SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #47

46. PERTEMUAN TAK TERDUGA

Dua bulan setelah penyerangan terhadap Wild Liar yang merenggut nyawa Olay sekaligus menelan korban di pihak Black Ribal, Renggo menarik seluruh anak buahnya kembali ke wilayah masing-masing. Jalanan mulai tenang. Namun, di balik ketenangan itu, uang terus mengalir.

Di Pasar Setu, Jon berdiri di depan kios daging, memperhatikan para pedagang yang satu per satu menyelipkan amplop cokelat ke dalam tas selempangnya. Tak jauh dari sana, dua anak buahnya mengusir tiga pemuda mabuk yang memalak pembeli sebelum pasar kembali ramai seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Di Serpong Utara, Robi menggantikan Baron sementara waktu. Ia duduk di warung kopi pinggir jalan sambil mengawasi arena judi kartu di ruko belakang yang tak pernah benar-benar tutup. Seorang bandar menghitung tumpukan uang, lalu menyerahkan bagian Black Ribal tanpa diminta.

Di Pondok Aren, Jek dan Sanyo berdiri di depan sebuah rumah kontrakan yang jendelanya selalu tertutup. Satu per satu pembeli datang hanya beberapa menit, keluar dengan plastik klip kecil yang cepat menghilang ke dalam saku. Di meja ruang tengah, timbangan digital terus menyala sejak sore.

Di Ciputat, Aban berjalan pelan melewati deretan kios elektronik. Di belakang salah satu toko, seorang pria membuka tas berisi beberapa bungkus ganja kering dan paket sabu yang langsung berpindah tangan setelah uang dihitung. Aban hanya memastikan transaksi berjalan tanpa gangguan sebelum melangkah pergi.

Di Pamulang, Aurell duduk menyilangkan kaki di ruang kasir sebuah kafe yang berubah hidup saat malam tiba. Musik karaoke mengalun dari lantai dua. Beberapa pria mabuk keluar masuk ruang VIP, sementara dua anggota Black Ribal berjaga di pintu, memastikan tak ada keributan dan setiap tamu membayar sesuai tarif.

Sementara itu, di belakang gudang beras Pasar Serpong, Renggo berdiri di lantai dua yang menghadap langsung ke pasar. Matanya menyapu puluhan kios di bawah. Di belakangnya, Jon meletakkan buku setoran di atas meja.

"Semua wilayah jalan, Bos."

Renggo menutup buku itu tanpa menghitung isinya. "Jaga aja. Jangan rakus."

Ia meraih jaket jeans biru, menyambar kunci mobil di atas meja, lalu melangkah keluar.

Di bawah sana, pasar kembali terdengar riuh. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, anak-anak berlarian di lorong sempit, pembeli terus datang silih berganti.

Di mata warga, kota itu terlihat kembali normal.

Pukul 15:00. Aurell menarik ritsleting jaket denim. Kaus hitam dan celana jeans ketat melekat di tubuhnya. Rambut ikalnya jatuh di bahu. Ia melangkah, ujung sneakers putihnya mengetuk lantai kayu.

Aurell meletakkan sisir di meja. Ponsel di atas kasur bergetar. Ia menatap deretan angka di layar ponsel sebelum menekan tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga.

"Ada kabar terbaru?" tanya Gilang di seberang telepon.

"Cuma dagang di wilayahnya. Nggak ada pergerakan perang," Aurell merendahkan suaranya.

"Oke, gue tunggu kabar selanjutnya," balas Gilang.

"Iya," sahut Aurell singkat, mematikan sambungan.

Layar meredup, lalu menyala lagi dengan notifikasi baru.

[R. TBR - Sabtu 15:03]

• gue di depan

[Aurell - Sabtu 15:03]

R tunggu

Aurell melangkah keluar. Pintu kamar tertutup pelan.

"Mau ke mana lo?" Aura menoleh dari televisi di ruang tengah.

Aurell terus melangkah melewati sofa tanpa menghentikan langkah kakinya. "Bukan urusan lo!"

Pintu depan terbuka. Di balik pagar, sebuah Pick up dobel kabin hitam terparkir dengan mesin yang menderu rendah. Aurell membuka pintu kabin, lalu duduk di kursi penumpang. Di sampingnya, Renggo memegang kemudi.

Aurell menelusuri interior kabin. "Mobil baru nih."

"Seken," sahut Renggo datar.

Ujung jari Aurell mengusap dashboard. "Bersih juga."

"Lo kan cerewet."

Aurell melirik sinis. "Gue belum ngomong apa-apa."

"Makanya gue bersihin dulu sebelum jemput lo."

Aurell terdiam sesaat, lalu menyembunyikan senyumnya sambil membuka dashboard.

Lihat selengkapnya