SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #10

8. HOODIE HITAM

Bau pengap di ruang kunjungan Lapas Salemba tidak pernah berubah. Ia adalah campuran abadi antara keringat manusia, asap rokok kretek murah yang diembuskan diam-diam, dan sisa bau pembersih lantai bermutu rendah yang tidak pernah benar-benar bisa menghilangkan kuman yang menempel di sela-sela ubin yang retak.

Noval duduk di kursi plastik yang kaki-kakinya berderit setiap kali ia menggeser posisi. Tangannya menggenggam sebuah kantong plastik hitam berisi sebuah hoodie hitam polos berbahan katun tebal yang ia beli dengan menyisihkan uang makannya selama seminggu. Di sampingnya, Novi duduk tenang. Tangannya terlipat rapi di atas pangkuan, sesekali jemarinya merapikan ujung rambutnya yang tertiup angin dari kipas angin langit-langit yang berputar tersendat-sendat.

"Semester lima sekarang, Zal," ucap Noval. Suaranya datar, mencoba menembus keriuhan suara pengunjung lain yang saling tumpang tindih dengan teriakan petugas.

"Gue ambil Hukum Acara Pidana. Dosennya gila, namanya Pak Subroto. Kalau ngasih nilai kayak ngasih sedekah ke pengemis, pelit banget. Dia selalu bilang kalau hukum itu matematika sosial, satu ditambah satu harus dua. Tapi gue tahu, di lapangan, satu ditambah satu bisa jadi nol kalau lo nggak punya uang atau nama."

Rizal duduk di balik meja kayu yang permukaannya sudah halus karena gesekan ribuan tangan selama puluhan tahun. Tubuhnya kini terlihat lebih kokoh, bahunya lebih lebar, meski wajahnya semakin tirus dengan garis rahang yang menonjol tajam. Ia mengenakan seragam biru tahanan yang warna kerahnya sudah memudar menjadi abu-abu.

Rizal menatap Noval, Ia hanya mendengarkan.

"Gue belajar soal hak-hak tersangka. Soal bagaimana prosedur penangkapan yang benar menurut undang-undang," Noval melanjutkan, suaranya sedikit menurun satu oktav. "Tiap kali gue baca pasalnya di perpustakaan kampus yang dingin, gue inget hari itu. Gue inget gimana lo diborgol di depan kelas. Gue ngerasa banyak yang salah dari proses itu, Zal. Banyak celah yang harusnya bisa kita pakai buat tarik lo keluar. Tapi gue baru tahu teorinya sekarang, pas semuanya sudah terlambat dua tahun."

Rizal tetap diam. Ia hanya mengangguk kecil sekali.

Saat petugas berseragam cokelat di pojok ruangan memberikan isyarat dengan memukul meja, Noval menyodorkan kantong plastik itu melalui celah sempit di bawah pembatas.

"Ini buat lo. Kata Om Bewok, kalau malam di sini dinginnya bisa sampai ke tulang. Pakai ya, jangan cuma ditaruh di loker."

Rizal menerima kain tebal itu. Ia tidak langsung memakainya. Ia hanya memegang tekstur kainnya sebentar, merasakannya di ujung jari yang kasar karena sering menghantam karung pasir di sel olahraga, lalu melipatnya dengan sangat rapi di atas pangkuannya. Ia berdiri tanpa kata-kata, mengangguk singkat pada Novi.

***

Lampu neon dari showroom motor di pinggiran Ciputat memantul di atas aspal yang masih basah sisa hujan sore. Di samping pagar besi yang tinggi itu, sebuah gerobak angkringan dengan terpal biru berdiri tegak, melawan hembusan angin jalanan yang membawa debu. Asap dari tungku arang membubung tipis, membawa bau jahe bakar yang tajam dan manisnya gula batu yang mencair.

Riki mengelap permukaan meja kayu gerobaknya yang mulai berminyak dengan kain majun yang bersih. Tanpa bantuan Nadia yang bekerja sebagai sales counter paling vokal di showroom sebelah, ia tidak akan pernah mendapat izin dari pemilik ruko untuk membuka lapak di sini.

Riki sedang menuang air panas ke dalam gelas ketika suara sepatu hak Nadia berhenti di depan gerobaknya.

"Mas Riki, pengusaha sukses," sapa Nadia sambil menyandarkan siku ke meja gerobak.

"Mau minum apa?" tanya Riki tanpa menoleh.

"Bukan minum." Nadia meletakkan sebotol air mineral dingin di atas meja. "Nih."

"Lo tiap hari bawa beginian, Nad." ucap Riki melirik botol itu sebentar.

"Daripada lo pingsan dehidrasi."

"Gue baik-baik aja." Riki menggeser botol itu ke pinggir meja.

Nadia memandang sekeliling jalan sebentar. "Tadi tukang parkir itu lewat lagi?" bisik Nadia mencondongkan tubuhnya sedikit.

Lihat selengkapnya