WIU-WIU-WIU!
Raungan sirine polisi memecah malam Pamulang. Cahaya kilat merah-biru dari rotator mobil patroli memantul di atas kaca jendela bengkel bubut. Dari balik pengeras suara megafon berdersek statis, suara petugas terdengar menggelegar dari ujung lorong.
"Kepolisian Republik Indonesia! Seluruh akses tempat ini sudah dikepung! Lemparlan senjata dan keluar satu per satu dengan tangan di atas kepala!"
Di dalam gudang, Aurell menarik kencang tali nilon yang mengikat kedua tangan seorang anggota Wild Liar. Pria berwajah babak belur di bawahnya terkekeh pelan, memuntahkan sisa darah kental ke lantai semen.
"Mampus lu, Anjing..." tatapannya menyalang penuh dendam. "Brimob masuk... habis lu semua."
Aurell menghentikan gerakan tangannya. Ia menengok, menatap pria itu dari balik kerah jaket kulitnya. "Kalau polisi masuk..." suara Aurell dingin, nyaris tak beriak, "...lu pikir lu dibebasin? Lu juga masuk penjara, Goblok."
Tawa pria Wild Liar itu terhenti.
Di mulut gang samping, dua anggota Black Ribal berlari mundur, napas terengah-engah, menghantam punggung mereka ke pintu yang terkunci.
"Rell! Pintu depan keturup dua truk Sabhara!" teriak salah satu dari mereka. "Lorong belakang penuh intel! Kita nggak mungkin keluar!"
Desis radio HT dari luar makin merapat. Langkah sepatu bot puluhan personel kepolisian berderap kencang menapak di atas tanah, mengunci setiap celah pelarian.
Aurell melangkah maju, ia menarik belati bermata dua dari sarungnya, lalu mengayunkannya sekali tebas.
Tali nilon yang mengikat tiga tawanan Wild Liar terputus seketika.
Tiga anggota Wild Liar yang terkapar di lantai terhenyak, meraba pergelangan tangan mereka yang memerah. "Ngapain lu?"
Ujung sepatu Aurell menggeser dua bilah golok yang tergeletak di atas tanah, mendorongnya tepat ke hadapan anggota Wild Liar.
"Kalau polisi masuk... mereka nggak bakal nanya lu Wild Liar apa Black Ribal," Aurell menatap lurus ke arah pintu besi utama yang mulai digedor kencang dari luar. "Mereka sikat semuanya tanpa sisa."
Ia melirik ke arah anggota Black Ribal, memberi isyarat melepas anggota Wild Liar yang lain.
"Mau berantem sama gua, ntar habis ini," Aurell menoleh ke tiga orang yang ia lepas ikatannya. "Sekarang lawan polisi dulu!"
Tiga anggota Wild Liar itu saling menatap sejenak, lalu menoleh ke anggota Wild Liar lain. Mereka mengangguk, lalu mencengkeram gagang golok masing-masing.
Di dalam ruko bata merah Serpong, Jon berdiri di balik meja kayu tebal yang terguling. Seluruh anggota Wild Liar yang terluka berdiri gemetar di samping anak buah Black Ribal.
Jon menyalakan batang rokoknya dengan pemantik api gas, apinya menerangi kegelapan.
"Kalau kita saling bunuh sekarang..." Jon menghembuskan asap tipis ke udara, "...yang ketawa polisi. Pegang pintu belakang, jaga benteng bareng anak-anak gua!"
Para anggota Wild Liar mengangguk, menyambar pipa besi di dekat kaki mereka.
BAM! BAM!
Dinding rolling door Serpong Utara digedor memakai tameng dari luar.
Baron membungkuk, merogoh celurit dari atas tanah, lalu melemparkannya tepat ke depan dada ketua wilayah Wild Liar yang baru saja ia robohkan lima menit lalu.
"Pake," kata Baron pendek.