Jakarta, 12 Oktober 2008
Langit di atas bypass masih menyisakan sisa panas siang itu. Seragam putih yang kini berubah kelabu oleh debu dan keringat bergesekan di antara klakson kendaraan yang tertahan kemacetan. Rizal menarik napas, hidungnya menangkap bau aspal yang terbakar dan aroma menyengat dari gir motor yang baru saja menghantam pagar seng.
Ponsel Nokia berpindah tangan di bawah meja kelas, layar hijaunya menampilkan kalimat yang sama seperti yang diterima sejak siang.
Jam empat. PGA.
Di tengah jalan, barisan putih abu-abu menutup dua lajur sekaligus. Tubuh-tubuh saling dorong, sabuk terangkat, kayu patah berayun tanpa arah. Seseorang jatuh, diseret bangun lagi sebelum sempat benar-benar menyentuh aspal. Para pedagang kaki lima segera menarik terpal. Penumpang angkot menutup kaca jendela rapat-rapat sambil membuang muka.
"Alvita maju lagi!" Noval berteriak. Suaranya serak. Ia memutar sabuk sekolahnya, gesper besi beradu dengan udara, menciptakan bunyi siulan pendek.
Di sampingnya, Riki sedang menyeimbangkan langkah di atas separator jalan. Matanya liar, mencari celah di antara kerumunan siswa berseragam pramuka dari Alvita Jaya yang mulai merangsek. Rizal tidak berteriak. Ia hanya menggenggam sebilah kayu patahan kursi, matanya terkunci pada satu titik di depan.
Wiuuuu-
Suara sirene memotong teriakan provokasi. Dari kejauhan, lampu rotator biru memantul di kaca-kaca gedung perkantoran. Barisan putih abu-abu buyar ke segala arah.
"Polisi! Cabut!"
Riki meloncat dari separator, mendarat tepat di samping Noval. Mereka bertiga berlari menyelinap di sela-sela mobil yang berhenti total.
"Berhenti! Bubar kalian!" teriak seorang polisi, suaranya serak melawan deru panas.
"Tangkep kalau bisa, Pak!" tantang Rizal.
Ia menoleh ke kiri. Seorang tukang bakso sedang terpaku memegangi tiang gerobaknya, matanya nanar melihat keributan. Rizal tidak berhenti. Dengan satu gerakan sentak, ia merebut gagang gerobak itu.
"Pinjam, Pak!"
Gerobak didorong sekuat tenaga ke arah jalur motor yang sedang melaju kencang. Petugas trail itu mengerem mendadak. Ban depannya menghantam roda kayu gerobak. Bunyi dentang panci jatuh terdengar nyaring, disusul uap panas yang membubung saat kuah kaldu tumpah membasahi aspal dan sepatu boot petugas.
Rizal, Noval, dan Riki menghilang di balik gang sempit sebelum petugas itu sempat berdiri kembali.
Di dalam gang yang pengap oleh jemuran warga, ketiganya berhenti. Dada mereka naik turun cepat. Rizal menyandarkan punggung ke tembok bata yang dingin.
"Hampir aja... Untung ada tukang bakso tadi" Noval menyandarkan punggung ke tembok, mencoba mengatur napas.
"Gila lo, Zal. Gerobak orang itu," Riki terengah, tangannya memegang lutut.
Noval tertawa pendek, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor. "Tapi manjur. Sepatu polisinya pasti bau tetelan sekarang."
"Kalo bukan gue yang dorong tuh gerobak, udah pake baju oranye kita sekarang," sahut Rizal
Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku seragamnya yang lecek. Ia memantik api, menyesapnya dalam, lalu mengembuskan asap ke arah langit yang mulai jingga.