Lebih dari satu bulan setelah peristiwa pemerkosaan Caca, ketua mereka, Olay, menjadi sasaran utama. Dendam Gilang bukan lagi rahasia di jalanan. Di bawah tekanan seragam polisi dan gempuran Black Ribal dan Red Viper, wilayah Wild Liar terus mengerut seperti kulit yang terbakar.
Di lingkarannya, Olay meningkatkan pengawalan pribadinya yang semula hanya dua orang menjadi empat orang, untuk mengantisipasi penyergapan atau percobaan pembunuhan yang datang dari berbagai arah.
"Anjing!" Olay melempar gelas kaca yang dia genggam, menghantam dinding semen gudang markasnya. Suara pecahan kaca itu memantul di ruangan yang kotor. Wajahnya dipenuhi keringat dan kemarahan setelah mendengar laporan: dua area di wilayahnya lepas dari genggamannya. Satu area karena penyerbuan Gilang, dan satu area lagi karena gempuran Black Ribal.
"Tenang, Bos. Kita cari cara buat ngerebut wilayah kita lagi," ucap Obi, pengawal berambut gimbal yang tampak paling tenang, mencoba menenangkan Olay.
"Gimana gua bisa tenang?! Area gua hilang dua biji!" bentak Olay, urat lehernya menonjol.
"Kalau Bos nggak tenang, Bos nggak bisa mikirin rencana buat ngerebut wilayah kita lagi," timpal Beler, pengawalnya yang lain. Beler kini lebih pendiam sejak peristiwa di club tempo hari.
"Persetan sama rencana! Gua pengen tuh Kanit sama Renggo mati!" sungut Olay, meninju meja kayu di depannya.
"Gimana kita bisa matiin itu dua orang, Bos, kalau Bos masih emosi. Kita harus punya rencana, Bos," sahut Obi, mempertahankan logikanya.
"Gua nggak mau tahu! Lu berempat harus cari cara buat ngerebut wilayah gua lagi!" Wajah Olay semakin memerah karena emosi dan frustrasi.
Dari balik bayangan hitam di sudut ruangan yang gelap, muncul seseorang.
"Gua kira lu udah pinter buat ngurus ini geng. Ternyata lu masih bego," ejek lelaki itu, suaranya dalam dan berat.
"Siapa yang berani ngomong gitu?! Cari mati lu!" sentak Olay.
"Gua! Lu berani matiin gua?!"
Gelas yang baru saja Olay angkat bergetar hebat di jemarinya, sisa minuman di dalamnya tumpah membasahi celananya yang kotor. Semua teriakan dan kemarahan yang memenuhi gudang mendadak menguap, digantikan suara napas Olay yang pendek dan berat.
"Bang Ajat!" seru Olay.
"Ma- Ma... Maafin ane, Bang," Olay menundukkan kepala begitu dalam hingga dagunya menyentuh dada.
"Dasar goblog! Kalau lu sange tuh nyewa jabl*y, bukan perkosa anak orang, tolol!" bentak Bang Ajat, menunjuk wajah Olay dengan jari telunjuk penuh bekas luka.
"A- Ane kelepasan, Bang."