Satu Takbir Tertunda

Regina Mega P
Chapter #12

Surat dari Masa Lalu

Setiap pagi, Maya selalu menyempatkan diri datang ke kamar Aki. Kadang hanya untuk melihat Aki sedang salat. Kadang membaca Al-Qur'an di sudut kamar. Kadang hanya duduk sebentar sambil mendengarkan suara halaman koran yang dibalik. Setelah itu, Maya biasanya pergi. Entah kenapa, melihat Aki melakukan rutinitas sederhana itu saja sudah membuat hatinya tenang.

Namun pagi ini berbeda. Maya ingin tinggal lebih lama. Ia duduk di tepi tempat tidur, menghirup pelan aroma minyak pijat dan parfum khas aroma kayu manis dan sedikit aroma bunga, yang masih melekat di bantal Aki. Aroma yang begitu akrab. Aroma yang selama ini tidak pernah ia sadari akan sangat ia rindukan. Pandangannya kemudian berkeliling. Sebuah kotak kayu kecil di atas lemari menarik perhatiannya. Maya mengambilnya. Ketika dibuka, isinya berupa foto-foto lama, beberapa catatan kecil, dan surat-surat yang sudah mulai menguning.

Maya membacanya satu per satu. Sebagian hanya catatan sederhana. Nomor telepon, daftar belanja, tanggal ulang tahun anak-anak. Bahkan ada catatan tentang jadwal membayar listrik. Hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa. Namun bagi Maya, semuanya terasa seperti potongan kehidupan Aki yang selama ini tidak pernah ia kenal. Sampai tangannya berhenti pada sebuah amplop kecil.

Amplop itu berbeda. Lebih bersih. Lebih rapi. Dan yang membuat Maya semakin penasaran, ada tulisan tangan di bagian depannya. Maya membacanya perlahan.


Untuk keluarga Prawira.

Anak dan cucu.


Maya membeku. Keluarga Prawira. Nama keluarga mereka. Tangannya perlahan membalik amplop itu. Tidak ada nama penerima lain. Maya menelan ludah. Apa ini? Surat wasiat? Pesan terakhir? Atau sesuatu yang selama ini sengaja Aki simpan? Rasa penasaran membuat jarinya mulai membuka bagian penutup amplop. Namun sebelum sempat melihat isinya suara langkah kaki terdengar dari luar kamar. 

Maya langsung menoleh. Aki berdiri di ambang pintu. Tatapannya jatuh pada kotak kayu yang terbuka di tangan Maya. Kemudian pada amplop yang belum sempat ia keluarkan. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang. Maya merasa jantungnya berhenti berdetak.

Namun, Aki tidak marah. Tidak pula bertanya dengan suara tinggi. Ia hanya menatap amplop itu cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan,

“Kamu menemukan surat itu, May?”

Maya menahan napas. “Ki...”

Aki tersenyum kecil. Lalu menghampiri, dan duduk di sampingnya.Maya menatap surat itu. “Aku cucu, kan Ki berarti boleh lihat, ya.” Maya terkekeh.

“Ya, boleh saja. Sengaja Aki tulis ini kalau suatu hari nanti, Aki tidak bisa mengutarakannya langsung.”

Maya membeku. Kata-kata itu terasa seperti pukulan. 

“Maya.”

“Iya, Ki?”

“Kadang manusia terlalu sibuk mempertahankan sesuatu yang dia cintai, sampai lupa bertanya, apakah sesuatu itu memang harus dipertahankan.”

Maya menatap wajah Aki. Untuk pertama kalinya ia merasa takut. Bukan takut kehilangan rumah. Tapi takut bahwa mungkin Aki sendiri sudah tahu apa yang akan terjadi. Maya masih memegang amplop itu. Tangannya terasa dingin. Padahal ruangan itu tidak berubah.

Masih kamar Aki yang sama dengan aroma gandapura dan minyak pijat yang memenuhi ruangan, juga suara kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan. Tapi entah kenapa, semuanya terasa berbeda.

“Ki...”

Lihat selengkapnya