Satu Takbir Tertunda

Regina Mega P
Chapter #11

Jawaban dari Pertanyaan

Ramadan semakin mendekati akhir dan rumah Aki mulai kembali ramai. Setiap hari selalu ada saja yang datang. Tetangga bersilaturahmi, saling bertukar bahan masakan, atau mengantarkan hampers kue untuk Lebaran. Rumah yang beberapa hari lalu terasa lengang kini kembali dipenuhi suara orang berbincang dan tawa anak-anak.

Tante Ima bahkan membawa begitu banyak makanan dari kantornya. Begitu keranjang-keranjang itu diletakkan di ruang tengah, Maya dan sepupu-sepupunya langsung mengerubunginya. Mereka sibuk memilah makanan yang ingin dibawa pulang, sesekali berebut cokelat atau biskuit kesukaan masing-masing.

Maya tersenyum melihat keranjang itu. Ingatan lama tiba-tiba muncul begitu saja di kepalanya. Dulu, ia pernah mengambil cokelat terlalu banyak dari keranjang Tante Ima. Bukan satu atau dua, tetapi hampir memenuhi kedua tangannya. Sampai akhirnya Aki memergokinya.

“May, itu punya siapa?”

“Punya Maya.”

“Kok banyak sekali?”

“Maya suka.”

Aki kemudian mengambil beberapa cokelat dari tangannya dan membagikannya kepada sepupu-sepupu yang lain.

“Kalau suka, bukan berarti boleh diambil semua. Harus berbagi.”

Dulu Maya hanya manyun. Sekarang, kenangan itu justru membuatnya tersenyum. Tangannya perlahan mengambil beberapa cokelat dari keranjang.

Satu.

Dua.

Tiga.

Lalu lebih banyak lagi. Anne yang melihatnya langsung tertawa.

“Ih, curang coklatnya diambil semua!”

Maya hanya tersenyum licik. Ia tahu persis apa yang akan terjadi. Dan benar saja, “Maya.” Suara Aki terdengar dari belakang.

Maya menoleh. Aki berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Cokelatnya jangan diambil semua.”

Maya menahan senyum. “Tapi yang ini Maya suka. Ini juga, terus yang ini…”

“Bagi sama yang lain.”

Maya memandangi wajah Aki. Wajah yang dulu membuatnya kesal karena selalu menyuruhnya berbagi. Sekarang, suara teguran sederhana itu justru terasa seperti sesuatu yang paling mahal di dunia. Maya menyerahkan beberapa cokelat kepada Anne dan sepupu yang lain hingga Maya hanya menyisakan dua coklat untuk dirinya sendiri.

“Sudah, Ki.”

Aki tersenyum puas sebelum kembali berjalan. Maya menatap punggungnya. Dulu ia berharap Aki berhenti memarahinya. Sekarang, ia rela melakukan kenakalan yang sama berulang kali hanya untuk mendengar suara itu sekali lagi. Karena kelak, suara sederhana itu akan menjadi salah satu hal yang paling ia rindukan seumur hidupnya.

Setelah itu, anak-anak kembali bermain di halaman. Meski sedang berpuasa, mereka tetap berlarian ke sana kemari, saling mengejar dengan pistol air mainan yang entah sejak kapan ditemukan di gudang belakang. Sesekali mereka berhenti karena kehabisan napas, lalu kembali tertawa dan berlari sebelum orang dewasa memarahi mereka karena terlalu berisik. Semuanya terasa begitu hangat. Laiknya sebuah keluarga yang tidak pernah mengenal kehilangan.

Maya berdiri di teras, memperhatikan mereka satu per satu. Anne yang tertawa paling keras. Sepupu-sepupunya yang saling menyiram meski tahu air itu tidak akan mengenai siapa pun. Suara Tante Ima yang sesekali berteriak menyuruh mereka berhenti berlari. Kemudian netranya terpaku pada Aki yang duduk dengan tasbih yang melingkar di pergelangan tangannya, dan mulut yang terus melantunkan dzikir, sambil terus memperhatikan cucu-cucunya dengan senyum kecil. Pemandangan sederhana yang dulu tidak pernah ia pikir akan dirindukannya. Kini justru menjadi sesuatu yang ingin ia simpan selama mungkin.

Maya menarik napas pelan. Ia ingin waktu berhenti. Hanya sebentar. Agar sore seperti ini tidak pernah selesai. Namun ia tahu, waktu tidak akan memberinya kesempatan semudah itu karena ia pernah melihat akhirnya. Suatu hari nanti, halaman ini akan lebih sepi. Suara tawa akan berkurang dan kursi-kursi yang biasa diduduki akan kosong. Dan saat itu tiba, rumah ini mungkin tidak lagi menjadi tempat semua orang pulang.

Maya menggenggam ujung bajunya. Ia tidak tahu berapa lama kesempatan ini akan diberikan kepadanya. Tapi kali ini, ia berjanji tidak akan menyia-nyiakannya. Kalau waktu memang tidak bisa dihentikan, setidaknya ia ingin mengingat setiap detiknya.

***

Sore harinya, Maya membantu Aki merapikan beberapa buku di ruang belakang. Sebenarnya ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Aki. Kemanapun Aki pergi, Maya akan selalu mengekorinya. Meski sesekali Aki menyuruhnya bermain dengan sepupu yang lain, tapi kali ini Maya menolak. Dia tidak akan menyia-nyiakan setiap detik bersama Aki. Kemudian, Aki membawa tumpukan dokumen lama di rak untuk dipilah mana yang masih terpakai, dan mana yang sudah tidak terpakai. Pikirannya kembali pada satu hal.

Surat rumah.

Masalah yang menjadi awal dari semuanya.

“May, coba pilah bagian sini. Kalau ada kertas yang sudah rusak atau sudah nggak kepakai, masukkan ke kardus itu.”

Lihat selengkapnya