Satu Takbir Tertunda

Regina Mega P
Chapter #17

Lebaran

Lebaran kali ini terasa berbeda. Bukan karena rumah yang mereka tempati bukan lagi rumah Aki, melainkan karena mereka akhirnya memahami bahwa rumah memang bisa berpindah, tetapi kebersamaan tidak harus ikut pergi.

Keluarga Prawira akhirnya memutuskan untuk bergantian menjadi tuan rumah setiap Lebaran. Tahun ini, giliran rumah Uwak Juna. Seperti biasa, para sepupu sudah menginap sejak tiga hari sebelum Lebaran. Rumah kembali ramai oleh suara anak-anak bermain, percakapan orang dewasa yang sesekali diselingi tawa, makanan yang silih berganti keluar dari dapur, dan suara langkah kaki yang tidak pernah benar-benar berhenti sampai malam.

Pagi-pagi sekali, halaman sudah dipenuhi sandal. Ruang tengah penuh dengan bantal dan selimut yang belum sempat dirapikan. Anak-anak kecil berlarian sambil membawa mainan. Dari dapur terdengar suara ibu-ibu yang sibuk menyiapkan makanan, sementara para bapak duduk di teras membicarakan hal-hal yang entah mengapa selalu terdengar penting setiap Lebaran. 

Tidak ada yang berubah. Atau mungkin, banyak yang berubah, tetapi mereka semua memilih untuk mempertahankan hal-hal yang memang layak dipertahankan seperti makan bersama, bermain bersama, berkeliling dari satu rumah ke rumah keluarga yang lain, saling bersalaman, saling meminta maaf. Dan setiap tahun, mereka tetap menyempatkan diri mengunjungi makam Nenek. Hanya satu tempat yang belum bisa mereka datangi bersama.

Makam Aki di Tanah Suci.

Meski begitu, mereka tetap mengirimkan doa dari tempat mereka berada. Mereka percaya, sejauh apa pun jarak yang memisahkan, doa akan selalu menemukan jalan untuk sampai.

Maya kini kembali menjadi dirinya yang dulu. Lebih ceria, lebih cerah dan yang paling penting, ia tidak lagi hidup dengan ketakutan bahwa setiap kebahagiaan pasti memiliki batas waktu.

Sebelumnya, setiap kali melihat keluarganya tertawa, Maya selalu berpikir kapan semua itu akan berakhir. Ia terlalu sibuk menghitung waktu sampai lupa menikmati apa yang sedang berlangsung di hadapannya. Sekarang tidak lagi. Ia tidak tahu berapa lama rumah Uwak Juna akan menjadi tempat mereka berkumpul. Tidak tahu siapa yang akan menjadi tuan rumah tahun depan. Tidak tahu juga apakah sepuluh atau dua puluh tahun lagi mereka masih bisa berkumpul selengkap ini. Namun untuk pertama kalinya, Maya tidak merasa perlu mengetahui jawabannya. Selama hari itu masih ada, ia akan menikmatinya.

“An, May, makan!” Teriakan Yudis dari ruang tengah membuat Maya menoleh.

Anne langsung menggandeng tangannya. “Ayo. Kalau telat, habis sama anak-anak.”

Maya tertawa. “Iya, iya.”

Mereka berjalan menuju ruang makan.

Yudis pun masih sama. Meski sudah semakin dewasa dan bulan depan akan menikah, ia tetap menjadi orang pertama yang ikut bermain pistol air bersama sepupu-sepupu kecil setiap kali keluarga berkumpul. Pagi itu, Maya bahkan melihat Yudis berlari menghindari tembakan air sambil tertawa seperti anak SMP. 

“Aa, jangan curang!”

“Siapa suruh lambat!”

Seorang anak menembaki dirinya. “Woy, baju Aa basah nih!”

“Tinggal ganti aja, sih!” ucap anak lainnya.

Maya tertawa melihatnya. Seolah usia tidak pernah benar-benar menjadi alasan untuk berhenti menjadi anak-anak ketika sedang bersama keluarga. Dulu, Aki selalu mengatakan hal yang hampir sama. Jangan terlalu cepat merasa dewasa. Nanti kalau sudah dewasa, kalian malah kangen jadi anak-anak. 

Sekarang Maya mengerti maksudnya. Ada masa ketika seseorang tidak akan pernah bisa kembali. Maka selagi masih bisa, tertawalah. Selagi masih bisa, bermainlah. Selagi masih ada keluarga yang bisa dipeluk, jangan terlalu sibuk mencari alasan untuk pergi.

Sementara itu, Maya dan Anne mulai sibuk memikirkan masa depan. Mereka sudah mulai memilih kampus, membicarakan jurusan, bahkan sesekali berdebat soal kota mana yang ingin mereka tinggali.

Anne ingin kuliah Pendidikan dan Maya memilih Ilmu Komunikasi.

“Kenapa Ilmu Komunikasi?” tanya Ibu suatu malam.

Maya tersenyum. “Mungkin nanti Maya jadi jurnalis.”

Ibu mengangguk. “Atau pembaca berita,” lanjut Maya.

Ayah yang sedang membaca koran langsung menurunkannya. “Kenapa pembaca berita?”

Maya terkekeh. “Dulu Aki pernah nunjukin pembaca berita di televisi. Terus Aki bilang, kalau Maya mau tahu dunia lebih luas, jangan cuma lihat dari apa yang ada di depan mata.”

Ayah tersenyum.

Lihat selengkapnya