Ramadhan memasuki hari-hari terakhirnya. Rumah Aki justru semakin ramai. Sejak pagi, semua orang sibuk mempersiapkan kemungkinan Lebaran jatuh esok hari. Sore nanti, mereka akan menunggu pengumuman hilal bersama-sama. Namun para ibu tidak mau mengambil risiko. Dapur sudah dipenuhi berbagai bahan masakan yang akan diolah menjadi hidangan Lebaran. Bumbu rendang sudah dihaluskan. Santan untuk opor sudah disiapkan. Bawang merah dan bawang putih memenuhi beberapa wadah di meja dapur. Ada juga cabai, kentang, ketupat, dan berbagai bahan makanan lain yang sejak pagi sudah mulai dipilah. Sesekali terdengar suara Tante Ima memanggil salah satu sepupunya untuk mengambil sesuatu.
Sementara itu, para bapak tidak kalah sibuk. Juna dan Randi memindahkan beberapa kursi agar ruang tengah terasa lebih lega. Lukman sibuk mencuci kursi-kursi plastik di halaman. Ada pula yang memeriksa kendaraan, memastikan semuanya siap jika besok harus berkeliling mengunjungi keluarga. Semua orang seperti tahu apa yang harus dilakukan.
Hanya Maya yang tidak tahu harus melakukan apa. Ia duduk di bale belakang, memandangi kesibukan dari kejauhan. Seharusnya ia ikut senang. Ini adalah suasana Lebaran yang selama ini ia rindukan. Namun sejak kilatan cahaya itu muncul, hatinya tidak pernah benar-benar tenang. Terlebih setelah beberapa kali melihat tubuh kucing oranye itu seperti berubah-ubah. Kadang terlihat begitu nyata. Kadang bulunya seperti memudar di depan matanya. Seolah-olah ada bagian dari keberadaannya yang perlahan ditarik kembali oleh sesuatu yang tidak bisa Maya lihat.
Maya mengusap kedua lengannya sendiri. Apakah hari ini hari terakhirnya di sini? Pikiran itu kembali muncul. Bagaimana jika setelah pengumuman hilal nanti, ia tiba-tiba terbangun di masa depan? Bagaimana jika besok ia sudah tidak bisa lagi melihat Aki? Tidak bisa lagi mendengar suara Aki memanggil namanya.
Maya menunduk.Ia belum siap. Padahal selama beberapa hari terakhir, ia sudah berusaha menerima bahwa semua ini mungkin tidak berlangsung selamanya. Tetapi mengetahui sesuatu akan berakhir dan benar-benar mengalaminya adalah dua hal yang berbeda.
“May.”
Suara itu membuat Maya menoleh. Aki berdiri beberapa langkah di belakangnya. Di tangannya ada sebuah buku yang sedang dibacanya.
“Kok sendirian?”
Maya menggeleng. “Nggak apa-apa, Ki.”
Aki duduk di sampingnya.
“Dari tadi Aki lihat kamu sering melamun.”
Maya tersenyum kecil. “Lagi mikir.”
“Mikir apa?”
Maya tidak langsung menjawab. Ia langit yang terang dengan udara yang sejuk.
“Aki, kalau besok Lebaran, Aki senang?”
Aki tertawa kecil. “Ya senanglah. Memangnya kenapa?”
“Karena semua orang ada di sini.”
Aki mengangguk. “Alhamdulillah.”
Ia memandang anak-anak dan cucunya yang sedang sibuk. “Aki paling senang kalau rumah ramai begini.”
Maya menatap wajah Aki. “Kalau suatu hari rumah ini nggak seramai sekarang gimana?”
Aki terdiam sebentar. Kemudian tersenyum. “Ya, mungkin memang begitu nanti.” Jawaban sederhana itu justru membuat dada Maya semakin sesak.
“Aki nggak sedih?”
“Sedih, pasti.” Aki memandang halaman. “Rumah yang ramai memang menyenangkan. Tapi anak-anak punya hidup masing-masing. Cucu-cucu juga nanti tumbuh.”
Ia menoleh kepada Maya.
“Kalau semua orang tetap tinggal di sini terus, kapan mereka punya kesempatan membangun hidupnya sendiri?”
Maya terdiam.
Aki menepuk pelan tangannya. “Kenapa tanya begitu?”
Maya menunduk. “Nggak tahu.”
Aki memperhatikannya beberapa saat. Kemudian suaranya menjadi lebih lembut. “Kamu takut sesuatu?”
Maya menggigit bibir. Hampir saja ia menjawab. Aku takut kalau ternyata aku harus pergi. Namun kalimat itu tidak pernah keluar. Ia hanya menggeleng.
“Aku cuma... takut waktu berjalan terlalu cepat.”
Aki tersenyum. “Memang begitu.”
Maya menatapnya. “Kadang Maya pengin waktu berhenti.”
Aki tertawa kecil. “Kalau waktu berhenti, Aki maunya muda terus.”
Maya ikut tersenyum.
“Tapi Aki happy di usia sekarang?”
Aki berpikir sebentar. “Ya, happy.” Aki tersenyum. “Karena sekarang Aki sudah punya kalian. Cucu-cucu Aki yang soleh, solehah.”
Maya menahan napas. Matanya mulai terasa panas. Aki tidak tahu betapa mahal kalimat itu baginya. Ia tidak tahu bahwa Maya sedang berusaha menghafal wajahnya. Senyumnya. Suaranya. Bahkan cara tangannya menepuk punggung tangan Maya.
“May.”
“Iya?”
“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan, bilang saja.”
Maya menatapnya. Untuk sesaat, ia ingin mengatakan semuanya. Tentang masa depan. Tentang rumah. Tentang Aki yang selamanya tinggal di Tanah Suci. Tentang betapa ia merindukannya bahkan ketika Aki masih duduk tepat di sampingnya.
Namun akhirnya Maya hanya menggeleng. “Enggak ada.”
Aki tidak memaksa. Ia hanya mengusap kepala Maya seperti yang biasa dilakukannya. “Kalau begitu jangan banyak melamun.”
Maya tertawa kecil. “Iya, Ki.”
Aki berdiri dan kembali masuk ke rumah.
Maya masih duduk di bale. Ia menatap punggung Aki sampai menghilang di balik pintu. Kemudian pandangannya jatuh pada kucing oranye yang sedang tidur di bawah meja. Untuk sesaat, tubuhnya kembali terlihat samar. Maya membeku. Jantungnya berdegup keras. Ia mulai benar-benar takut. Mungkin Aki benar. Waktu memang terus berjalan. Dan mungkin, waktunya di sini sudah hampir habis.
Sore itu, setelah semua orang kembali sibuk mempersiapkan hidangan untuk berbuka, Maya masih berada di bale belakang. Ia duduk sambil memeluk lutut. Pandangannya kosong. Sejak pagi, perasaan itu semakin kuat seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Namun, ia tidak tahu kapan dan bagaimana. Tetapi Maya merasa waktunya bersama Aki semakin sedikit.
“Maya.”
Suara Aki terdengar dari belakang. Maya menoleh. Aki berdiri sambil membawa dua gelas teh.
“Temani Aki sebentar.”
Maya menggeser tubuhnya. Aki duduk di sampingnya dan menyerahkan satu gelas untuk diminum saat berbuka. “Terima kasih, Ki.”
Beberapa saat mereka hanya diam. Angin sore bergerak pelan melewati halaman. Dari dalam rumah terdengar suara orang-orang mempersiapkan makanan. Sesekali terdengar tawa sepupu Maya.
“Sudah seminggu kamu di sini.”
Maya mengangguk.