Maya terbangun dengan napas pendek. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit putih, tapi bukan langit-langit kamar yang biasa ia lihat. Cat putih. Gorden biru muda. Lampu yang terlalu terang. Suara monitor yang berbunyi teratur dari samping tempat tidur, juga selang kecil terpasang di hidungnya. Sementara bau obat dan cairan pembersih memenuhi udara.
Rumah sakit.
Maya terdiam. Tubuhnya terasa pegal, terutama bagian punggung dan leher. Tangannya terasa kebas seperti terlalu lama berada dalam satu posisi. Ia mencoba mengangkat tangan. Berat sekali. Maya mengerutkan kening ketika melihat selang infus terpasang ditangannya.
“Apa ini?” Suaranya terdengar serak.
Di samping tempat tidur, Ibu yang sejak tadi tertidur dengan kepala bersandar di sisi ranjang langsung terbangun. Matanya membesar.
“May?”
Maya menoleh. “Ibu...?”
Ibu berdiri begitu cepat sampai kursinya hampir bergeser. “Ya Allah, Maya!” Tangannya langsung meraih tangan Maya.
“Kamu bangun, Nak?”
Maya hanya menatap ibunya dengan bingung. “Ibu, kita di mana?”
Pertanyaan itu membuat wajah Ibu berubah. “Di rumah sakit, Nak.”
“Rumah sakit?”
Maya mencoba mengingat. Terakhir yang ia ingat adalah halaman rumah Aki. Suara takbir, suara petasan dan bedug keliling, angin malam, pendar cahaya putih dan Aki yang tersenyum dari ambang pintu. Maya menelan ludah.
“Kenapa Maya di rumah sakit?”
Ibu tidak menjawab. Ia justru menekan tombol panggil di samping tempat tidur.
“Dokter! Sus, anak saya sudah sadar!”
Maya semakin bingung.
“Bu...”
“Iya, Nak. Ibu di sini.”
“Ini tahun berapa?”
Ibu terdiam. Tatapannya berubah menjadi khawatir. “Kamu jangan banyak bicara dulu.”
“Tapi, Bu...”
“Dokter sebentar lagi datang.”
Maya merasa bingung. Pikirannya berputar, bahkan mungkin kepalanya mulai berputar. Sminggu. Ia baru saja menghabiskan hampir satu minggu di masa lalu bersama Aki dan keluarga besarnya. Ia bahkan baru saja kembali. Tapi kalau memang ia sudah kembali kenapa bukan rumah Aki? Kenapa rumah sakit?
Maya kembali memandang kedua tangannya. Selang infus, gelang pasien. Selimut putih, semua terasa nyata.
“Bu...”
Ibu menggenggam tangannya lebih erat. “Apa, sayang?”
“Aki di mana?” Pertanyaan itu membuat Ibu terdiam.
Untuk beberapa detik, hanya suara monitor yang terdengar. Maya menatap wajah ibunya.
“Aki di mana, Bu?”
Mata Ibu mulai berkaca-kaca. Sebelum ia sempat menjawab, pintu kamar terbuka. Seorang dokter dan perawat masuk. Dokter menghampiri Maya, memeriksa monitor dan kondisinya.
“Maya, bisa dengar saya?”
Maya mengangguk.
“Bisa.”
“Bagus. Kamu tahu sekarang berada di mana?”
“Rumah sakit.”
“Bagus. Kamu tahu hari apa?”
Maya terdiam. Ia mencoba mengingat. Kemudian menjawab pelan, “Lebaran?”
Dokter menatap Ibu sekilas. Sementara Maya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan jawabannya.
“Kenapa?”
Dokter tersenyum menenangkan. “Kita bicara pelan-pelan dulu, ya. Kamu baru sadar setelah beberapa hari.”
Maya membeku.
“Beberapa hari?” Ia menoleh kepada Ibu. “Berapa lama Maya tidur?”
Ibu menggenggam tangannya. “Bukan tidur, Nak.”
Suara Ibu bergetar. “Kamu pingsan.”
Maya terdiam. “Pingsan?”
Ibu mengangguk. “Sudah beberapa hari.”
Maya merasa seluruh tubuhnya kembali dingin.
“Terus...”
Ia menelan ludah. “Semua yang Maya alami?”
Tidak ada yang langsung menjawab. Maya menatap mereka satu per satu. “Aki?”