Seminggu kemudian, Maya mulai kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Ia kembali bersekolah, mengerjakan tugas, bertemu teman-temannya, dan menjalani hari-hari yang perlahan kembali terasa normal. Hanya saja, ada sesuatu dalam dirinya yang sudah berubah. Ia tidak lagi melihat waktu sebagai sesuatu yang biasa. Setiap pagi ketika membuka mata, ia selalu teringat bahwa ada begitu banyak hal sederhana yang sebenarnya layak disyukuri.
Sesuai yang diceritakan Ayah malam itu, rumah Aki akhirnya resmi dijual. Namun, dua hari sebelum rumah tersebut benar-benar berpindah tangan, Ayah, Ibu, dan Maya kembali ke sana untuk mengambil beberapa barang yang masih bisa digunakan.
Maya tidak membawa banyak. Ia hanya memilih beberapa benda yang menurutnya memiliki arti. Salah satunya kursi rotan yang biasa diduduki Aki di ruang tengah dan sarung abu-abu yang sering dipakainya ketika salat. Maya mengangkat sarung itu ke wajahnya. Aromanya masih sama. Ada bau gandapura yang samar bercampur dengan wangi bunga yang entah berasal dari mana. Maya memejamkan mata. Untuk sesaat, ia kembali berada di kamar Aki. Mendengar suara mengaji, suara sandal di lantai dan mendengar Aki memanggil namanya. Ia tersenyum kecil sebelum melipat sarung itu dan memasukkannya ke dalam tas.
Saat sedang membereskan barang-barang di kamar, Maya tiba-tiba mendengar suara gerakan kecil dari bawah kasur. Ia berhenti.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban. Maya berjongkok dan mengintip ke bawah kasur. Sepasang mata menatapnya dari kegelapan. Maya membelalak.
“Olen!”
Kucing oranye itu perlahan keluar dari bawah kasur. Tidak ada luka. Tidak ada bekas goresan. Tubuhnya sehat seperti tidak pernah menghilang selama berhari-hari. Bulu oranyenya juga masih sama. Bintik putih di dadanya masih terlihat jelas. Begitu pula tanda kecil di telinga kirinya. Maya langsung berjongkok dan memeluknya.
“Kamu ke mana aja, sih?”
Olen hanya diam. Ia malah mengendus wajah Maya berkali-kali, seperti sedang memastikan bahwa orang di hadapannya benar-benar Maya.
Maya tertawa kecil di sela rasa lega yang memenuhi dadanya. “Kamu tahu kita semua nyariin kamu?”
Olen mengeong pelan. Maya mengusap kepalanya.
“Aku kira kamu hilang.”
Kucing itu kembali menatapnya lama. Kemudian, sesaat, Maya melihat sesuatu dari mata Olen. Kilatan cahaya putih. Maya terdiam. Cahaya itu hanya muncul sepersekian detik sebelum menghilang. Ia mengerjapkan mata sementara Olen masih menatapnya seperti biasa.
Maya tidak tahu harus menganggapnya apa.Mungkin hanya pantulan cahaya. Mungkin juga bukan. Namun kali ini ia tidak ingin mencari jawabannya yang terpenting, Olen ada di sini. Hidup dan sehat. Dan entah bagaimana, kucing itulah yang menemaninya sepanjang perjalanan yang sampai sekarang tidak mampu dijelaskan oleh siapa pun.
Maya mengusap kepala Olen sekali lagi. “Mulai sekarang kamu ikut aku, ya.”
Olen mengeong pelan.
“Aku bakal rawat kamu baik-baik.” Maya tersenyum.
“Kalau bukan karena kamu, mungkin aku nggak akan pernah bisa kembali ke sana.”
Ia tidak tahu apakah Olen benar-benar mengerti. Namun kucing itu hanya menyandarkan kepalanya pada tangan Maya.
Maya kemudian berdiri. Pandangannya berkeliling kamar dan saat itulah matanya jatuh pada sesuatu di bagian bawah lemari. Sebuah kotak kayu.
Maya membeku. Ia mengenalinya.Kotak yang sama, yang pernah ia buka di masa lalu. Kotak yang berisi foto-foto lama, catatan kecil, dan surat-surat milik Aki. Maya perlahan berjongkok di hadapannya. Tangannya menyentuh permukaan kayu yang mulai kusam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menoleh kepada Olen yang kini duduk di sampingnya.
“Kamu tahu sesuatu, ya?”
Olen hanya berkedip. Maya kembali menatap kotak itu. Untuk sesaat, ia merasa seolah masa lalu belum benar-benar selesai berbicara dengannya. Dan mungkin masih ada satu hal yang belum ia temukan. Namun sebelum dia membukanya, dia memanggil Ayah dan Ibunya agar keduanya bisa melihat bukti bahwa dirinya memang pernah kembali ke masa itu.
“Bu, Yah!”