Satu bulan setelah peristiwa di Club Ciputat, peta Tangerang Selatan berubah menjadi garis-garis wilayah yang panas. Renggo dan Black Ribal dibantu Red Viper memanfaatkan lubang yang terbuka.
Aroma kopi dan roti gandum panggang memenuhi dapur rumah keluarga Pramadita di Pamulang. Cahaya pagi masuk melalui jendela, memantul di atas permukaan meja makan yang bersih. Aurell sarapan dengan gerakan yang teratur. Sendok dan cangkirnya tertata dengan presisi di sisi piring.
Langkah kaki cepat memecah ketenangan. Aura masuk ke dapur, Ia melempar ponsel ke atas meja tepat di samping piring Aurell. Layarnya menampilkan portal berita lokal, foto penggerebekan Red Viper terhadap wilayah Wild Liar. Sosok bermasker dan motor sport terpampang jelas.
"Lo gabung ke Black Ribal?!" seru Aura, suaranya naik satu oktaf.
"Apa urusan Lo?!" Aurell tidak berhenti mengunyah. Ia meletakkan garpunya pelan.
"Urusannya?" Aura mencondongkan tubuh. "Cowok gue polisi, Aurell. Dia lagi ngejar gangster yang bikin kacau Tangsel. Kalau lo ketangkep, nama keluarga ini hancur."
"Kita seumuran ya, lo cuma lebih tua dari gue tiga menit. Jadi, nggak usah sok ngatur," tangannya bergerak menghantam meja membuat cangkir teh Aura berdenting di atas tatakan. "Dan gue nggak peduli soal cowok lo!" sengit Aurell.
"Iya lo nggak peduli, tapi gue peduli! Gilang bahkan nggak tahu gue punya kembaran," debat Aura. "Semenjak lo kenal Aban dan geng motornya, lo bukan Aurell yang gue kenal!" Air mata mulai menggenang di mata Aura.
"Salah Lo sendiri nggak ngasih tau dia, itu bukan urusan gue!" balas Aurell, menyesap sisa kopinya. "Dan satu lagi! Lo nggak usah bahas dia atau geng motornya, lo nggak kenal sama mereka! Jangan ikut campur!"
"Lo kenapa sih, Rell?!" Aura berteriak.
"Bukan urusan lo! Udahlah, pagi-pagi bikin bad mood aja," sergah Aurell. Ia mengambil kunci motornya dan segera bergegas meninggalkan Aura yang kini duduk membeku di meja makan.
Aurora Pramadita dan Aurellia Pramadita saudara kembar identik. Aura menatap adiknya dengan mata yang selalu basah oleh kecemasan, tipikal anak yang hidupnya lurus di atas rel. Aurell membalasnya dengan tatapan dingin, tajam, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk nasihat keluarga
Aurell mengambil ponselnya yang berdering di saku jaket jeans-nya. Panggilan masuk dari Aban.
"Lo di mana?" tanya Aban lewat sambungan telepon.
"Di rumah, mau keluar, ada apa?" Aurell balik bertanya.
"Buruan ke markas, bos Renggo nunggu kita di markasnya. Dia bilang ada urusan penting," pinta Aban.
"Oke," sahut Aurell singkat. Ia memutus panggilan.
Aurell menuju garasi rumah dan menghampiri sepeda motor kesayangannya. Setelah mengenakan helm full face dan sarung tangan kulit, ia pergi meninggalkan rumahnya, menuju realitas kedua yang ia ciptakan.
Mesin motor Aurell meraung pelan saat keluar dari halaman rumah. Beberapa kali ia berpindah jalur, melewati deretan ruko, pasar yang mulai ramai, hingga memasuki ruas jalan yang semakin lengang menuju Serpong.
Di persimpangan, Aban sudah menunggu di atas motornya. Keduanya saling mengangguk, lalu memutar gas bersamaan. Dua motor melaju beriringan, meninggalkan keramaian kota menuju kawasan pasar Serpong.
Di ujung pasar, gudang beras dengan pintu besi setengah terbuka sudah menunggu. Asap rokok mengepul dari dalam, bercampur suara tawa laki-laki yang menggema di balik dinding seng.
Aban mematikan mesin motornya lebih dulu. Aurell melepas sarung tangan kulitnya perlahan sebelum mengikuti langkah Aban memasuki gudang.
Renggo menyambut kedatangan Aban dan Aurell, ditemani oleh lima letnan utamanya, Jon, Baron, Kuple, Jek, dan Entus.
Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di plafon gudang jatuh tepat di bahu lebar Renggo. Guratan tato tribal di lehernya seolah merayap hidup setiap kali otot rahangnya mengeras.
Renggo berdiri diam, namun udara di sekitarnya terasa berat, para ketua wilayah di ruangan itu secara tidak sadar menjaga jarak satu langkah lebih jauh.
Jek melangkah maju, pinggulnya berayun lentur, jemarinya yang lentik menyisir poni yang tidak ada. Ia mengibaskan tangannya ke udara, menyebarkan aroma parfum menyengat yang bertabrakan dengan bau oli di gudang.
"Gue ngundang lo berdua ke sini karena mau jadiin lo berdua ketua wilayah. Kita butuh ekspansi. Tapi sebelum itu, gue mau ngetes lo berdua," jelas Renggo.
"Tes gimana, Bos?" tanya Aban.