Sepuluh tahun berlalu. Maya akhirnya memahami bahwa waktu memang tidak pernah berhenti untuk siapa pun. Ia menyelesaikan kuliahnya, mulai bekerja, dan menjalani hidup yang perlahan membawanya jauh dari masa kecil. Ia tumbuh menjadi perempuan dewasa yang tidak lagi takut pada perubahan.
Termasuk ketika akhirnya ia menikah.
Sore itu, Maya bersama suaminya yang baru dinikahinya beberapa bulan lalu sedang berkeliling mencari takjil untuk berbuka. Jalanan mulai dipenuhi orang-orang yang baru pulang bekerja, anak-anak yang berlarian membawa jajanan, serta pedagang kaki lima yang sibuk melayani pembeli.
Setelah mendapatkan beberapa makanan dan minuman untuk berbuka, mereka sepakat mencari tempat ayam panggang untuk dijadikan menu makan malam. Maya duduk nyaman di kursi penumpang sambil menatap keluar jendela. Langit mulai berubah warna. Cahaya matahari sore perlahan meredup, sementara suara kendaraan dan aktivitas orang-orang menjelang Magrib memenuhi jalan.
Sesekali Maya melihat jam di dashboard. “Masih lama.”
“Apanya?”
“Magrib.”
Suaminya melirik jam. “Masih sekitar sejam lagi.”
Maya mengangguk, lalu kembali memandang keluar. Ramadhan terakhir. Entah kenapa, suasana Ramadan selalu membuatnya teringat pada hari terakhi dia dirumah Aki. Saat menjelang waktu berbuka di bale belakang dan pendar cahaya putih yang menjadi pintu baginya kembali dan ke masa dirinya yang nyata tinggal.
Maya tersenyum kecil. Kenangan itu tidak lagi membuatnya sedih. Justru terasa seperti sesuatu yang hangat. Sampai suara suaminya tiba-tiba memecah lamunannya.
“Sayang, aku mau nunjukin sesuatu.”
Maya menoleh. “Apa?”
“Ada, deh. Kamu pasti tahu.”
Maya mengernyit. “Apaan, sih?”
Suaminya hanya tersenyum. Hidup memang kadang selucu itu. Sebuah lelucon kecil di masa kanak-kanak bisa berubah menjadi doa. Dan sesuatu yang dulu hanya dianggap sebagai angan-angan, bertahun-tahun kemudian justru hadir dalam bentuk yang tidak pernah Maya bayangkan.
Maya kembali menikmati perjalanan. Sampai mobil itu memasuki sebuah jalan yang terasa begitu familiar. Maya perlahan menegakkan tubuh. Pepohonan di sepanjang jalan memang sudah jauh lebih besar. Beberapa rumah telah direnovasi. Ada pagar yang berganti, bangunan yang berubah, bahkan warung kecil di ujung jalan yang dulu sering ia datangi bersama Anne sudah tidak ada.
Namun Maya masih mengenal jalan ini. Setiap belokan, persimpangan. Jalan yang dulu sering ia lewati bersama Aki. Dadanya perlahan terasa sesak.
“Ardi.”
“Hm?”
“Ini jalan menuju rumah Aki, kan?”
Ardi hanya tersenyum kecil.
Maya langsung menatapnya curiga. “Kamu mau ke sana?”
“Kenapa?”
“Sudah lama banget kita nggak ke sana.”
Ardi tidak menjawab.
Mobil terus berjalan.
Semakin jauh mereka masuk, semakin banyak kenangan yang bermunculan di kepala Maya. Dulu, ia pernah berjalan bersama Aki menuju masjid lewat jalan ini. Setiap terawih, atau saat solat Idul Fitri maupun Idul Adha. Dan di ujung jalan ini, pernah berdiri sebuah rumah yang menurutnya akan selalu menjadi tempat pulang.
“Ardi...”
Kali ini suaminya hanya tersenyum. “Sebentar lagi kamu tahu.”
Maya menghela napas. Ada sesuatu yang disembunyikan laki-laki itu darinya. Dan semakin dekat mereka dengan tujuan, semakin kuat perasaan Maya bahwa kejutan ini bukan sesuatu yang biasa. Mobil akhirnya berhenti. Maya perlahan mengangkat wajah. Ia tidak langsung turun. Rumah itu berada tepat di hadapannya. Pagar depannya masih menghadap jalan yang sama. Pohon besar di sudut halaman masih ada, meski kini jauh lebih tinggi dan rindang.
Tetapi selain itu hampir tidak ada yang ia kenali. Rumah itu sudah berubah. Bangunan lama yang dulu hanya satu lantai kini menjadi rumah dua lantai dengan dinding berwarna putih dan jendela-jendela besar. Terasnya diperluas. Pagar kayu yang dulu sering menjadi tempat mereka duduk telah diganti dengan pagar batu. Halaman yang dulu dipenuhi sandal ketika keluarga berkumpul kini jauh lebih rapi. Bahkan bale kecil di belakang rumah yang dulu menjadi tempat Maya menunggu azan Magrib sudah tidak terlihat.
Maya turun dari mobil. Ia melangkah perlahan. “Sudah berubah...” gumamnya. Maya mulai mendekati pagar. Tangannya menyentuh permukaan batu yang dingin. Dulu, di tempat yang hampir sama, ia pernah berdiri sambil menangis karena tidak ingin rumah itu dijual. Dulu, ia mengira ketika rumah ini hilang, semua yang pernah terjadi di dalamnya juga akan ikut hilang.
Ternyata tidak.
Maya masih mengingat semuanya. Ruang tengah, dapur, kamar Aki, dan halaman depan tempat mereka bermain pistol air, juga bale belakang tempat mereka menunggu azan Magrib. Bahkan sudut tempat ia pernah menangis sambil memeluk kucing oranye milik Aki.
Olen kini sudah pergi, menyusul Aki. Namun sebelum pergi, Olen meninggalkan keturunan yang tidak kalah lucu darinya. Beberapa ekor kucing kecil yang masih sering berkeliaran di halaman rumah keluarga, seolah menjadi pengingat bahwa sesuatu yang pernah dicintai tidak selalu benar-benar berhenti meninggalkan jejak. Sejak Olen pergi, keajaiban itu juga tidak pernah terjadi lagi. Tidak ada lagi kilatan cahaya. Tidak ada lagi perjalanan aneh menembus waktu. Tidak ada lagi pagi ketika Maya membuka mata dan menemukan dirinya kembali bersama Aki.
Dulu, Maya sempat berharap Olen akan kembali suatu hari nanti. Bukan untuk membawanya ke masa lalu. Ia hanya ingin sekali lagi bertemu Aki. Sekali saja. Namun semakin ia berharap, semakin ia memahami bahwa mungkin memang tidak akan pernah terjadi.