Jalanan Tangerang Selatan mendadak lengang. Udara malam yang lembap bercampur uap bensin dingin melingkupi gerbang luar gudang Serpong.
Satu per satu lampu utama motor menyala serentak, menembus kegelapan. Raungan puluhan knalpok bergema memekakkan telinga, menggetarkan kaca-kasa jendela ruko di sepanjang koridor jalan.
Renggo berdiri di samping motornya, kedua tangan tenggelam di saku hoodie hitam. Matanya menatap gelombang pasukan yang mulai bergerak melintas di depannya.
Di belakang bengkel bubut tua di Pamulang, lampu gantung redup menyorot dua anggota Wild Liar yang sedang melempar kartu domino ke atas peti kayu. Dari dalam gudang, dentum musik dangdut koplo terdengar samar.
Aurell menghentikan motornya tiga puluh meter di balik rimbun pohon kedondong. Ia mengepalkan tangan kirinya ke udara.
Mesin-mesin motor di belakangnya mati total..
"Masuk sekarang, Rell?" bisik anak buah di sebelahnya, jemarinya meremas gagang pipa besi.
Aurell menatap dua penjaga di depan pintu lewat celah daun. "Belum."
Tangannya terulur, menunjuk dua orang yang sedang tertawa di atas peti. "Yang itu dulu."
Aurell mengambil baut kecil dari saku jaketnya. Baut itu meluncur pelan menghantam kaleng bekas di sisi kiri gudang.
TING.
Dua penjaga menoleh bersamaan ke arah suara. Aurell sudah berdiri di belakang mereka.
Laju motor Aban menyusuri jalan Ciputat.
Tangannya terangkat melingkar, mencabut helm dari kepalanya, lalu melemparkan ke arah gerbang gudang Wild Liar.
Helm Aban menghantam tepat di tengah wajah penjaga pintu. Darah menyembur dari Hidung pria itu.
Aban melompat dari jok motornya yang masih meluncur, tertawa melengking memecah malam. "Bangun! Rumah kebakaran!"
Tinju kanan Aban meluncur menghantam rahang penjaga kedua sebelum pria itu sempat mencabut celuritnya.
Di seberang bangunan dua lantai berdinding bata merah tanpa cat di Serpong, Jon melangkah turun dari motornya. Ia menyalakan batang rokok tanpa terburu-buru. Matanya menyapu setiap celah ventilasi dan pintu keluar-masuk gang.
"Empat orang muter ke belakang," Jon menghembuskan asap tipis. "Dua di lorong kiri. Dua di kanan."
Anak-anak Black Ribal di belakangnya merapat tanpa bersuara.
Jon mengetuk ujung rokoknya ke tembok. "Sisanya ikut gue."
Pasukan Jon menyusup masuk ke dalam remang lorong bagai bayangan yang tak terlihat.
Markas Wild Liar Serpong Utara tertutup rapat oleh rolling door besi.
Baron membungkuk, mengangkat balok kayu sisa tiang listrik sepanjang dua meter dengan kedua tangannya.
BRAAAKK!!
Lembaran besi rolling door penyok ke dalam, lengkingan logam tertekuk memekakkan telinga. Baron menarik balik balok kayu itu, lalu mengayunkannya sekali lagi dengan tenaga penuh dari bahunya.
BAM!
Engsel bawah jebol. Debu semen membumbung tinggi.
Baron melemparkan balok kayu ke jalanan, menatap ke dalam lubang besi yang hancur. "Keluar. Atau gue yang masuk."
Musik dangdut masih berdentum kencang dari speaker rakitan di dalam pos parkir Pondok Aren Barat. Lima anggota Wild Liar menuangkan ciu ke dalam gelas plastik.