SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #9

7. LANJUTIN HIDUP KALIAN

Bau karbol dan oli dingin menguap dari lantai beton bengkel Om Bewok. Matahari sore yang tajam menyelinap masuk melalui celah-celah seng, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah debu-debu halus yang menari di udara. Di atas meja kayu panjang yang permukaannya penuh noda oli hitam, sebuah ijazah SMA dalam map plastik biru diletakkan begitu saja, bersandingan dengan gelas kopi yang separuh isinya sudah mendingin.

Seremoni kelulusan tadi pagi hanya berlangsung dua jam di aula sekolah yang pengap. Tidak ada pesta, tidak ada konvoi motor yang berlebihan. Hanya beberapa lembar foto yang diambil dengan kamera ponsel resolusi rendah di depan spanduk kelulusan yang sudutnya sudah terkelupas.

Noval, Riki, Nadia, dan Novi duduk melingkar di atas kursi plastik yang kakinya tidak rata. Gilang berdiri di dekat pintu masuk, menyandarkan bahunya pada pilar besi sambil menatap aspal jalanan yang masih mengeluarkan uap panas.

Noval melepas dasinya dengan sentakan kecil, membiarkannya menggantung tidak rapi di leher kemejanya yang mulai basah oleh keringat. Ia menatap map ijazahnya sebentar, lalu beralih menatap Om Bewok yang sedang sibuk membersihkan busi motor di sudut lain.

"Gue ambil hukum," ucap Noval.

Kalimat itu jatuh begitu saja di tengah meja, tanpa pengantar, tanpa nada bangga. Ia tidak menatap siapa pun saat mengatakannya. Matanya hanya terpaku pada kalender dinding bergambar bengkel yang angkanya sudah lewat satu minggu.

"Pengacaranya Om Bewok yang bantuin Rizal," lanjut Noval pelan, suaranya hampir kalah oleh bunyi klakson Metro Mini di luar. "Gue rasa gue perlu tahu caranya bicara di depan hakim tanpa harus gemetar."

Riki mengangguk pelan. Ia tidak langsung menyahut. Tangannya sibuk memutar-mutar tutup botol minuman ringan yang sudah kosong.

"Gue palingan ikut dagang orang tua dulu di pasar," kata Riki. "Belajar dagang. Lumayan buat muter modal kecil-kecilan, jalani aja dulu yang ada di depan mata. Peluang biasanya nggak nunggu kita siap."

Nadia menatap Riki, lalu berpindah ke arah jalan raya. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. "Gue cari kerja. Praktis aja. Showroom motor di Ciputat butuh sales. Gue udah masukin lamaran kemarin. Besok mungkin mulai training."

"Gue juga," timpal Novi singkat. Ia tersenyum tipis ke arah Noval. "Mungkin di gerai kosmetik atau apa pun. Yang penting ada pemasukan dulu."

Keheningan kembali merayap, hanya diisi oleh suara radio milik Om Bewok yang memutar lagu pop.

"Jadi, lo semua udah punya rencana masing-masing ya," Gilang berjalan mendekat ke arah meja, meletakkan kunci motornya dengan bunyi klunting yang nyaring.

"Lo gimana?" tanya Noval

"Gue mau ngejar SKS, fokus skripsi trus lulus."

"udah?" kali ini Riki yang bertanya

"Lanjut pendidikan polisi," ucap Gilang.

Nadia menoleh cepat, bibirnya sempat terbuka lalu. menutup.

Om Bewok berhenti membersihkan busi. Ia mengelap tangannya yang hitam dengan kain majun yang kusam, lalu menatap Gilang lama, lalu mengangguk sekali.

Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil sewaan menuju Lapas. Di luar jendela, Jakarta tetap bergerak. Orang-orang menyeberang jalan, pedagang asongan mengetuk kaca mobil, dan baliho kampanye politik yang mulai memudar warnanya.

Lapas Salemba tampak seperti benteng abu-abu yang menolak cahaya. Aroma pengap tubuh manusia dan aroma pembersih lantai memenugi ruangan. Rizal muncul dari balik pintu besi yang berat.

Seragam biru tahanannya terlihat sedikit lebih besar. Rambutnya mulai tumbuh. Ia duduk di depan mereka, hanya dibatasi meja kayu lebar yang permukaannya sudah halus karena ribuan tangan yang pernah bersandar di sana.

"Lulus semua?" tanya Rizal. Suaranya serak.

Noval mengangguk, meletakkan tangannya di atas meja. "Lulus semua, Zal. Wisuda tadi pagi."

Lihat selengkapnya