Bau solar yang pekat bercampur dengan aroma amis ikan busuk yang mengendap di genangan air dermaga. Kabut tipis menggantung di atas permukaan laut yang hitam pekat, hanya sesekali pecah oleh lampu sorot kapal nelayan yang bersandar.
Rizal, Noval, Riki, Gilang, Nadia, Novi, dan Chacha berdiri merapat di dekat pilar beton yang berlumut. Semuanya merapatkan jaket, tangan terbenam di saku. Angin laut subuh menyusup lewat celah jaket dan kerah kaos mereka, menembus pori-pori seragam santai yang mereka kenakan.
"Mana sih tour guide-nya? Katanya jam empat teng," Noval menggerutu. Ia menghentakkan kakinya ke aspal dermaga yang kasar, mencoba mengusir kantuk dan dingin yang mulai merayap ke tulang.
Gilang tidak menyahut. Ia bersandar pada pilar, matanya menatap lurus ke arah langit subuh yang masih gelap. Chacha berdiri di sampingnya, kepalanya tenggelam di dalam hoodie kebesaran milik kakaknya. Sesekali Chacha merapatkan pelukannya ke lengan Gilang.
Di sudut lain, Bahu Nadia naik turun. "Dingin banget, Zal. Jakarta nggak pernah sedingin ini," bisiknya, suaranya bergetar di ujung.
Rizal hanya melirik sekilas dari sudut matanya. "Siapa suruh pakai kaos tipis begitu. Centil sih lo," sahut Rizal menggeser posisi berdirinya mendekat ke depan Nadia.
"Nih, kalau berani macem-macem!" Nadia mengepalkan tangan ke arah Rizal, bibirnya menahan senyum tipis saat menyadari cowok itu kini berdiri kaku demi memblokir angin yang mengarah padanya.
"Berisik lo. Siapa juga yang mau sama lo. Gue cuma nggak mau repot kalau lo masuk angin di kapal," balas Rizal. Ia membuang muka ke arah tumpukan ban bekas di pinggir dermaga.
Tak lama, sosok kurus berjalan mendekat. Akew, sang pemandu, tiba tepat waktu. Setelah bicara sebentar dengan Gilang, Ia menarik napas pendek, lalu memberi isyarat ke arah sebuah kapal kayu yang mesinnya mulai menderu kasar, termasuk menyelundupkan kardus minuman berlogo lelaki tua berjenggot putih ke dalam kapal kayu biru tua.
Dua jam membelah ombak, mereka tiba di Pulau Tidung. Hari pertama diisi dengan tawa yang jarang mereka miliki di Jakarta. Ban sepeda berderit di atas jembatan kayu yang menghubungkan Tidung Besar dan Tidung Kecil. Deburan ombak di bawah mereka terdengar jernih, tanpa gangguan suara knalpot atau teriakan makian dari sekolah lawan.
Noval memimpin di depan, tertawa keras saat Riki mencoba melakukan freestyle dengan sepeda sewaannya. Di pantai, asap panggangan ikan mulai membubung tinggi, berbaur dengan aroma laut yang bersih dan hangat. Mereka snorkeling, tertawa saat air asin masuk ke hidung, dan makan barbeque di atas pasir putih dengan tangan telanjang yang berminyak.
Duar!
Kembang api meledak di langit, memantulkan warna merah dan hijau di permukaan laut yang tenang. Botol-botol minuman keras yang dibawa Akew sudah hampir kosong, berserakan di pasir. Suasana yang tadinya ceria perlahan melandai, tenggelam dalam efek alkohol yang mulai bekerja di kepala masing-masing.
Gilang duduk di atas batang pohon tumbang yang sebagian sudah terkubur pasir. Matanya menatap api unggun yang mulai mengecil, menyisakan bara yang sesekali meletup. Tiba-tiba, ia bicara. Suaranya berat, memecah kesunyian.
"Udah ganti tahun aja ya," ucap Gilang, suaranya serak.
"Kenapa? Lu berasa makin tua? Haha," Rizal tertawa.
Gilang menatap botol di tangannya. "Yang pasti bukan gue doang yang tua. Lu juga. Masih mau gini-gini aja hidup lu pada? Sekolah, tawuran, mabok. Terus apa?"
Riki mendengus. "Ya abis gimana, hidup kita emang cuma begini jalannya."
"Dulu gue pikir solidaritas itu segalanya. Sampai Chacha nangis di hari ulang tahunnya karena gue." Gilang berhenti minum, menatap botol kosong di tangannya.
"Masih nget alasan kenapa kita bisa kenal?" tanya Gilang.
Tak ada yang langsung menjawab. Api unggun berderak kecil di antara mereka.
"Gue nggak bakal lupa," sahut Rizal pelan.