begitu. Diam saja. Nggak mau dekat sama siapa-siapa, maunya sama Aki aja. Pas Aki bawa badannya kecil banget sekarang udah sebesar ini si Molen.”
Maya terdiam. Molen? Jantungnya berdetak lebih cepat. Molen, induk kucing Olen yang ia kenal di masa depan. Tapi, kucing itu mati tertabrak mobil pada tahun 2023. Kucing yang meninggalkan empat anak kecil, salah satunya Olen. Maya perlahan menatap kucing yang sedang nyaman di pangkuannya.
Tidak mungkin.
Mata itu. Bulu oranye dengan pola putih kecil di bagian dada dan ear tip di telinga kirinya. Maya masih mengingatnya, karena ia yang membawanya ke dokter hewan untuk di steril. Maya juga yang selama ini membantu Tante Ima merawatnya ketika Aki sudah tidak ada.
Ini bukan Molen. Ini Olen. Anak Molen yang bahkan menurut ingatannya belum lahir. Tapi bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin kucing yang seharusnya baru lahir setahun lagi kini sedang tidur tenang di pangkuannya?
Maya menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia benar-benar merasa takut. Bukan karena ia berada di masa yang berbeda. Tapi karena mungkin, bukan hanya dirinya yang melakukan perjalanan waktu.
“Aki rawat dia karena dia juga butuh rumah.”