Sore turun pelan di Pasar Serpong. Bau ikan asin, sayur basah, dan asap gorengan bercampur di udara yang padat. Orang-orang lalu-lalang membawa kantong plastik, suara tawar-menawar saling tumpang tindih.
Di tengah lorong, seorang lelaki sempoyongan berhenti. Matanya merah, kemejanya terbuka setengah. Botol kosong masih tergenggam di tangannya.
"REMBO!" teriaknya, suaranya pecah.
Beberapa pedagang melirik sekilas, lalu kembali ke aktivitas masing-masing.
"REMBO! KELUAR LO!"
Ia berjalan tak lurus, menabrak bahu pembeli, menyenggol ember, lalu tertawa sendiri. Sampai kakinya menendang meja lapak sayur. Meja itu terbalik, tomat dan cabai berserakan ke lantai.
"GUA CARI LO!" teriaknya lagi, kali ini sambil mengangkat botol dan melemparkannya ke arah tumpukan keranjang.
Botol pecah. Seorang ibu menjerit, beberapa pedagang saling pandang, lalu salah satu dari mereka menjauh meraih ponsel di laci meja dan menelpon seseorang.
Jon datang tidak lama setelah itu. Langkahnya tenang menembus kerumunan yang mulai memberi jalan. Dua orang di belakangnya mengikuti tanpa banyak bicara. Lelaki mabuk itu masih berdiri di tengah kekacauan kecil yang ia buat.
"Rembo!" teriaknya lagi.
Jon berhenti beberapa langkah di depannya. Matanya menyipit, mengenali wajah lelaki mabuk itu.
"Udah nggak ada Rembo di sini," ucap Jon, suaranya datar. "Pasar ini bukan punya dia lagi."
"Lo siapa?" Lelaki itu menoleh. Menatap Jon dari atas ke bawah.alu tertawa pendek.
Jon tidak menjawab. Hanya berdiri.
"Panggil dia!" bentak lelaki itu lagi, mendekat setengah langkah. "Gua mau beresin urusan!"
"Pulang aja," Jon menghela napas tipis. "Lo lagi nggak sadar." katanya pelan.
"Lu ngeremehin gua?" Wajah lelaki itu mengeras. Rahangnya mengatup.
Ia langsung melangkah maju, mendorong bahu Jon. Jon tidak bergeser. Ia hanya menoleh sedikit ke samping. Dua orang di belakangnya bergerak.
Pukulan pertama mendarat di perut. Tubuh lelaki itu langsung membungkuk. Belum sempat mengangkat kepala, tendangan menyapu kakinya dari samping. Ia jatuh keras ke lantai. Pukulan demi pukulan turun tanpa suara teriakan berlebihan. Terukur. Cepat. Sampai tubuh itu tidak lagi bergerak.
Jon menatap lelaki mabuk itu beberapa detik. "Angkat." ucapnya kemudian.
Lampu bohlam gantung berayun sedikit. Cahaya kuningnya jatuh tepat ke tubuh yang terikat di kursi. Kepalanya tertunduk. Darah mengering di sudut bibirnya.
Pintu berderit. Langkah sepatu Renggo masuk pelan. Jon berdiri sedikit di belakangnya.
"Yang tadi," kata Jon singkat.
Renggo memperhatikan bentuk tubuh itu, cara napasnya naik turun, lalu ia berjalan mendekat. Tangannya menarik kain yang menutup wajah lelaki itu.
"...Dia." Matanya berhenti di wajah itu. Napasnya tertahan
Tengah malam. Di dalam markas, botol anggur terbuka di atas meja. Renggo duduk bersandar, gelas di tangannya. Jon dan Baron di depannya.
Langkah cepat masuk dari pintu samping. "Bang, yang tadi udah sadar."
Renggo meletakkan gelasnya, ia berdiri. Jon dan Baron ikut bangkit, mengikuti dari belakang.
Di ruangan sebelah, lampu bohlam menggantung rendah. Lelaki itu masih terikat di kursi. Kepalanya terangkat sedikit.
Renggo masuk, berhenti di belakangnya.
"Gue dengar lo nyari gue, Bi,"
Lelaki itu menoleh pelan. Matanya menyipit, mencoba fokus. Pandangannya berhenti di wajah Renggo.
"...Zal?" tanya Robi.
Renggo melangkah ke depan, cahaya lampu mengenai wajahnya.
"Lo Rizal, kan?" tanya Robi lagi, suaranya berubah. Matanya turun ke bekas luka sayatan panjang dari telinga kiri sampai ke rahang. Ia menatap wajah sahabatnya saat masih SMA lebih lama.
"Iya," jawab Renggo datar. "Kaget?"
"Gue nggak nyari lo," ucap lelaki Robi. "Gue nyari Rembo."
"Rembo udah mati," jawab Renggo. "Pasar sekarang punya gue."
Robi menggeleng pelan. "Nggak mungkin... gue yang harus matiin dia."