SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #17

15. ABAN AURELL DAN RED VIPER

Sisa jelaga kembang api masih menggantung di langit Tangerang Selatan, namun bagi Iptu Gilang Kharisma, pergantian tahun hanyalah pergantian shift yang lebih sepi. Asap rokok berputar lambat, menabrak pendar dingin lampu neon yang berkedip pelan di ruang Reskrim Polres Tangsel. Di sudut meja, cangkir berisi sisa kopi hitam yang mendingin meninggalkan lingkaran noda pekat. Gilang menyandarkan punggungnya ke kursi besi yang berdecit.

Gilang menatap kalender di dinding yang penuh coretan spidol merah. Setiap bulan punya bekas lukanya sendiri; Maret adalah awal neraka saat Black Ribal dan Wild Liar mulai saling bantai. Disusul Juli yang hambar karena pertemuan dengan Riki dan Noval tak kunjung membuahkan hasil soal Rizal. Puncaknya September, saat strategi kejam Renggo menghancurkan Wild Liar di lima titik sekaligus. Hanya November yang memberinya napas saat kabar lamaran Noval dan kesuksesan Riki sampai ke telinganya. Dan Desember adalah bulan di mana takdir mempermainkannya lewat insiden Aura.

Gilang menegakkan duduknya, beralih ke papan investigasi di hadapannya. Tiga nama besar tertulis di sana.

Dari ketiga ketua geng, hanya Olay yang sudah diidentifikasi bentuk wajah dan fisiknya dari sebuah foto buram yang dia dapat dari laporan anak buahnya.

Pandangan Gilang terpaku pada catatan di bawah foto Renggo: catatan deskriptif yang ditulis Gilang dengan penekanan kuat: Tato tribal melingkari leher. Tiga anting perak di telinga kiri. Tubuh penuh jaringan parut. Karakter yang bangga memamerkan setiap kejahatan di kulitnya. Lalu, matanya tertuju pada kolom terakhir: KRUGGER. Kosong. Tidak ada sketsa, tidak ada ciri fisik, bahkan jenis kelaminnya pun masih ditandai dengan tanda tanya besar.

KRIET—

Engsel pintu yang haus pelumas memecah keheningan. Gilang tidak menoleh, ia hanya meraih puntung rokoknya. Seorang Bintara muda berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan seragam yang sedikit berantakan.

"Malam Ndan. Lapor ada info terbaru dari Black Ribal," lapor anak buah Gilang, berdiri tegak.

"Info apa?" tanya Gilang, langsung berdiri dari kursinya.

"Menurut info yang beredar, Black Ribal merekrut anggota baru dari geng motor. Dari info terbaru, malam ini akan ada pertemuan antara Black Ribal dan Red Viper di terminal terbengkalai di perbatasan Tangsel-Depok," jelas anak buahnya.

Gilang mengepalkan tangannya. "Kumpulkan anggota lain! Lapor ke Kabag Ops, minta back up! Dalam lima belas menit kita berangkat ke lokasi. Kita nggak bisa biarkan Black Ribal menambah anggota mereka," perintah Gilang.

"Siap Ndan."

Malam yang sama di tempat lain, di sebuah terminal yang terbengkalai di perbatasan antara Kota Tangerang Selatan dan Depok, terlihat banyak anggota geng motor Red Viper berkumpul. Cahaya rembulan yang samar dan lampu merkuri yang berkedip-kedip menyorot puluhan sepeda motor sport yang terparkir sembarangan.

Diantara bangkai bus tua, mereka bertemu dengan Renggo ketua gangster Black Ribal.

Aban menatap tumpukan bus tua di terminal itu seolah sedang memandang singgasana. Baginya, Black Ribal bukan sekadar sekutu, tapi kendaraan untuk memperluas kekuasaan Red Viper melampaui batas kota.

Satu minggu sebelum pergantian tahun, Aban mendatangi Renggo menawarkan dirinya menjadi anggota Black Ribal dengan catatan dia masih menjadi ketua dari Red Viper. Renggo yang mendapat tawaran tersebut tidak langsung menyetujui. Dia meminta waktu untuk memikirkan tawaran itu, dan Aban memberinya waktu seminggu.

Malam itu menjadi pertemuan Renggo dan Aban yang kedua. Renggo yang melihat banyaknya anggota The Red Viper cukup terkesan pada Aban. Ratusan motor berjejer. Tak salah jika Renggo menerima Aban sebagai anggotanya. Dengan adanya Aban, Renggo yakin bisa melebarkan sayap The Black Ribal ke kota lain.

"Gua denger wakil lo cewek?" tanya Renggo, menaikkan alisnya.

"Ternyata waktu seminggu yang gua kasih itu lo pake buat nyelidikin gue ya?" Aban balik bertanya.

"Gue butuh alesan yang cukup buat nerima lo," sahut Renggo, tak mengelak tebakan Aban.

"Dan alasan itu udah lebih dari cukup?" tanya Aban lagi.

Lihat selengkapnya