Dua hari menjelang lebaran.
Waktu terasa begitu cepat. Kehidupan yang dulu hanya bisa Maya kenang, kini kembali menjadi kesehariannya. Pagi mengaji bersama Aki, membantu pekerjaan rumah meski sering kali Aki mengatakan ia tidak perlu ikut. Duduk membaca koran di ruang tengah, menemani Aki menyiram tanaman dan bermain bersama Anne serta sepupu-sepupunya sampai ditegur karena terlalu berisik. Lalu menunggu waktu berbuka bersama keluarga, menghitung menit sampai azan terdengar dari masjid.
Hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah Maya anggap istimewa, sekarang terasa seperti sesuatu yang ingin ia simpan selamanya. Ia bahkan mulai hafal suara langkah Aki dari kejauhan. Tahu kapan Aki sedang menuju dapur hanya dari suara sandal yang bergeser di lantai. Lebih peka, dan selalu berusaha ada setiap kali Aki membutuhkannya. Dan ketika Maya mendengar Aki dimanapun berada, Maya selalu menoleh. Seolah memastikan Aki masih ada. Untuk sementara, Maya berhenti memikirkan bagaimana semua ini bisa terjadi. Ia tidak lagi terlalu sibuk mencari jawaban tentang kucing oranye itu, tentang surat yang belum selesai ia baca, atau tentang bagaimana dirinya bisa kembali ke masa lalu. Ia hanya ingin menikmati semuanya. Selama masih diberi kesempatan.
Pagi itu, halaman rumah kembali dipenuhi suara tawa. Maya dan sepupu-sepupunya bermain perang-perangan menggunakan pistol air yang mereka temukan entah dari mana. Meski sedang berpuasa, mereka tetap berlarian ke sana kemari, berusaha menghindari tembakan sambil tertawa.
Anne bersembunyi di balik pohon.
“May, ih! Kamu ke sana!”
Maya justru ikut bersembunyi di tempat yang sama.
“Aku duluan di sini.”
“Ih, aku!”
“Ya sudah, kita sembunyi bareng.”
Anne hendak protes ketika tiba-tiba seseorang muncul dari arah belakang.
Cetassss!
Semburan air mengenai mereka berdua.
“Menang!”
Ardi berdiri beberapa langkah dari mereka sambil tertawa puas. Ia bahkan tidak ikut bermain sejak awal.
“Ih, apa sih. Nggak ikut main juga!”
“Siapa bilang Kakak nggak boleh ikut?”
“Lagian udah gede ikut-ikutan mulu!”
Ardi tak peduli, dia kembali mengangkat pistol airnya. Maya dan Anne langsung berlari.
“Lari, An!”
Mereka berdua berhamburan ke halaman, sementara Ardi mengejar dari belakang. Maya tertawa sampai hampir kehilangan napas. Salah satu sepupunya tiba-tiba muncul dari balik pintu dan membuatnya terkejut.
“AAAA!”
Maya berteriak, lalu ikut berlari sambil tertawa. Untuk beberapa detik, ia lupa bahwa dirinya pernah kehilangan semua ini, lupa pada masa depan yang menunggunya, juga lupa bahwa suatu hari halaman ini akan jauh lebih sepi. Ia hanya menjadi Maya yang berusia dua belas tahun. Seorang anak yang sedang berlari tanpa tujuan, tertawa bersama sepupu-sepupunya, di halaman rumah Aki pada bulan Ramadan. Dan mungkin, inilah yang paling ia rindukan. Bukan sesuatu yang besar. Hanya perasaan bahwa semua orang yang ia sayangi masih berada di tempatnya.
Namun tiba-tiba, cahaya putih menyambar pandangannya. Maya memejamkan mata.
“Ah!”
Tangannya refleks menutup wajah. Langkah kakinya terhenti.
“Maya?” Suara Anne terdengar dari kejauhan.
Maya tidak langsung menjawab.