September 2013
Kabut subuh menggantung di atas garis aspal jalanan utama Tangerang Selatan. Bau diesel bercampur tanah basah menyengat hidung, beradu dengan aroma amis air es dari bak-bak ikan pasar pagi. Roda-roda kayu gerobak sayur mencengkeram semen basah, menghasilkan derit kaku di antara raungan mesin truk engkel yang baru membongkar muatan.
Empat bulan sejak Rembo terkapar kaku di selokan perbatasan, suasana pasar tak lagi sama. Di sudut kedai kopi yang baru mengepulkan uap, dua kuli panggul berbisik kaku di atas cangkir kaleng.
"Dengar-dengar yang pegang ruko timur sekarang anak muda," kata kuli berkaos rombeng. Tangannya mematahkan tempe goreng yang masih panas.
"Yang mukanya sobek sebelah?" timpal temannya, mata melirik ke arah gang ruko.
"Iya. Namanya Renggo."
Di meja kayu di lorong pasar kering, Jon duduk dengan pena di sela jemarinya. Buku bersampul tebal terbuka di depannya. Satu per satu pedagang melangkah mendekat. Pedagang beras menaruh amplop cokelat di atas kayu meja, menunduk singkat, lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.
Jon menghitung lembaran uang di dalam amplop, lalu memberi tanda centang di bukunya.
Di balik tiang semen ruko, Renggo berdiri membisu. Tangannya tenggelam di saku hoodie tebalnya. Matanya mengawasi setiap pergerakan tangan Jon.
Jon mendongak, menutup buku ekspedisinya. "Pasar timur udah masuk."
"Catat," sahut Renggo pelan. Suaranya datar.
Renggo mengangguk singkat, lalu meninggalkan bayangan tiang semen. Ia melangkah menyusuri gang sempit di tengah keramaian pasar. Ia berjalan sendirian tanpa rombongan, tanpa ayunan balok besi di tangan.
Seorang jagal berbadan tegap mengayunkan pisau pemotong tulang menghentikan tangannya di udara. Pisau raksasa tertahan beberapa sentimeter dari kayu talenan. Matanya mengunci ke bekas luka jahitan yang melintang di pelipis Renggo.
Dua anak kecil yang sedang menggiring bola plastik di lorong toko berhenti berlari, menarik bola mereka ke dalam pelukan.
Seorang kakek penjual sayur mendorong gerobak kayu perlahan menggeser rodanya sepuluh sentimeter ke tepi lorong, melapangkan jalan. Kakek itu menundukkan kepalanya tipis saat Renggo melintas di depannya.
Di lantai dua tempat perjudian, asap rokok mengendap tebal di bawah cahaya lampu neon. Dadu-dadu kocok beradu nyaring di atas meja karpet hijau.
Pukul sebelas malam. Pemilik tempat judi berdiri di balik meja kasir, melirik ke sudut ruangan.
Renggo duduk sendirian. Ia tidak menyentuh dadu. Ia tidak meminum teh yang disajikan. Asbak di depannya perlahan penuh. Teh di meja berubah dingin. Jam dinding bergeser dari sebelas menuju satu dini hari. Ia duduk membisu, menatap lurus ke arah dada pemilik tempat judi.
Pukul satu dini hari. Keheningan yang menekan di sudut itu membuat para pemain satu per satu meletakkan kartu mereka, menyelinap keluar.
Pemilik tempat judi menyapu keringat dingin di dahinya, lalu melangkah mendekat.
"Bang... besok aja ya jatah mingguannya?" bisik pria itu, jemarinya gemetar di tepi meja.
Renggo mendongak pelan. "Besok tempat ini tutup."
Pemilik tempat itu terkekeh.
Keesokan paginya. Gembok besi pintu utama tempat judi itu hancur terbelah. Pintu kayu terdorong miring. Di atas undakan semen pintu masuk, noda darah pekat yang mengering meninggalkan bekas seretan tebal menuju selokan. Kartu-kartu domino berhamburan kotor tercampur darah basah. Tak ada lagi suara kocokan dadu dari dalam.
Jon berdiri di tepi jalan, menatap noda darah di atas pintu tempat judi yang sudah digembok rantai dari luar. Ia menyalakan rokoknya, melirik Renggo membasuh jemarinya dengan air kran umum di pinggir ruko.